27. Semoga beruntung!

235 39 0
                                        

Pagi ini Agatha bangun kesiangan. Semalam ia baru saja menyelesaikan tugas. Sampai pukul satu malam setelah itu barulah Agatha bisa tidur nyenyak.

Tugas yang begitu sulit bagi Agatha. Menulis sebuah drama. Agatha benar-benar tidak ahli dalam hal itu. Kalau Aruna sih tidka perlu ditanya, ia bahkan bisa menyelesaikannya dalam waktu stau jam saja. Gadis itu tidur duluan, sedangkan Agatha terus mengerjakan tugasnya hingga dini hari.

"Ata, gak akan sekolah?" suara hangat Luna menyapa ditengah sibuknya Agatha mengancingkan seragamnya.

"Sekolah, Mi. Maaf Ata bangun kesiangan."

Luna menggeleng, "Gak apa-apa. Kamu lagi bebas kan?"

"Tetep aja harus masuk tepat waktu, Mi."

Luna mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Terus mau berangkat sama siapa? Papi kan udah berangkat tadi shubuh. Sama Agas? Apa Runa?"

Agatha langsung saja menghentikan aktivitasnya. Benar juga. Kalau memesan taksi atau ojek online rasanya tidak memungkinkan. Nantinya malah makin kesiangan.

"Mami coba telepon Agas aja kali ya?"

Agatha mengangguk, "Boleh deh Mi. Kayaknya Agas juga belum berangkat."

Luna langsung saja menelepon Agas. Tak berselang lama telepon tersambung.

"Halo, Mi."

"Agas, kamu udah berangkat belum?"

Terdengar samar-samar suara Aruna di sebrang sana. "Udah Mi, baru aja sampai gerbang."

"Yahh,"

"Emangnya kenapa, Mi? Ada masalah?"

Luna mengangguk, "Iya ini Ata bangun kesiangan. Tadinya kalau kamu belum berangkat Mami mau minta tolong jemput."

"Yaudah kalau begitu Agas sekarang jemput Ata deh, ke rumah." sahut Agas langsung.

"Gak usah!" Seru Agatha mendengar perkataan Agas. Ia langsung merebut ponsel Luna dan berbicara, "Gue naik taksi aja deh kalau gitu. Dari pada Lo bolak-balik, Gas." katanya.

"Enggak apa-apa kok. Santai aja kali, gue otw ya."

Agatha segera berbicara sebelum Agas menutup teleponnya. "Dibilangin gak usah!"

"Mau sama Aren aja gak, Ta? Kebetulan dia juga baru bangun tuh." Kalimat Aruna bagaikan es buah ditengah gurun. Begitu menyegarkan. Mendengarnya membuat Agatha tersenyum lebar.

"Bisa emang?"

"Bisa lah, gampang. Gue yang nyuruh ini." kata Aruna sombong. Agatha tertawa kecil, "Serius nih?"

"Iya. Kalau mau gue bilangin sekarang nih."

"Yaudah boleh," kata Agatha. "Tapi jangan bilang gue yang mau ya, Na."

Aruna tertawa kecil, "Siap!"

Agatha langsung menutup teleponnya. Ia kemudian langsung beradu tatap dengan sang ibu. Luna senyum-senyum.

"Oh jadi kamu tuh naksir sepupunya Runa?"

Agatha salah tingkah, "Hehe ketauan ya, Mi?"

Luna mengangguk, "Banget. Tapi gak apa-apa. Kayaknya baik kok dia."

Agatha tersenyum. Memang baik sih, tapi sifat menyebalkannya lebih dominan.





•333•




Agatha menerima pesan singkat dari Aruna bahwa Aren bersedia. Agatha disuruh menunggu di depan rumah. Agatha langsung menurut.

Three or NothingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang