Thirty

116 5 0
                                        

Aku bermain ponsel dengan Ayah dan pria yang tak dikenal berada di sofa. Kondisi sofa sudah tidak karuan, banyak map dan kertas berceceran di atas meja. Jangan lupa dengan pria asing yang sedang menghandle 2 laptop sekaligus sembari duduk di lantai.

Jika ditanya sudah berapa lama mereka seperti ini, maka sejak semalam saat Ayah datang untuk menemaniku di rumah sakit. Bahkan sejak makan siangku sudah diantar mereka berdua belum berhenti dengan tugasnya.

Aku yang sudah lelah menghabiskan 2 film sejak pagi akhirnya angkat suara.

"Yah, mau main keluar."

Anggaplah kurang ajar, tapi jika mengingatkan Ayah untuk sekedar berhenti tidak akan terlaksana entah sampai kapan. Maka pilihan yang bijak adalah merepotkan Ayah untuk keluar sejenak dan kita giring untuk makan.

Dan tak sampai satu menit Ayah langsung bertanya, "ke mana?"

"Ke taman, sekalian beli kue di kantin."

Ayah langsung berdiri dan mencari dompet di sekitarnya. Setelah menemukan dompet, Ayah mengambil kursi roda sebelum mengangkatku untuk pindah lalu keluar dari kamar. Sebelum pintu tertutup aku menahan dan berteriak ke dalam.

"Om, ayo ikut pergi makan."

Pria di dalam sampai tersentak mendengar teriakanku tapi tak beranjak hanya menoleh sekilas.

Aku mendongak ke Ayah, tapi respon Ayah malah keheranan mendengar teriakanku.

"Om nya gak mau diajak makan juga? Nanti mati gimana? Dari kemarin belum makan."

Ayah tertawa pelan sembari mengusap kepalaku.

"Gak akan mati juga Reyna," ucap Ayah sembari menutup pintu dan mendorong kursi roda menjauh.

"Tapi Ayah juga dari kemarin belum makan, kenapa Om nya gak diajak makan juga?" Aku bertanya sembari menghitung ubin lantai, saat sampai di depan lift aku mengulurkan tangan untuk menyentuh tombolnya.

"Jadi kamu mau keluar buat beli kue atau nyuruh Ayah makan?"

Pertanyaan Ayah bertepatan saat lift tebuka dan terdapat banyak pengunjung di dalamnya. Aku memilih untuk diam tidak menjawab karena merasa canggung berbicara di tempat ramai.

Begitu masuk aku menemukan Arta sedang berada di pojok lift, dia terhimpit dengan orang-orang yang segera mundur memberikan ruang untukku dan Ayah karena masuk menggunakan kursi roda.

Melihatnya yang masih di sini sejak bertemu beberapa hari lalu membuatku kepikiran, apa yang sebenarnya sedang dia lakukan di rumah sakit, entah mengapa Arta selalu terlihat di rumah sakit setiap kali aku opname.

Nyatanya aku memilih untuk diam tidak bersuara hingga telah sampai di Kantin. Arta pun masih berada di sekitar, aku semakin tak bisa melarikan pandangan mata, selalu melirik ke arahnya karena penasaran.

Bahkan saat Ayah bertanya ingin memesan apa aku menjawab asal tanpa melihat menu.

"Ayah tinggal dulu sebentar ya, jangan ke mana-mana."

Aku tersentak kaget dengan tepukan di kepala, bahkan kegiatan Arta yang tetiba keluar dari area kantin tanpa membeli apapun harus terputus begitu aku berbalik menatap Ayah.

"Ke mana?" Aku bertanya heran sembari menunduk untuk melihat meja yang terlah tersedia beberapa macam makanna dan minuman. Ternyata cukup lama aku melamun sampai tidak sadar telah duduk manis dan siap menyantap makanan.

"Ke toilet," jawab Ayah langsung menunduk dan mengunci roda di bawah, lalu pergi tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu.

'Tumben gak cium dulu kayak Kak Arga'

Reyna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang