18+
Kalau mau skip gapapa, meski nanti ga akan paham saat baca kelanjutannya:v
*****
Rasa pusing langsung menghantam kepala, bahkan pandanganku masih terlihat kabur begitu mendapatkan kesadaran.
Cahaya remang-remang membuat pengelihatan semakin lama beradaptasi. Minimnya cahaya membuatku terasa seperti orang buta, karena sulit melihat dalam keadaan gelap.
Aroma obat-obatan juga menyeruak sepersekian detik. Bau khas rumah sakit.
Kakiku terasa berat dan tidak bisa digerakkan secara bersamaan. Aku menunduk, tersadar dengan posisi tubuh yang diikat di kursi. Tak lama aku juga baru merasakan rasa kebas yang sama di bagian lengan.
Apa-apaan ini!
Aku langsung menjajahkan pandangan ke sekitar. Seketika buluk kudukku berdiri dengan tegak. Meski dalam kegelapan, terlihat banyak sekali kasur tertata dengan rapi yang ditutupi dengan kain putih. Namun melihat ada kedua kaki yang tidak tertutup kain membuatku langsung berpikiran negatif.
Aku tidak sebodoh itu untuk mengetahui apa yang ada di sekitar. Yang lebih parah lagi, aku terikat di tengah-tengah banyaknya kasur berisi mayat.
Aku ingin menjerit sekeras mungkin, namun kondisi tenggorokan tidak memadai. Rasa haus, gatal dan perih terasa begitu menyakitkan, akibatnya karena berteriak dalam jangka waktu yang cukup lama.
Dilengkapi dengan suhu rendah yang begitu mendukung untuk membuatku semakin merinding. Bahkan saking dinginnya aku sampai berpikir apakah ini adalah tempat kulkas penyimpanan mayat?
Jika iya, maka orang itu benar-benar berniat membuatku mati kedinginan. Di setiap hembusan napas, aku melihat uap-uap dingin keluar dari hidung dan sela-sela mulut. Bibirku juga menggigil sedari tadi.
Orang gila!
Aku tidak berhenti-berhentinya mengumpati dalang dari semua ini. Jika bisa aku ingin sekali mencabik-cabiknya. Bahkan ingin memberikan seluruh potongan tubuhnya pada anjing serigala peliharaan Kak Regal.
Sedikit informasi saja, aku pernah sekali dikerjai oleh Kak Regal menggunakan serigalanya, alhasil yang di dapat adalah serigala itu terdampar di rumah sakit hewan akibat tembakan peluru di kakinya oleh Kak Arga.
Aku benar-benar tidak ingin mengingat kembali bagaimana ganasnya hewan itu selain pada tuannya.
Aku tersentak dari lamunan akibat suara pintu terbuka. Langsung memandang ke arah pintu dengan horor.
Terlihat seseorang masuk dengan ketukan suara sepatunya yang mendominasi. Ketukan langkahnya semakin terdengar begitu dekat sampai akhirnya berdiri di dekatku.
Sudah bisa dipastikan bukan, siapa dia?
Orang gila yang sedari tadi kupikirkan sebagai objek untuk dimutilasi. Aku mencuramkan alis dan menatapnya tajam.
Jika ditanya siapa yang mengajariku untuk seperti ini, jelas itu adalah Kak Regal. Dan aku cukup bersyukur dengan ilmu-ilmu unfaedah yang diberikan olehnya, karena bisa digunakan sekarang.
Dia tertawa pelan melihat reaksiku. "Rileks cantik."
Tanganya mengapit daguku untuk semakin di angkat menatapnya. Aku semakin menatapnya tajam dan berlagak angkuh. Menunjukkan jika tidak akan tunduk melihatnya.
"Kau tetap terlihat cantik meski hampir sekarat," ucapnya singkat diiringi senyum tipis sebelum tubuhnya semakin membungkuk dan menyambar bibirku dnegan cepat.
Aku membelakkan mata terkejut, bahkan masih mematung sampai tersadar saat dia membuka mulut secara paksa dengan tangannya. Membuatku tersedak dengan keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reyna
General FictionKebingungan Reyna perlahan terkuak dengan sendirinya. Jati dirinya yang cukup membingungkan mulai terpecahkan. Nyatanya Reyna tetap tidak akan pernah keluar dari zona lingkup keluarganya yang sangat protective Ps: belum revisi dan bahasa masih alay...
