Thirty One

69 5 0
                                        

Boom!
Boom!

Suara karung berjatuhan terdengar begitu keras. Wajah orang di sekitar panik dan menghampiriku yang sudah jatuh ke depan menimpa jejeran karung berisi tepung. Belum lagi tertimpa karung tepung yang berjatuhan dari atas.

Punggungku sakit tertimpa kursi roda dan karung tepung, belum lagi wajahku perih karena bergesekan dengan tekstur karung yang kasar saat jatuh. Sedangkan sang pelaku yang menjerumuskan sampai membuatku begini sedang berlari bersama pengurus gudang yang suaranya sudah bergetar ketakutan saat berteriak.

"Astaga Non. Aduh Den ini nanti kalau ketahuan, Bapak yang dipecat."

Sialan!

Yang dipikirkan ternyata perkara karung berisi tepung telah rusak dan isinya berceceran.

"Yah-yah Ren, maaf gak sengaja serius," seru Kak Regal sembari mengangkat beberapa karung yang menimpa di atasku, lalu mengangkatku dalam gendongannya.

"Pak kursi rodanya tolong dibenerin!"

Kak Regal menjauh dari tumpukan karung yang sudah gak karuan. Seluruh tubuhku terselimuti tepung, bahkan hidungku mulai gatal akibat terkena tepung dan berakhir bersin-bersin tanpa henti.

Hatchi

Hatchi

Karena terlalu gatal, aku mengusap hidung berkali-kali di pundak Kak Regal karena kedua tangan masih terselimuti tepung. Namun semakin diusap hidungku semakin berair dan tidak berhenti bersin, bahkan sekarang mulai mengeluarkan ingus.

Suara bersin tidak berhenti, entah setiap berapa kali bersin baru bisa bernapas, namun semakin tidak terkendali akibat udara di gudang bercampur dengan tepung.

Berberapa suara kaki terdengar mendekat. Aku tidak tau siapa itu sebelum suara Kak Regal memanggilnya.

"Genta, kursi rodanya Reyna bawa keluar gudang!" perintah Kak Regal pada pengawalnya sembari keluar dari gudang diikuti oleh pengawal lainnya bernama Aldo yang saat ini mengeluarkan sapu tangan dan memberikan kepadaku secara langsung.

"Makasih," ucapku sembari menerima dan langsung mengeluarkan ingus tanpa basa- basi.

Hatchi

Masih bersin, aku keluarkan ingus lagi dan masih bersin begitu terus hingga hidungku terasa tidak basah lagi namun masih sedikit gatal.

Mataku berkaca-kaca akibat bersin terus menerus tanpa henti dan Kak Regal dengan seenak jidat malah menyuruhku untuk mengeluarkan ingus lagi karena masih mendengar suaraku yang sedikit sengau.

"Udah gak ada, sakit ini kalau dipaksa."

Aku melirik tajam ke arah Kak Regal di depan. Aku telah didudukkan kembali di atas kursi roda dan sang pelaku malah semakin kekeh untuk menyuruhku mengeluarkan semua ingus.

Karena kesal kubuang sapu tangan berisi ingus ke mukanya, dia malah menangkap sapu tangan dan menutup hidungku kembali memakai itu.

Hatchi

Aku bersin lagi dan Kak Regal semakin heboh.

"Kan-kan, belum bersih itu ingusnya. Keluarin lagi."

Tangannya masih membekap hidungku dengan sapu tangan, lalu dengan kesal kuambil dan mengeluarkan ingus yang sudah terproduksi kembali.

Hatchi

Bersin lagi, keluarkan ingus, dan bersin lagi begitu terus hingga mataku memerah dan meneteskan air mata.

"Yah-yah, jangan nangis Ren," seru Kak Regal heboh sembari mengusap air mataku dengan panik.

"Lepas, aku gak nangis. Lagian salah siapa suruh main remot control."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang