Twenty Eight

112 9 0
                                        

Aku duduk dengan canggung, memilih untuk diam sejenak menikmati angin yang berhembus cukup kencang daripada meladeni pertanyaan laki-laki di depan.

Kak Arga sedang kembali ke kamar karena handphonenya tertinggal dan aku ditinggal sendirian di taman. Lalu tak lama Arta datang, laki-laki yang aku temui saat kabur dan di rumah sakit terakhir kali sebelum diculik.

Saat Arta ikut duduk di hadapaku, ia langsung bertanya perihal pembiayaan rumah sakit tempo lalu. Ternyata dia mengetahui aku yang membayarnya karena ikut menguping di dekat kami.

"Sebagai ucapan terima kasih?" jawabku dengan ragu. Karena aku sendiri juga bingung ingin memberikan alasan apa, pada dasarnya aku melakukan hal itu tanpa alasan.

"Terima kasih untuk?"

Dia bertanya sembari menaikkan sebelah alisnya, khas sekali.

'Wajahnya masih saja mengesalkan,' batinku ketika melihat ekspresi andalannya.

"Entahlah, bisa untuk tidak membahasnya?"

Aku menoleh untuk menatap taman yang cukup sepi. Duduk di bawah payung yang seharusnya tempat untuk makan karena kantin berada di sebelah taman, entah apa alasan Kak Arga menaruhku di meja daripada di bawah pohon yang sepertinya lebih sejuk.

Entah kebetulan macam apa yang terjadi hingga bertemu Arta di sini dan haruskah aku mengatakan jika ini sangat menjengkelkan saat tak jauh dari tempatku terlihat Kak Regal serta William yang duduk tak jauh dari sini. Beruntung meraka tidak sadar.

Lalu balik lagi menatap ke depan, wajah Arta mulai kembali datar tapi tatapannya masih tekun melihatku.

"Ada apa?"

Aku bertanya dengan heran saat dia diam saja. Bahkan raut wajahnya langsung berubah dari datar menjadi suntuk sembari menggosok mukanya dengan kedu tangan. Seperti orang yang banyak sekali menanggung masalah.

"Kenapa wajah lo mirip banget sama Anna!"

Dia berdecak pelan sembari menghembuskan napasnya perlahan, sedangkan aku sedang memikirkan.

Anna ya?

Sesungguhnya aku sangat penasaran dengan siapa Anna yang selalu dikenal oleh Arta dan Bapak penjual kelinci saat itu. Bahkan aku ingat dengan jelas pria gila itu juga pernah menyinggung tentang Anna.

Mengesalkan sekali jika hanya aku yang seperti orang bodoh di saat seperti ini!

Kali ini aku yang menatap Arta sembari menompang dagu dengan tangan.

"Sebenernya Anna ini siapa?" tanyaku serius sembari menatap Arta dengan lamat. Sedangkan yang ditatap hanya memalingkan wajah dan mengusap lehernya dengan perlahan.

"Nanti juga tahu sendiri."

Arta berdiri saat menjawab pertanyaanku, lalu berbalik dan melambaikan tangan tanpa bisa diketahui bagaimana raut wajahnya. Hanya kata perpisahan yang diucapkan saat melambaikan tangan.

"Gue pergi dulu, makasih bayaranya."

Kuperhatikan langkah Arta hingga menghilang dari taman. Lalu kujatuhkan kepalaku pada meja hingga menimbulkan suara cukup kencang. Dahiku sakit, tapi lebih sakit lagi jika tidak tahu apapun.

Entah dari identitas Anna yang sepertinya kami pernah saling bersangkutan mengingat mimpi buruk terakhir kali karena samar-samar melihat wajahku sendiri. Lalu identitas siapa pria gila kemarin. Kenapa mereka semua sepertinya adalah orang yang harusnya aku kenal tapi aku tidak bisa mengingat siapa mereka?

Rasanya sunggu mengesalkan, rasa penasaranku sudah seperti gunung berapi yang siap meletus jika tidak mendapatkan jawaban apapun.

Bahkan Ayah dan yang lain tidak pernah menyinggung apapun. Entah menanyakan bagaimana wajah pria gila itu dan apa saja yang dilakukan hingga membuat kakiku menjadi cacat seperti ini.

"Bodoh banget!" gumamku sembari membenturkan dahi ke meja secara berulang kali guna menghilangkan pusing yang semakin menjalar ke seluruh kepala.

Tapi ternyata hal ini tidak berefek apapun, nyatanya pusing di kepalaku masih setia hadir. Bahkan aku berencana tidak akan berhenti jika saja tidak ada tangan yang menghambat kegiatan ini.

"Kamu ngapain?"

Kepalaku ditarik hingga tegak sempurna, lalu tanganya mengusap-usap dahiku dengan lembut.

"Kenapa kepalanya dibanturin ke meja, hm?" Kak Arga bertanya dengan lembut, suaranya begitu pelan. Aku tidak menjawab, malah menyandarkan kepalaku pada tubuh Kak Arga di belakang lalu mendongak. Hanya diam saja menatap Kak Arga.

"Kepalanya masih pusing?" Kali ini tangan Kak Arga berganti mengusap daguku pelan. Lalu membalikkan kursi roda dan berjongkok di depanku.

Kepalaku ikut menunduk, lalu menggeleng. "Balik Kak, ada Kak Regan sama William di sana."

Sesungguhnya alasan utama untuk balik bukan karena mereka, tetapi karena pusing memikirkan perkataan Arta yang entah bagaimana otakku langsung memproses banyak sekali informasi hingga pusing di kepala semakin menjadi.

Kak Arga berdiri dan memperhatikan sekitar, sebelum akhirnya mengiyakan permintaanku dan mulai mendorong kembali kursi roda ke arah kamar.

Dalam perjalanan aku masih memikirkan, siapa sebenarnya Anna dan bagaimana hingga pria gila itu juga mengenal Anna? Apakah keluarganya juga mengenal siapa Anna?

Mungkin kita bisa tes dengan Kak Arga sekarang, mumpung sedang berdua saja. Aku menyandarkan kepala dan mendongak ke belakang. Tangan Kak Arga langsung spontan memangku di bawah kepalaku.

"Kepala jangan gini, makin pusing." ujar Kak Arga sembari menaikkan kembali kepalaku untuk tegak, tapi aku tetap bersikeras ingin melihat bagaimana reaksi Kak Arga begitu mendengar pertanyaan yang kuajukan.

"Kak, tau kembaranku gak?" Aku bertanya sembari melakukan cekcok dengan tangan Kak Arga yang masih mendorong kepalanya untuk tegak.

"Kamu gak punya kembaran Rey." Wajah Kak Arga dari yang datar menjadi semakin tanpa ekspresi. Ah sepertinya salah jika harus menebak jawaban dari raut wajah Kak Arga. Wajahnya sangat kaku sekali tanpa emosi.

"Kak Regal bilang aku punya kembaran kok?" Kali ini aku ingat perkataan Kak Regal, lumayan juga bisa dijadikan alasan. Meski aku lebih yakin omongan Kak Regal hanyalah bualan semata.

Tetapi saat pertanyaan yang kulontarkan hanyalah sebuah candaan, nyatanya wajah Kak Arga sedikit berubah. Seperti sedang kesal? Wajahnya lumayan suram jika dibandingkan sebelumnya.

Wow, serius aku beneran punya kembaran? Aku kira akal-akalan Kak Regal.

Tanpa menghentikan laju jalan, Kak Arga tidak menjawab pertanyaanku sampai masuk ke dalam kamar. Bahkan saat aku tanyakan sekali lagi Kak Arga maish menjawab dengan jawaban yang sama.

"Kamu gak punya kembaran Rey."

Baiklah, kita cukupkan sampai sini. Sepertinya ada sesuatu yang janggal dari mereka. Kejanggalan yang kurasakan saat pertama kali mengenal keluarga ini hingga terlena dengan semua yang terjadi. Tetapi kali ini dan sekali lagi, kejanggalan berikutnya mengingatkanku untuk kembali bertanya-tanya tentang semuanya. Siapa mereka dan siapa aku?

******
7 Oktober 2023

Aku penasaran dengan pemikiran kalian saat baca ini, apa teori kalian tentang identitas Reyna?

Jika ada yang kurang boleh diberi masukan, sampai nanti.

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang