07. Rumah Bunda

349 40 19
                                        

"Denger-denger ada yang baru aja jalan sama crushnya nih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Denger-denger ada yang baru aja jalan sama crushnya nih."

"Berisik!" seruan kesal langsung menyahut dari sebrang sana. Agas yang sedang santai menyeduh kopi tertawa kecil.

"Hah? Siapa yang jalan sama crushnya? Runa?" suara lain muncul setelah teleponnya tersambung.

"Ya siapa lagi?" kata Agas dengan tawa menyebalkannya.

"Heh! Diem Lo! Orang gue jalan sama Aren, kok!" bantah Aruna.

"Halah! gue tau kok Lo diboncengin Kalingga." celetuk Agas yang langsung disambut teriakan histeris Agatha. "ANJIR RUNAAAA KENAPA UDAH MAIN BONCENGAN AJA?"

"Heh! Asal Lo tau, ya. Gue tuh dipaksa--"

"Tapi seneng kan?" potong Agas.

Terdengar suara kekehan yang membuat Agas tertawa. "Ngaku kan Lo!"

"Udah ah gak usah bahas." kata Runa yang sudah terlanjur malu. "Mending sekarang bahas ini nih, dua hari lagi udah tahun baru, dan KALIAN BELUM PULANG? Mau pulang kapan anjir? Masa tega biarin gue tahun baruan sendiri disini?"

"Santai elah, gue sekarang lagi diperjalanan kok." sahut Agatha. Agas pun tak lama juga menyahut, "Gue juga besok udah pulang. Jadi keburu lah tahun baruan disana."

"Beneran?"

"Serius!"

"Perlu gue jemput ke stasiun gak, Ta?" tanya Aruna. Sambil terdengar pintu diketuk disebrang sana.

"Buka dulu, tuh. Mama kali." suruh Agas yang langsung dituruti Aruna. Tapi alangkah kagetnya Aruna saat melihat siapa yang datang.

"ATA?"

"Hehehehe."

Agas membelalakkan matanya kaget. "Hah? Ata? Sumpah?" katanya yang tentu tidak direspon keduanya.

"ANJIR LO DARI STASIUN LANGSUNG KESINI YA?"

Agas sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan nyaring Runa.

Agas bisa mendengar dua teman kecilnya itu sedang berbincang dengan sangat semangat sampai melupakan Agas yang masih terhubung dengan panggilan. Tak ingin mengganggu, Agas hendak mematikan teleponnya saja. Ngobrol-ngobrol nanti juga bisa.

Tapi saat hendak mematikan teleponnya, Eyangnya memanggil. Membuat Agas terburu-buru memasukan ponselnya kedalam saku hingga lupa mematikan teleponnya.

"Iya, eyang." Agas langsung menghampiri. Berjalan ke ruang tamu dimana semua keluarga sedang berkumpul. Mengobrol dari pagi-pagi buta sampai larut malam.

Three or NothingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang