Saat ini semua penghuni sekolah DHS sedang mengisi perut mereka.
"Ini sekolah atau tempat perkumpulan tiang listrik sih?" tanya Ara kepada sahabat-sahabatnya.
"Lah, kok lo nanya kaya gitu?"
"Ya, karena kalian perhatikan deh, mungkin yang pendek cuma beberapa orang ajah, yang lainnya pada kaya tiang listrik, tapi masih kalah jauh si tiang listriknya. Tinggi plus gede," pungkas Ara.
"Baru nyadar lo?" sarkas Bianca.
"And, salah satu orang yang pendek itu ..., lo." Ara menatap sinis Keren.
"Gue itu gak pendek, cuma waktu pembagian tinggi gue nya yang terlambat. Lagian kalian juga serakah, porsi tingginya diambil semua. Akhirnya sang pencipta kehabisan porsi tinggi deh," cerocos Ara.
Di taman belakang sekolah, ada enam pria, lima pria yang berdiri berjajar sepertinya sedang di adili dan satu pria yang menatap tajam mereka.
"Jelaskan!" Kaisar menatap mereka satu persatu.
Sean, Devin, David, Victor, dan Kenzi sudah berkeringat dingin, hawa mengerikan mereka rasakan.
"Sean?" suara dingin bercampur ketegasan, membuat Sean tidak berkutik.
Tapi Sean harus memberanikan diri untuk menjelaskan tentang pohon apel Kaisar yang tidak memiliki buah sama sekali, lebih baik menjawab dari pada mendiami Kaisar, itu sama saja seperti mencari kehancuran.
"Huft! Kaisar, sebenarnya, pohon itu sudah memiliki buah yang banyak, tapi ...," Sean menggantung ucapannya ia menatap yang lainnya, mereka memberikan isyarat bahwa katakan saja. "Seorang gadis, dia yang memakannya." Sean bernafas lega.
"Siapa?"
"Namanya Aradhera Anderz Steal adik dari Angkasa, Aska, dan Asky." Bukan Sean yang menjawab melainkan David.
"Tunjukin!" Kaisar pergi meninggalkan mereka, mereka menjadi lega, karena semua berjalan sesuai ekspektasi mereka. Suara keheningan kantin, menjadi heboh karena kedatangan para pangeran Arvos.
"Ada apa sih?" tanya Ara, karena suara riuh tersebut.
"Lo, kaya gak tau ajha."
Mereka tidak memperdulikan teriakan demi teriakan penghuni kantin. Setelah beberapa anggota inti Arvos lewat, suara kantin lebih riuh dan heboh, kala kedatangan seorang pria yang ketampananya mengalahkan seluruh anggota inti Arvos. Dia adalah Kasiar.
Ara yang tidak tahan dengan suara keributan itu, langsung menggebrak meja dan itu membuat para sahabatnya melonjak kaget, keheningan pun terjadi seketika, semua menatap pada Ara.
"Woy, kalian bisa diam gak sih? gue mau makan ajah susah amat, kantin berasa kaya pasar yang penjualnya orang-orang pelarian rumah sakit jiwa, dagangannya gak laku?" Ara sekarang menjadi pusat perhatian.
"Kaisar, itu gadisnya." Kaisar menatap gadis yang sedang marah-marah itu, 'Ternyata dia,' batin Kaisar seraya tersenyum tipis. Salsa menarik tangan Ara untuk duduk kembali. Mereka menenangkan Ara yang berada pada zona emosi.
Kaisar menatap Sean, Sean yang mengerti arti tatapan itu langsung mengangguk patuh. Victor, Devin dan David juga tidak kalah, mereka mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kaisar namun tidak untuk Kenzi.
"Apaan?" kepo Kenzi.
"Cari di google," sarkas David.
Mereka berenam berjalan menuju meja yang berisi anggota Arvos. Namun Kenzi, sedang mengotak-atik ponselnya, ia melakukan seperti apa yang dikatakan oleh David 'cari di google' David yang menyadari Kenzi tidak mengikuti mereka, ia kembali berjalan menuju Kenzi, ia menarik kerah kemeja Kenzi sehingg Kenzi mengikuti langkah David.
"Tolol," ketus David.
Saat Kaisar berjalan melewati meja Ara dkk. Vanya berteriak histeris dan itu membuat siswa lain menjadi kaget. Bianca tersedak biji bakso, Keren menyemprotkan air ke wajah Salsa, Sosis Ara jatuh ke bawah.
Syut!
Tegur mereka serentak, Vanya membekap mulutnya, ia menampilkan ekspresi matdosnya.
"Lknt lu keren, Vanya monyet!" teriak Salsa, sembari membersihkan wajahnya yang terkena semprotan Keren. Keren dan Vanya cengengesan melihat wajah kesal Salsa."Eh, kalian nyuruh kita buat diam, terus kalian ribut, gitu?" gadis bernama Mayang Hizkia bersuara, dia adalah sahabat Shiera.
"Udah, May, gak usah ribut, gak baik loh ribut-ribut terus." Ara berasa ingin muntah mendengar ucapan Shiera.
Shiera mengatakan itu untuk mencari muka didepan anggota inti Arvos dan siswa lainnya, apalagi meja mereka yang berdekatan, membuat suara mereka dapat didengar.
"Dih, bijak tapi ada maksud," sindir Bianca. Vanya, Salsa, dan Keren tertawa remeh."Eh, maimunah maksud lo apa?" Farah Willberth bangkit dari duduknya.
Bianca merasa seakan ditantang, juga ikut berdiri. Situasi seperti ini yang selalu dipergunakan oleh Shiera untuk menunjukan sikap sok baiknya."Udha dong, Fa."
"Gak bisa Shiera, dia udah remehin lo, dan sama ajah dia remehin kita." Farah tidak terima dengan tawaan Bianca dkk yang seakan meremehkan mereka.
"La, kok ngegas? emang benarkan si polos kalian itu, cuma cari muka doang?" Ara menyantap makananya dengan santai, biarkan sahabat-sahabatnya yang meladeni Shiera dkk.
"Emang ya, mulut lo gak bisa di ajak damai!"
"Mulut, mulut siapa? kita 'kan." Sania Stefany Harlun naik pitam, ia hendak berjalan menuju meja Ara dkk, namun dicegah oleh Shiera.
"Ra, please! tolong ditenangin sahabat-sahabat, lo." Ucapan Shiera di acuhkan oleh Ara. "Ra!" panggil Shiera, seakan tuli, Ara terus menyantap makanannya. Karena kesal, Shiera tidak memperdulikan keanggunannya lagi, ia langsung meneriaki Ara. "Ara!"
"Ya, ada apa?" Shiera harus lebih banyak bersabar menghadapi Ara, yang semakin hari, semakin menbuat dia naik darah.
"Lo, dengar kan tadi kata gue apa?" tanya Shiera dengan suara yang dilembut-lembutkan.
"Emang, tadi lo ngomong apa?"
"Tol--" ucapan Shiera terpotong.
"Owh, soal itu, gue sih bisa ajah nyuruh mereka buat diam, tapi gue gak mau! gue bahagia lihat perdebatan ini, gue gak munafik." Ara menyindir Shiera yang memang pada dasarnya Shiera pasti bahagia karena perdebatan ini.
"Kok, ngomong kaya gitu sih?" mata Shiera sudah berkaca-kaca.
Asky melihat Shiera hampir menangis, langsung saja bertindak.
"Ara, lo bisa gak, bicara yang sopan sama Shiera!" Shiera tersenyum kemenangan, karena Aska membelanya. Ara yang melihat senyuman Shiera itu tidak kalah pintar, ia mencoba untuk mengikuti alur yang diciptakan oleh Shiera.
"Owh, cup, cup, cup, gue minta maaf yah, gue udah gak sopan sama lo." Ara berdiri dan berjalan menuju Shiera dengan ogah-ogahnya, Ara memeluk Shiera.
Kalian tau gimana ekspresinya Shiera? Terkejutnya bukan main, matanya melotot seakan ingin keluar, dalam hatinya berteriak histeris karena orang yang dia benci berani memeluknya. 'Sungguh menjijikan,' batin Shiera berteriak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Viloona
Teen FictionGadis yang tak dianggap oleh keluarganya demi orang lain, harus berakhir di dunia. Namun, ia memiliki keinginan untuk melakukan pembalasan dendam. Hingga akhirnya ia merelakan tubuhnya di tempati oleh seorang gadis; gadis berkepribadian ganda. Deng...