Terimakasi yang udah nyempetin votment dan ngasih tanggapan. Terimakasi juga kepada silent reader yang diam-diam membaca. Semoga dibukakan pintu hatinya untuk menjadi active reader ya. Amin
Enjoy!
Budayakan vote sebelum baca;p
**
Suasana pagi-pagi di kelas begitu mencekam. Mengingat akhir-akhir ini Bu Elis sudah mengeluarkan jati dirinya. Auman-auman yang sering dikeluarkan dari mulutnya sukses membuat siapapun yang mendengarnya merinding sekujur tubuh. Ternyata ungkapan 'baik di awal' itu 100% benar. Mungkin seminggu beliau memperilakukan kami layaknya manusia. Namun sesudah itu, kami seperti kancil-kancil yang dipimpin oleh satu ekor singa.
Saat ini, walaupun Bu Elis belum datang, suasana di kelas begitu hening. Siap-siap menghadapi hari kamis yang pelajaran pertamanya adalah ekonomi. Tidak ada yang bermain ponsel, mengobrol-ria, jalan-jalan, dan sebagainya. Kami sekarang sedang duduk tertib di kursi masing-masing untuk menyambut kedatangan Sang Ratu Narnia.
Krek!
Suara pintu masuk terbuka. Menandakan pertempuran batin akan segera tiba. Siapkan mental, siapkan fisik, sebentar lagi pesta akan dimulai. "Assalamualaikum," ucapnya lalu berjalan ke arah kursi dan duduk disana.
"Waalaikumsalam." jawab kami serentak. Sesudah itu, hening lagi. Fix ini kelas cocok untuk dijadikan tempat uji nyali. Merinding gilaa!
"Kenapa pada tegang gitu? Ohhh pasti kalian kangen sama Ibu ya? Saking kangennya jadi tegang gitu, kan?" katanya lagi sambil mengeluarkan beberapa buku dan laptop dari tasnya. Apa katanya? Kangen? HAHAHAHAHA BANGET! SAKING KANGENNYA JADI PENGEN BUANG AIR.
Tidak ada yang menjawab ucapannya. Kami malah saling bertatapan tidak mengerti. Ini orang sekarang lagi ngajak bercanda atau apa? Demi langit dan bumi, GARING TO THE MOON AND BACK.
Bu Elis kemudian menyalakan laptopnya. Kami hanya diam menikmati suasana yang kian lama kian mendingin. Beliau tetap terfokus pada laptopnya, meninggalkan kami yang hanya berduduk-ria di kursi sambil bertatapan bingung harus melakukan apa. Ini kelas horror banget ya. Kapan-kapan mau diajuin ke rekor muri Indonesia ah. Sebagai, Kelas terhorror dan terhening se-Indonesia, tahun 2015 sampai selamanya. Kayaknya cocok. Hm.
"Bagus!" teriaknya lumayan kencang yang sukses mengagetkan seisi ruangan kelas. Sungguh mengagetkan! Kelas yang sedari tadi sepi kayak kuburan, tiba-tiba diteriaki. Siapa yang ngga kaget? "Terimakasih karena sudah mengerjakan tugas-tugas yang ibu berikan." lanjutnya.
Ohhhhh tugas? Kirain apa. Kalau tugas dari Ibu pasti bakal dikerjakanlah. Semendadak apapun kalau tugas dari Ibu pasti dikerjakan. Memangnya siapa yang mau dapat hukuman sadis? Tidak ada.
Kami hanya tersenyum mendengar ucapannya. Melihat ekspresi beliau yang seakan gembira, membuat suasana mendadak mencair dikit. Tidak seperti awal-awal tadi.
"Tapi kalau dilihat-lihat, ada satu orang yang menurut Ibu terbaik dalam mengerjakan soal-soal yang telah Ibu berikan," lanjutnya lagi dengan menatap kami satu per satu. Terbaik? Wiihh sudah pasti itu adalah Arinda. Mengingat dialah murid ter-rajin di kelas ini. "Tepuk tangan untuk, Luntoro Agung Sebastian."
Apa? Aku? Terbaik? Kok bisaaa?! Hahaha Horeeee! Yeah!
Tepuk tangan seketika terdengar riuh. Teman-temanku berteriak dan bertepuk tangan ke arahku. Aku hanya diam sambil tersenyum getir. Tidak tau harus senang atau tidak.
"Jawaban-jawabannya lengkap dan mendetil. Ibu kira tidak ada satupun dari kalian yang mampu mengerjakan soal itu dengan baik. Eh ternyata ada, Agung mengerjakan semuanya dengan sempurna. Hebat kamu, Gung!" ucapnya lagi sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Mendengar itu, semua orang semakin menatap ke arahku. Aku hanya bisa diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERS: The Same Girl
Teen Fiction-Story Completed- (prev tittle; Aku atau Kakakku?) Bagaimana rasanya ketika kita harus menerima kenyataan kalau cinta pertama kita, adalah cinta pertama kakak kandung kita juga? Miris sekali bukan? Kehidupan cinta masa abu-abu yang seharusnya meny...
