Two

1.3K 62 0
                                        

Sudah sekitar sebulan sejak aku bangun di ruangan asing. Akhirnya aku tetap tinggal di sini, di rumah super luas dan mewah dengan mereka yang mengaku sebagai keluarga. Aku tidak sepenuhnya yakin, namun aku sendiri juga tidak bisa mengingat kehidupan sebelumnya. Bahkan nama saja terlupakan, bagaimana dengan ingatan lainnya?

Jadi akan kuperjelas, mereka mengatakan jika aku pernah kecelakaan sekitar 3 bulan sebelumnya, cukup membuat diriku koma. Begitu yang kudengar, tapi yang menjadi kebingunganku adalah mengapa aku bangun dengan keadaan seperti tidur biasanya, tidak di rumah sakit dengan segala perabotan yang melekat jika seseorang tengah koma?

Tapi apalah daya, mereka hanya mengatakan begitu saja tanpa yang lainnya. Mereka juga mengatakan jika lebih baik aku tidak mengetahui apapun. Akhirnya selama satu bulan setelah sadar, aku belajar berjalan agar tidak kaku. Aku bahkan mengira jika terkena lumpuh pada kaki, namun mereka mengatakan jika itu hanyalah faktor karena tidak pernah bangun sehingga kakiku hanya kaku saja. Cukup masuk akal, aku menyetujui logika satu ini. Tapi tidak dengan diriku yang terbangun di kamar seperti bangun tidur pada umumnya, aku tidak sebodoh itu dengan mempercayai cerita mereka.

"Adek, ayo masuk sudah mulai malam." Aku menoleh ke belakang, di sana Kakak tertua tengah berjalan menghampiri bangku yang kududuki. Aku sedang berada di taman, perkejaannku selama satu bulan ini hanya keliling rumah dan duduk-duduk saja memandangi sekitar, tidak pernah sekalipun melakukan hal lainnya. Sehingga aku sendiri cukup bosan dengan tidak adanya kegiatan.

Aku berdiri begitu Kakak sudah berada di samping. Namanya adalah Kak Arga, dia paling pendiam dari semua saudaranya yang lain, cukup canggung jika berada di sekitarnya.

Tanganku digandeng untuk masuk ke dalam rumah, tidak dipungkiri jika udara semakin dingin di luar sini, apalagi aku hanya menggunakan baju lengan pendek.

"Besok sebelum jam 4 sudah di dalam rumah, Kakak tidak ingin melihatmu berkeliaran di luar jam 4," ucap Kak Arga begitu merasakan tanganku yang terasa seperti es, aku mengakui juga jika tubuhku kedinginan karena udara cukup kencang di halaman terbuka seperti ini. Tidak ada hambatan bagi angin untuk bertiup kencang.

Perintah dari Kak Arga cukup membuat lawan bicaranya terasa begitu mencengkam, sulit untuk menolak perintah tersebut. Entah mengapa, namun itu yang aku rasakan. Cukup menakutkan sebenarnya, tapi karena Kak Arga selalu berbicara dengan nada lembut sarat dari perintahnya tidak sebegitu kentaran, istilahnya tertolong dengan nada lembut. Jadi masih baik-baik saja, tapi jika dia sedang marah aku tidak bisa membayangkan betapa mencekiknya suasan yang diciptakan Kak Arga.

Kak Arga mengantarku ke kamar. Ruangan tidur saat pertama kali aku terbangun. Kak Arga hanya mengantar sampai depan pintu, lalu memberi petuah sebelum membukakan pintunya.

"Ganti baju lengan panjang, nanti jam 7 langsung ke bawah untuk makan malam. Sekarang istirahat di kamar dulu, jangan tidur!"

Aku mengiyakan seluruh perintah Kak Arga, lalu masuk ke dalam kamar. Aku langsung merebahkan tubuh ke kasur. Empuk sekali, rasanya ingin tidur sekarang saja. Aku menggulingkan tubuh ke kanan dan ke kiri di atas kasur, sebenarnya kegiatan istirahat yang diperintahkan Kak Arga tidak lain hanya berdiam diri di kamar tanpa melakukan aktifitas apapun dan aku tidak suka itu. Tidak ada yang bisa kulakukan, meskipun alat elektronik berupa ponsel, laptop, TV, dan lain sebagiannya memang tersedia. Namun aku tidak pernah menyentuhnya, percayalah membosankan bermain ponsel, lebih baik melihat bunga-bunga di taman atau kolam ikan dari pada bermain ponsel.

Aku menghentikan kegiatan tidak berfaedah ketika mendengar pintu kamar terbuka, lalu muncullah Willy, anak paling bungsu. Aku lebih akrab denga Willy dari pada Kak Arga, lebih nyaman saja karena Willy sendiri anaknya mudah diajak berteman. Apalagi diajak berbicara jika dia senggang.

"Sini." Aku menepuk kasur di sebelah yang sudah kusut karena ulah tidak berfaedah. Willy menutup pintu lalu berlari kecil ke arah kasur. Selanjutnya bocah itu melompat ke atas kasur hingga membuat kita tertawa kecil atas ulahnya. Tingkah Willy cukup menyenangkan, membuatku terhibur dengan segala tingkah kecilnya seperti ini. Di tengah keseharian tidak melakukan apapun, di rumah sebesar ini dan tidak ada teman bicara. Itulah mengapa aku selalu suka dengan keberadaan Willy yang mengasyikkan.

"Ada apa Wil? Gimana sekolahnya hari ini, seru gak?"

Aku selalu menyakan hal yang sama setiap Willy mendatangiku. Bocah itu selalu memiliki banyak cerita yang membuatku tak bosan mendengarkannya, mungkin dia juga tahu jika sebenarnya aku kesepian. Maka dari itu aku selalu antusias mendengarkan kisahnya setiap hari setelah pulang sekolah atau saat Willy mengerjakan Pr, aku selalu di sampingnya dan melihat bagaimana Willy mengerjakan pekerjaannya disertai gerutu tidak suka.

Ekspresi yang dia tampilkan sungguh imut, jika kalian bertanya Willy berumur berapa maka jawabannya adalah 13 tahun, mungkin sekitar sekolah menengah pertama kelas 2 atau 3. Entahlah aku lupa, tapi wajah Willy benar-benar seperti bocah SD. Dia berbeda dari saudara yang lain, jika yang lainnya sangat tampan dan terlihat keren maka Willy terlihat sangat imut, bahkan aku pernah mengira jika dia belum puber. Ternyata sudah, namun jika prediksiku wajahnya memang tidak bisa seperti yang lain, wajahnya benar-benar khas. Aku sampai gemas sendiri dengan pipinya yang berisi dan menanti untuk dicubit. Apalagi dengan tingkahnya yang sepeti anak kecil, aku seperti menghadapi bocah SD dari pada SMP.

"Membosankan seperti biasa," ucap Willy sambil menampilkan wajah cemberutnya. Aku langsung mencubit pipinya yang menganggur hingga dia memekik kesakitan. Lalu kita tertawa bersama, "harusnya senang dong, kan ketemu banyak orang."

Aku menasihatinya dengan memutar posisi tubuh menjadi terngkurap menghadap Willy, Willy pun melakukan hal yang sama, jadi wajah kita saling berhadapan.

"Aku tidak suka, apalagi hari ini banyak tugas. Padahal aku ingin tidur sepanjang hari," ucap Willy sembari membalikkan tubuh lalu merentangkan kedua tangannya ke atas dan dihempaskan dengan kasar di setiap sisinya. Lalu kembali tengkurap menyesuaikan posisinya denganku.

"Nanti Kakak bantu habis makan malam, di sini saja bagaimana? Nanti ketahuan Kak Arga kalau di kamarmu."

Aku memberikan pendapat agar kita bisa bersama lagi. Sebenarnya setelah makan malam anggota keluarga di sini akan langsung sibuk di kamarnya masing-masing. Lalu setiap 1 jam sekali dimulai dari jam 8 Kak Arga selalu ke kamarku untuk mengecek apakah sudah tertidur. Dan jam tidurku tidak boleh diatas jam 9, maka dari itu saat jam 8 aku selalu berusaha untuk tertidur sebelum jam 9 ketika Kak Arga mengecek kembali. Namun tak jarang juga aku selalu pura-pura tidur karena tidak mengantuk, atau lebih tepatnya selalu suntuk di kamar.

Nah kali ini aku akan bermain bersama Willy lagi, acara yang kulakukan dengan Willy sebenarnya sudah berberapa kali kita lakukan dengan menipu Kak Arga, namun tetap saja kita selalu takut jika ketahuan. Sebenarnya Willy saja yang takut, aku tidak masalah jika ketahuan.

"Boleh deh, nanti pasang alarm 5 menit sebelum pergantian jam." Willy selalu mengingatkannya, itulah tak-tik kita untuk menghindari Kak Arga. "Oke." Aku berdiri dari kasur dan berjalan menuju ruangan ganti menuruti perintah Kak Arga untuk mengganti baju dengan lengan panjang.

Sebenarnya ruang ganti ini sangat luas, luasnya tidak jauh beda dengan kamar mandi. Bedanya banyak lemari berisi baju dan aksesoris lainnya, aku tidak tahu itu milik siapa saja. Tapi baju-baju di sana sangat bagus, aku jadi ingin memakai semuanya. Lalu suara Willy dari luar membuatku membuka pintu sedikit dan memunculkan kepala karena sedang berganti baju.

"Aku kembali dulu, nanti jangan lupa ya," ucap Willy yang langsung berjalan keluar dari kamar sebelum mendengar jawabanku, kebiasaan Willy seperti itu. Tapi tak masalah, karena aku juga pasti mengiyakan saja apa yang ingin dia lakukan.

Aku kembali menutup pintu dan menyelesaikan acara ganti baju, aku memilih sweeter bewarna putih yang cukup tebal, ini membuatku sedikit lebih hangat karena suhu AC di kamar, lalu aku sekalian mengganti celana panjang karena cukup dingin di sini, jika AC dimatikan yang ada aku kepanasan, namun jika dinyalakan seperti ini maka resikonya kedinginan, serba salah bukan? Tapi Yasudahlah, aku akan mematikannya sebelum turun untuk makan malam nanti.

*****

Ditulis: 24 September 2020
Publish:

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang