"Cuman sakit dikit, Thena" Bujuk Athea.
"Itu kan lu, gue beda lagi ceritanya" Athena mulai sedikit berkaca kaca. Demi apa dia takut sekali dengan kaum suntik. Athea menggelengkan kepalanya melihat kakak kembar yang sebegitu takut dengan jarum kecil.
"Peluk sini, jangan liatin suntikannya" Kali ini Lune beraksi, memeluk Athena berharap dia tidak terlalu takut. Perlahan juga mengarahkan tangan Athena yang tidak diinfus agar bisa dijangkau Zayden.
"Kakak, hitung dulu" Kata Athena takut takut ia memejamkan matanya erat.
"Iya iya" Sahut Zayden dengan tawa ringan, sepertinya adik nya ini takut sekali dengan jarum kecil ditangannya.
"1, 2" Pada hitungan kedua Zayden telah menyuntikkan jarum kecil itu ke lengan Athena. Sedangkan Athena meringis karena merasakan sakit. Zayden benar benar orang yang licik, pikirnya.
"Dah selesai, gini dari tadi kan cepet. Gak sakit kan?" Tanya Zayden merapikan sarung tangan yang ia pakai dan meminta perawat kembali setelah makan siang tertata rapi. Tak lupa menaruh HP iPhone yang sama dengan milik Athea di dekat Athena
"Sakit tau. Apalagi Dokter nya nggak pinter matematika. Gimana bisa dalam hitungan dua udah di suntik. Harusnya kan hitungan ketiga" Dumel Athena masih nyaman dengan bahu Lune sebagai bantalan kepalanya. Sesekali ia menggigit dessert kemudian mengambil lagi jika habis.
"Emang Kakak bilang mau suntik di hitungan keqtiga? Enggak kan?" Tanya Zayden mengambil single chair di samping Athea. Sepertinya ia memang lebih akrab dengan Athea daripada Athena kedepannya.
"Hais, pokoknya kakak salah. Ya kan Bang?" Tanya Athena dan Lune hanya mengangguk setuju.
"Tuh kan, Abang Lune aja setuju" Senang Athena mendapat pion pendukung.
"Emang kakak salah, Thea?" Giliran Zayden yang bertanya pada Athea. Athea yang tengah sibuk mencoba macaron segera menggelengkan kepalanya.
"Tuh, Athea aja tau. Kakak ini nggak salah, kan kamu sendiri tadi yang suruh ngitung tapi-"
"Dadd cari kalian, ada yang mau dibahas katanya" Seorang pria tak dikenal Athena maupun Athea menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi dilihat dari reaksi Zayden dan Lune, mungkin itu orang dekat mereka.
"Kami akan kembali, jangan lupa minum obatnya" Pamit Zayden lalu mendahului Lune untuk keluar.
Sedangkan Lune yang berada di tengah tengah si kembar meninggalkan kecupan lembut baru setelahnya mengikuti Lune. Orang tanpa nama yang kelihatannya berada di kisaran umur 27/28 tahun itu menatap si kembar dengan tatapan yang sulit di artikan. Sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan Si Kembar dalam tanda tanya.
"Kenyang" Gumam Athena yang telah menghabiskan setengah dessert di depannya.
"Kalo nggak salah inget, bukannya senin besok ada Tryout?" Tanya Athea mengotak atik handphone barunya.
"Wah, bener. Baru inget gue. Terus gimana dong izinnya. Mana gue nggak inget nomor Kael, apalagi Cindy ama Rahel" Panik Athena.
"Kalo nitip ke Kak Lune kira kira dia mau nggak ya?" Usul Athea.
"Kalo nggak mau, kita sendiri aja yang ke rumah Kael sebentar buat nitip ijin." Athena menemukan plan B di rencana mereka.
"Thea, ke resepsionis yuk?" Tawar Athena yang sudah duduk di kursi roda.
"Ngapain? Katanya tagihan rumah sakit dah dibayar" Tanya Athea yang masih nyaman duduk sambil scroll komik di HP nya.
"Minta tambahin Brankar disini. Yakali kita bobo berdua di Brankar, ya meskipun muat. Tapi gue takut nyenggol tangan lu, dan takut kesenggol kaki lu juga. Ntar tambah lama kita di rumah sakit kan nggak lucu, cuman gara gara ulah kita sendiri." Jelas Athena dengan sabar, ia sudah menjalankan kursi roda tepat di depan pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Athe(n)a
Teen FictionSampai kapan pun, kuharap kita tetap sehat dan saling melindungi.
