Twenty Seven

146 10 5
                                        

Suara isak tangis mendominasi ruangan. Sumbernya tak lain adalah tangisan Bunda.

Entah sudah berapa lama Bunda menangis di sampingku, bahkan suaranya sampai sesegukan dan membuatnya susah untuk bernapas.

Tangan Bunda sedari tadi menggenggam tanganku yang tidak terpasang infus, lalu akan menangis sesekali mengusap bagian kepala, wajah atau tanganku.

Semua diusap oleh Bunda sejak dipindahkan ke rumah sakit. Setelah Kak Regal yang datang bak pahlawan dari jendela, tak lama tim medis datang dari arah pintu.

Tubuhku dipindahkan lalu dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulance. Sedangkan Bunda telah menemaniku begitu sampai di rumah sakit.

Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan situasi saat ini, jika dalam kondisi baik-baik saja.

Tetapi sejak tadi tubuhku masih terasa kaku, jika mendengar penjelasan Kak Regan yang tadi sempat ditanyai oleh Bunda mengatakan jika tubuhku tidak bisa digerakkan karena masih dalam pengaruh obat bius.

Belum lagi saat Dokter datang dan mulai memeriksa, hal yang benar-benar masih belum bisa aku terima sampai sekarang adalah saat Dokter menyibakkan selimut. Fakta bahwa aku sendiri bisa melihat jika salah satu kakiku telah menghilang.

Saat tim medis datang dan memindahkan tubuhku ke atas brankar, selimut yang sedari tadi terpasang tidak mereka lepas, hanya dililitkan lalu dipindahkan. Maka dari itulah aku baru mengetahui kondisi tubuhku saat di rumah sakit, itu pun saat Dokter membuka selimut.

Sepertinya aku mengerti mengapa mereka lebih memilih untuk melilitkan selimut daripada melepaskannya. Jika tidak salah ingat, saat itu terlihat ada salah satu orang yang ingin melepaskan selimut, tetapi langsung ditutup kembali dan memerintahkan yang lain untuk membawa serta selimutnya.

'Pilihan yang bijak,' batinku dalam hati saat paham dengan alasan para medis.

Lalu respon Bunda sejak mengetahui kondisiku adalah kembali menangis, tetapi kali ini sangat lama sekali, sekarang saja masih belum berhenti menangis.

Sudah berapa lama? Aku juga tidak tahu. Karena aku hanya melamun sejak tadi, tidak menghiraukan Bunda di sebelah.

Saat melihat kondisi kakiku sendiri, aku lebih memilih untuk diam hingga tidak sadar jika melamun. Bahkan aku sudah tidak menangis lagi sejak di rumah sakit, hanya diam hingga tidak sadar jika terlalu larut dalam lamunan.

"Reyna."

Akhirnya setelah sekian lama Bunda menangis, suaranya kali ini memanggil nama Reyna dengan serak.

Aku merespon dengan menatap Bunda penuh tanda tanya. Tetapi sayangnya Bunda memilih untuk diam dan menatapku dengan lamat. Hanya menangkup keda pipiku dengan menyatukan kening kami cukup lama.

Lalu berganti duduk di atas kasur dan menarikku dalam pelukannya.

Aku bisa mendengar suara napas Bunda yang begitu berat saat bersandar pada dadanya. Terasa begitu nyaman saat dipeluk dan dimanjakan oleh Bunda saat ini.

Aku memilih untuk menikmatinya, menyamankan posisi dan berusaha untuk merengkuh balik tubuh Bunda, meski membutuh usaha yang cukup besar.

Elusan tangan Bunda di kepalaku membuatnya terasa begitu nyaman, rasa kantuk mulai menyerang. Tetapi sebelum memejamkan mata suara pintu terbuka mengalihkan fokusku.

Bunda juga mengengokkan kepalanya ke belakang, terlihat Ayah yang masuk sendiri lalu berjalan ke arah kami. Lalu tak lama muncul kepala Kak Regal atau Kak Regan yang mengintip dari balik kaca di pintu, sebelum kepalanya kembali menghilang ditarik oleh sebuah tangan.

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang