PART 13

1.4K 100 28
                                        

Haiiii.

Enjoy.
Seperti biasa, budayakan vote sebelum baca:p

*******



"Ayo jawab, Nat!" teriak Khansa yang sudah kejang-kejang menunggu jawaban dari si cantik Natasya. Aku pun begitu, berusaha untuk menutupi rasa gregetku karena Natasya kelamaan mikir. Apa sih yang ada diotaknya sekarang? Lama-lama gila melihat dia yang celingukan entah memikirkan apa. Aku sudah bisa menebak, pasti dia menyukai Kak Fadly, walaupun sebenarnya aku sangat berharap kalau dia menyukaiku, tapi itu sangatlah tidak mungkin. Perbandingan aku dan kakakku sangatlah jauh dan aku tau itu.

Semenit, dua menit, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir tipisnya. Semua orang sudah melotot memperhatikan Natasya yang semakin menutup mulut. Dia kenapa sih? Tinggal bilang saja apa susahnya?

"Se, se, sebenarnya..." Natasya mulai berbicara. Membuatku semakin deg-degan mendengarnya. SEBENARNYA APA? Ayolah! LAMA-LAMA GUE BEGAL BARU TAU RASA! :(

Ya Tuhan, jika memang apa yang aku pikirkan menjadi kenyataan, sungguh aku pasti akan kecewa. Kecewa berat yang sebenarnya baru pertama kali dirasakan. Bak ribuan volt menyerang dada, aku sudah tidak kuat menahan penasaran yang tercipta. Greget gini.

"Selamat malam anak-anak remaja, kalian sedang apa disini? Gak ikut renang juga?" seorang perempuan separuh baya berhijab yang ku tau itu adalah istri Pak Nurwan, menyapa dan duduk diantara kami. Dia tersenyum ramah membuat kami merasa haus dan semakin menjadi-jadi karena kehadirannya membuat Natasya semakin tutup mulut. ARGH. Mengganggu momen saja. Kalau bukan istri Pak Nurwan, mungkin kami akan menghiraukannya.

"Eh, Ibu. Iya nih kita lagi ngobrol-ngobrol aja," jawab Khansa sambil tersenyum getir yang kutebak pasti sedang menyembunyikan rasa gregetnya. Yaiyalah pasti, udah tegang-tegang nunggu jawaban dari Natasya, ehhh ada gangguan. Damn.

"Ibu boleh ikut ngobrol engga? Bosen nih gaada temen dari tadi," kata Ibu itu sambil menunduk tapi tetap memperlihatkan senyumannya yang menurutku, manis. Untuk seumurannya, bolehlah dikatakan cantik.

"Oh boleh-boleh." jawabku ketika mengetahui kalau Ibu itu duduk diantara aku dan Arinda. Suasana canggung dan hening dilatari oleh gemericak air membuat malam ini semakin greget. Rasa penasaranku yang sudah menguap tiba-tiba disurutkan begitu saja. Engga suaminya, istrinya, bikin kezel. Parah!

"Ohaha terimakasih ya. Sebenarnya, tidak enak juga sih ikut gabung sama kalian. Kaya ABG saja," ucap Ibu itu sambil tetap tersenyum. NAH ITU IBU TAU, KENAPA MASIH ADA DISINI?:(

"Tidak apa-apa, Bu." kata Arinda sambil berpindah tempat sedikit untuk memberi tempat luas kepada Ibu itu.

"Sebelumnya, perkenalkan dulu yah. Nama ibu, Sonya Budiman. Biasa dipanggil TanSon oleh anak-anak angkatan tahun lalu yang diwalikelasi sama suami ibu. TanSon itu singkatan dari Tante Sonya. Entahlah, mereka yang buat. Awalnya mau Bu Sonya tapi kalau disingkat sepertinya tidak enak,"

Ohmm, TanSon banget? Kok aku kepikiran tokoh 'Samson' di TV ya? Ngakak juga sih kalau dipikir-pikir. Eh tunggu, asalnya mau Bu Sonya? Berarti kalau disingkat jadi BuSon dong? Plis. Buson banget? Kenapa ngga Bison sekalian biar kekinian gitu?:(

"Hai, TanSon!" sapa Alief sambil diam-diam menahan tawa. Plis, ini ngakak.

"Jadi, apa yang akan kita bicarakan?" ucap Ibu itu lagi sambil tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Sangat menunjukkan kalau ia antusias untuk mengobrol bersama kami. Terlintas di kepalaku sosok mama. Keingintahuannya untuk mengikuti perkembangan zaman sangat mirip dengan mama. Ibu modern mungkin, entahlah.

BROTHERS: The Same GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang