Malam Minggu yang biasanya digunakan untuk menghabiskan waktu bersama kekasih, tidak berlaku bagi Agas. Malam ini, dia menghabiskan waktu bersama keluarganya, keluarga Agatha dan tentunya keluarga Aruna. Ya, hari ini jadwal rutin mereka untuk berkumpul. Sebab rasanya sudah lama sekali tidak bercengkrama.
Saat Agas tiba di rumah Aruna, Agatha sudah lebih dulu ada disana. Sedang mengambil beberapa sendok es buah dan memakannya.
Agas menepuk pundak Agatha menyapa. "Minum es terus, lagi flu padahal." komentarnya.
Agatha nyengir. Memang sih, ia sedang flu. Karena kemarin kehujanan sepertinya. Tetapi Agatha juga tidak dapat menolak sensasi menyegarkan dari es buah buatan Rania ini.
"Sekali-kali." jawab Agatha.
Agas merenyit, "Suara Lo udah bindeng gitu kaya ikan."
"Bandeng kali," koreksi Agatha.
"Iya itulah pokoknya. Eh si Runa kemana deh gak keliatan?" tanya Agas pada Agatha. Agatha mengendikan bahunya tidak tahu. "Eh iya juga, gak tau gue. Gue juga baru dateng kaya Lo, belum sempet ketemu Mama atau Papa buat nanyain. Mata gue pas datang langsung tertuju sama es buah ini." jelas Agatha.
Agas mengangguk-angguk mengerti. Ia kemudian meminta gelas. Ingin mencoba es buah buatan Rania ini.
"Eh Agas udah dateng." Rania datang dengan Luna. Keduanya kompak mengenakan dress merah muda. Sepertinya janjian.
"Bunda mu mana?" tanya Luna.
Agas menggelengkan kepalanya, "Bunda sama Naina enggak ikut. Cuman Agas sama Ayah doang yang kesini."
Ketiga perempuan itu menatapnya heran. "Kenapa?"
Agas mengendikan bahunya tidak tahu. "Mama sama Mami liat deh ekspresi wajah Ayah. Keliatannya aja males dateng kesini. Mungkin Bunda juga gitu."
Rania berdecak, "Mana bapa Lo?"
Agas menunjuk Ragas yang sedang bergabung dengan Arya dan Daniar mengobrol di ruang tamu. Entah sedang membicarakan apa. Rania segera saja menghampiri mereka.
"Gas, kenapa gak sama Nana? Gak ngajak ya Lo?" todong Rania langsung.
"Gak mau dia, Ran. Mana bisa gue paksa." kata Ragas segera setelah menghela napas panjang.
Luna menggelengkan kepalanya heran, "Kenapa deh. Dia masih ngerasa jauh kah sama kita? Padahal kita dulu kan satu SMA."
Daniar menjawab, "Udah lah gak apa-apa. Jangan dipaksa, yang bisa aja."
Agas dan Agatha kemudian bergabung. "Runa kemana deh? Kok belum keliatan."
"Runa ya?" Agatha dan Agas mengangguk. "Tadinya udah siap-siap sama bantuin Mama masak kok. Eh tiba-tiba ada yang jemput, cowok tau!" kata Rania.
"Dih anak Lo aja gak hadir tuh," cibir Ragas.
Daniar tertawa kecil, "Tadinya gue gak izinin itu. Cuman ya, anaknya mohon-mohon. Jadi gak tega mau ngelarang."
"Sama siapa sih Ma? Aren?" tanya Agas penasaran.
Rania menggeleng, "Bukan tuh, Mama juga gak kenal. Mukanya asing."
Agatha tiba-tiba kepikiran sesuatu. Ia mencari Poto seseorang didalam ponselnya. "Ini bukan, Ma?" tanya Agatha sambil menunjukan Poto Kalingga.
Rania langsung mengangguk, "Nah itu. Siapa tuh?"
Agatha menutup mulutnya dramatis, "Si Kalingga ini mah! Wah Aruna, udah main rahasia-rahasiaan ya Lo sama gue."
"Siapanya Runa sih itu, Ta?" tanya Daniar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three or Nothing
Teen FictionSemua orang juga tahu, di mana ada Agatha pasti ada Aruna dan Agas dibelakangnya. Di mana ada Aruna, pasti ada Agas dan Agatha disampingnya. Begitulah mereka, selalu bersama-sama di manapun mereka berada. Ketiganya mengukir kisah SMA sebagai siswa...
