Chapter 18 ~ The Journey

277 91 66
                                        

~18~
Perjalanan

🍃

Alighty memandang dengan tatapan dingin. Manik bening kecoklatannya tidak berhenti menyaksikan tempat-tempat yang mereka lewati tanpa bersuara. Menatap gemerlapnya lampu-lampu jalan dan keramaian yang melintas di pusat kota.

Banyak kekacauan berseliweran dalam kepalanya. Ia semakin tidak bisa memahami apa yang terjadi dengan perjalanan hidupnya.

Sejak resign ada banyak hal yang terjadi di luar pemikiran. Ia bahkan tidak pernah membayangkan jika sekarang berada di samping seorang pria yang bernama Halvard. Sikap pria itu akhir-akhir ini juga sering kali membingungkan.

Ia memejamkan matanya sekian detik dan berpikir. "Haruskah aku memercayainya? Atau apakah dia memiliki tujuan yang tidak aku ketahui? Aaahg... Aku tak bisa membaca situasiku, pikiranku benar-benar kacau," batin Alighty.

Hampir lima belas menit berlalu, namun suasananya sangat kaku. Tidak ada yang mereka bicarakan. Percakapan di antara mereka sudah lenyap di terpa angin malam. Dan yang terdengar hanya suara kegaduhan otomotif yang lalu lalang di sepanjang jalan raya.

Tidak lama kemudian Halvard menepi dan kendaraan mereka berhenti. Ia mencondongkan dirinya lebih dekat pada wanita itu, lalu meraih sabuk pengamam, mengulurnya perlahan, serta memasangnya bagi Alighty.

Alighty akhirnya menyadari ternyata ia belum mengenakan sabuk pengaman saking sibuknya berpikir. Matanya melebar menjurus pada Halvard yang sangat dekat dengan wajahnya.

Selesai memasang sabuk pengaman, Halvard spontan berpaling kepadanya dan menatap Alighty dalam-dalam. Halvard sengaja mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Alighty, sehingga jantung wanita itu menjadi berdecak tak selaras.

Tatapan membunuh dari sepasang manik biru samar Halvard membuat kedua bibir Alighty tak bisa berkata apa-apa. Sorot mata Alighty melemah. Ia mencoba menghindari tatapan mendalam Halvard, menghindarinya agar tak ada sapuan lembut yang terjadi.

Tapi dengan tiba-tiba jemari telunjuk Halvard menyentuh bibir ranumnya, "Mau sampai kapan bibirmu ini diam? Apa kau sanggup bungkam dariku sepanjang perjalanan?"

Hening...

Halvard kembali menarik dirinya dari hadapan Alighty, lalu mengemudi melanjutkan perjalanan.

Alighty mengatur napasnya dalam-dalam. Ia membuang lagi tatapannya jauh ke luar jendela, menerawang pada gemerlap lalu lintas yang padat tanpa merespon ucapan Halvard barusan.

"Kita akan sampai setelah hampir tengah malam. Kau tidak ingin makan terlebih dulu?" Halvard bertanya karena perjalanan mereka lumayan jauh.

"Apa?" Alighty benar-benar tidak fokus.

"Aku bertanya, kau tidak lapar?"

"Ehm, ya! Tentu saja. Aku lapar. Kita harus mencari makan malam dulu." Ia menjawab dengan sedikit terbata-bata.

"Kau mau makan apa?"

"Apa saja, aku bisa," ucapnya santai membiarkan Halvard menentukan pilihan. Dia tahu bahwa pria itu pasti mencari western food.

"Kau mengenal Bali lebih baik dari padaku. Jadi, biarkan aku mengikuti seleramu," elak Halvard membiarkan Alighty saja yang memilih.

I Choose You [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang