"Ata!"
"Ya?"
"Soal beasiswa itu.."
"Kenapa, Na?"
"Akhirnya gimana, deh? Lo udah bilang ke Mami Papi?"
Agatha menggeleng, "Gak usah deh. Mending gue tutup rapat-rapat aja. Kayaknya takdir lebih milih gue buat kuliah didalam negeri, hehe."
Aruna mengangguk-angguk mengerti. "Udah bilang ke Pak Ilham?"
"Udah, katanya gak apa-apa. Dia mau lempar ke yang lain aja. Ke yang lebih berpotensi, sama berkeinginan kuat." jelas Agatha.
Mendengar perkataan Agatha yang lesu, Aruna ikut sedih. Rasanya sudah banyak sekali mimpi yang Agatha lepas. Tetapi pilihan yang lainnya pun tidak kalah baik.
Memang, dalam hidup ini kita malah sering dilema memilih hal yang baik atau yang baik pula. Makin sama kualitasnya, makin sulit untuk memilih.
"Semoga Lo keterima di pilihan Lo kali ini, Ta." ujar Aruna tulus.
Agatha mengangguk sambil tersenyum. "Lo juga, Na. Nanti kita kuliah bareng, ya."
"Pasti!"
Sedang asyik mengobrol, Agas datang dengan rusuhnya.
"WOI!" serunya heboh.
"Apaan?"
"Kalingga putus sama pacarnya anjir!"
"HAH!"
Agas mengangguk bersungguh-sungguh. "Beneran! Gue tadi kan main sama dia. Terus dia cerita, di selingkuhin anjir sama ceweknya!" Seru Agas menggebu-gebu.
"Ih serius?" tanya Aruna masih sedikit tidak percaya.
Agatha tertawa lantas mencubit hidung Aruna gemas. "Beneran, Na! Maju gih! Mumpung udah kosong tuh tempatnya."
Aruna menutup mulutnya dramatis. "Gue masih gak percaya. Padahal mereka keliatannya mesra amat di sg nya!"
"Elah, semua orang bisa kali bohongin publik! Padahal didalemnya gak baik-baik aja. Gak semua hal bisa mereka tunjukin ke publik, Runa sayang." ujar Agas gemas.
Ia lalu mendorong-dorong pundak Aruna. "Coba chat gih! Lo tau gak apa hal yang paling dibutuhkan cowok setelah putus? Ya! Penghibur!"
Aruna memasang raut wajah kesal. Lantas mendorong kepala Agas keras. "Terus menurut Lo gue ini wanita penghibur gitu?" tanyanya dengan nada bicara yang tinggi.
"Eh bukan gitu maksudnya!"
Agatha sudah tertawa terbahak-bahak. Lucu sekali rasanya. "Mana coba ambil dulu ponsel Lo!"
Aruna segera mengambil ponselnya. Lalu mengetikan nama kontak Kalingga sesuai perintah Agatha.
"Nah terus coba chat. Basa-basi aja kek. Tanyain udah belajar apa belum, terus tanyain soal yang menurut Lo susah gitu." saran Agatha yang sepenuhnya dilakukan Aruna.
Namun saat Aruna hendak mengklik tombol kirim, layar ponselnya berubah hitam. Pertanda ada telepon masuk.
Ketiganya langsung melotot begitu nama Kalingga muncul di layar.
"Anjir anjrit! Ini gimana? Angkat gak woi?" Aruna malah jadi heboh sendiri.
"Angkat bego!" teriak Agas panik.
Namun Agatha berpendapat lain, "Enggak! Jangan dulu, Na! Nanti disangkanya Lo emang nungguin!"
"Ih gue harus nurutin yang mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
Novela JuvenilSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
