Hai.
Oke, enjoy!
Budayakan vote sebelum baca:p
**
Hahhhhhhhhh
Mengapa sekarang sudah harus sekolah lagi Tuhan? Masih kurang liburannya nih. Waktu tiga minggu masih tidak cukup untuk bersenang-senang dari yang namanya buku dan alat tulis lainnya. Aku masih ingin bermain-ria bersama teman. Masih ingin berkecimpung dalam dunia liburan yang bebas. Masih ingin berleha-leha dan yang lainnya. Tapi mengapa semuanya begitu cepat? ARGH.
Dengan mata yang masih sulit untuk dibuka, aku paksakan berdiri menuju kamar mandi. Bagaimana pun juga ini sudah hari sekolah. Dan sekarang aku adalah siswa kelas 12. Tingkatan siswa tertinggi dari tiga tingkatan yang ada di SMA. Tidak ada kakak kelas lagi. Yang ada sekarang adalah aku kakak kelas tertinggi bagi mereka para adik kelas. Haha. Enaknya bisa berkuasa.
Aku masih ingat dengan Khansa yang katanya sudah berhasil membujuk Pak Nurwan agar kami berlima bisa di-sekelas-kan kembali. Tentu saja kalian sudah tau siapa kami berlima, kan? Tidak lain dan tidak bukan adalah suatu kelompok belajar amatir yang beranggotakan aku, Alief, Khansa, Arinda, dan si cantik Natasya. Memang sangat tidak seru jika kami dipisahkan. Mengingat banyak sekali momen-momen yang sudah kami ciptakan. Senang atau sedih, selalu hadir disaat kami bersama. Itulah yang menyebabkan kami selalu kompak dalam mengerjakan tugas dari guru.
Oh iya, mengenai Natasya, keadaan diantara aku dan Natasya sudah kembali seperti dulu. Sudah bisa saling mengobrol dan menyapa satu sama lain. Sudah bisa lagi bercanda dan tertawa bersama. Mengapa ini bisa terjadi? Entahlah tapi perkataan Natasya saat kami bertatapan lewat jendela, membuatku sadar dan berusaha juga untuk melupakan kejadian itu.
"Gung. Memang aku ga ngerti kenapa kamu meluk aku waktu itu. Aku bingung deh beneran. Karena kejadian itu juga, kita jadi saling jauh dan saling menghindar. Kita menjadi seolah-olah tidak kenal satu sama lain. Jujur aku sedih. Bukan karena apa-apa sih. Cuman aku gamau hubungan pertemanan kita rusak. Aku gamau menjadi ga enak sendiri karena ngehindarin kamu. Aku juga gamau melihat kamu yang ngehindarin aku. Jadi intinya, aku ingin hubungan kita kaya dulu lagi. Bisa saling mengobrol dan bercanda satu sama lain. Aku ingin kayak gitu lagi. Lebih-lebih kita kan teman sekolah sekaligus tetangga dekat."
Yah begitulah. Ucapannya sangat menyejukkan hati. Ternyata kami memang saling tidak nyaman jika jauh-jauhan itu diperpanjang. Dan sekarang, bendera kedamaian sudah berkibar di langit. Menandakan bahwa hubungan aku dan Natasya sudah seperti dulu lagi. Yang pastinya, sebagai teman. Sekali lagi, sebagai teman. Biar greget, SEBAGAI TEMAN. BYE!:(
Dingin sekali pagi ini. Buru-buru aku masuk ke kamar tidur sambil mengenakan handuk yang dililitkan ke pinggang. Membuka lemari lalu mengambil baju seragam hari senin yang sudah lama tidak aku sentuh. Jangankan disentuh, diingat aja idih ogah banget. Dan sekarang, aku kenakan lagi. Sret sret sret aku kenakan dengan cepat semua seragam itu dan mulai bercermin. Biasa, merapikan rambut seperti pemain sepak bola favorit ataupun aktor-aktor dunia favorit juga.
Apa aku terlihat tampan?
YA, kebiasaan itu bangkit lagi.
Sudah selesai, dengan cepat aku bergegas ke bawah untuk sarapan. Menyusuri tangga lalu masuk ke dapur. Sudah tampak berdiri tegak di sana sosok mama yang sedang membereskan meja makan. Di meja itu terdapat roti, selai kacang, selai coklat, dan selai nanas. Sangat menggugah selera. Mengingat bahwa selai nanas adalah rasa favoritku untuk disatukan dengan roti. Yea!
Aku mulai duduk di kursi. Tidak lama, Nabila datang dengan ekspresi berseri di wajahnya. Cantik. Andai saja sikapnya padaku secantik wajahnya. Menyebalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERS: The Same Girl
Teen Fiction-Story Completed- (prev tittle; Aku atau Kakakku?) Bagaimana rasanya ketika kita harus menerima kenyataan kalau cinta pertama kita, adalah cinta pertama kakak kandung kita juga? Miris sekali bukan? Kehidupan cinta masa abu-abu yang seharusnya meny...
