Nineteen

163 16 1
                                        

Angin berhembus begitu kencang, mendinginkan udara panas di siang hari tadi. Suasana di taman rumah sakit dipenuhi oleh anak kecil yang menggunakan seragam pasien. Mereka bermain dan tertawa tanpa mengetahui beban apa yang tengah dirasakan.

Tak hanya diisi oleh anak kecil, tetapi pasien dari berbagai usia juga tengah duduk di taman hanya untuk menikmati udara sore. Seperti halnya diriku yang duduk di bawah pohon rindang.

Merilekskan tubuh yang terasa kaku selama sakit. Bagaimana tidak kaku jika keseharianku hanya duduk di kasur dan jarang keluar. Apalagi jika kedatangan Kak Arga, Kak Regan dan Ayah.

Kedatangan salah satu dari mereka sama saja seperti masuk ke dalam penjara. Setiap kali mereka datang, perintah yang selalu diucapkan setiap jamnya adalah menyuruhku untuk tidur supaya cepat sembuh.

Rasanya ingin berteriak di telinga mereka dan mengatakan jika aku bukan putri tidur.

Aku cukup lelah merasakan sikap dari mereka bertiga yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Apapun itu, pasti menjadi bomerang bagi diriku sendiri saat berbicara dengan mereka. Ada saja yang dipermasalahkan.

Memang paling benar jika yang paling pengertian adalah Kak Regal, meskipun tingkahnya bisa mengundang masalah.

Tapi jika dipikir-pikir, keluarga ini seperti terbentuk dua team, dilihat dari landasan pemikiran masing-masing.

Ayah, Kak Arga, serta Kak Regan, tidak banyak bicara tetapi langsung bertindak. Namun yang menjadi permasalahnnya saat ini adalah sikap ketiganya yang semakin ke sini semakin terasa berbeda. Tidak se-cuek dan se-irit bicara seperti 3 bulan yang lalu.

Sedangkan untuk Bunda, Kak Regal, dan Willy. Mereka cenderung cerewet, namun tidak banyak mempermasalahkan apa yang kulakukan. Lebih sering mengiyakan apa yang menurut mereka tidak melebihi dari batas normal.

"Ren."

Begitu mendengar suara Kak Regal, aku langsung teringat jika ada seseorang di sampingku. Terlalu hanyut dalam lamunan, membuatku tak begitu memperhatikan keadaan sekitar.

"Kenapa?"

Aku bertanya dengan pandangan masih lurus ke depan, kali ini fokus memperhatikan anak kecil yang sedang bermain.

"Bantu habisinlah, sudah dibeliin juga," protes Kak Regal sembari menyondorkan kotak pizza yang tadi dibawa dari kamar. Meletakkan kotak pizza di atas pangkuanku.

Aku menatap pizza tanpa minat sedikitpun, karena memang sudah kenyang. Tanpa banyak bicara, aku mengembalikkan kotak pizza ke atas pangkuan Kak Regal.

Tidak ada lagi pemaksaan yang dilakukan. Kita berdua terhanyut dalam keheningan, sampai akhirnya panggilan familiar dari seseorang memecahkan suasana.

"Kak Reyna."

Aku menoleh ke arah suara tersebut. Terlihat jika Willy datang dari dalam gedung menuju ke tempat kita.

"Ngapain di sini? Nanti Kak Reyna sakit lagi lo kalau anginnya sekencang ini," ucap Willy sembari menyondorkan jaket kepadaku.

Entah kenapa kali ini aku tidak suka dengan kepekaannya. Karena niatku keluar adalah untuk menikmati angin sebanyak-banyaknya sebelum masuk kembali ke ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan.

Tetapi aku tetap menerima dan memakainya tanpa banyak bertanya, bisa lama urusannya nanti jika terjadi perdebatan tak berguna. Apalagi lawan bicaranya Willy, yang akhir-akhir ini pintar sekali memutar balikkan ucapan orang lain. 

"Ayo kembali, nanti Ayah datang dan katanya Kak Reyna akan pulang hari ini," ucap Willy dengan mengadahkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Aku menerima uluran tangan Willy, lalu berjalan menjauhi pohon tersebut. Kak Regal mengikuti kita bak anak ayam dengan sekotak pizza ditangannya.

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang