PART 37

1.2K 85 11
                                        

VOTE VOTE VOTE


**


-Agung POV-


Angin malam yang dingin menggoyangkan pohon-pohon di sisi jalan. Lampu-lampu terlihat terang benderang sejauh mata memandang. Jendela kamar menopang tangan dan daguku yang sedang melihat ke langit tenang. Ya, ini jam setengah delapan malam. Aku sedang diam saja di jendela kamar. Entahlah, tapi rasanya perasaanku sangat damai jika berada disini.

Pandanganku lurus melihat jendela disebrang. Ya, jendela itu adalah jendela kamar Natasya. Setengah mati aku merindukannya saat ini. Dia sedang berada di Surabaya. Jarak yang cukup jauh memang. Tapi Khansa bilang, Natasya besok pun akan pulang karena lusa sudah ujian. Pelajar yang lain mungkin sedang belajar sekarang. Tapi aku? Boro-boro. Otakku sedang penuh oleh Natasya. Tidak muat jika harus dimasuki materi-materi pelajaran.

Apa aku harus menelponnya saat ini?

Setelah aku mengetahui tentang perasaan dia yang sebenarnya, aku belum mengajak dia bicara lagi. You know, its too awkward to start the convertations. Sesungguhnya aku ingin sekali memulai hidup baruku diawali dengan mengungkapkan perasaanku kepadanya. Walaupun dia sudah tau, tapi dia kan belum mendengarnya langsung dari bibirku. Aku tidak muluk-muluk harus seperti Kak Fadly yang mengubah taman menjadi tempat paling romantis sejagad, tidak. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku dengan caraku sendiri. Yang apa adanya, tapi berkesan.

Nah sekarang, baru aja mau malah dianya pergi. Eh, Gung. Istigfar. Dia pergi karena keluarganya ada yang meninggal.

Aku menggeser-geser menu ponsel. Tidak tau apa yang harus aku lakukan. Tangan sudah gatal ingin menelpon Natasya, atau setidaknya menyapanya di pesan. Tapi aku bingung bagaimana harus memulainya. Aku seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Ya walaupun emang sih karena dia kan cinta pertamaku. Tapi jujur, aku sangat lemah dalam hal ini.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menelponnya. Rasa rinduku jauh lebih besar dari rasa maluku.

Aku menempelkan ponsel di telinga, menunggu seseorang mengangkat panggilan. Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik, tidak ada jawaban. Sampai akhirnya,


"Halo?" suara wanita yang aku rindu akhirnya terdengar. Suaranya terdengar serak. Jantungku tiba-tiba bergetar. Aku tidak tau harus apa setelah ini.

"Malem, Nat." Kataku berusaha tenang. Padahal ingin sekali aku berteriak 'WOY GUE KANGEN ELO WOY!!!' but, hmmm, just forget it. I don't want to make her feeling more bad.

"Malem juga, Gung."

"Hmm, maaf malem-malem nelpon. Ganggu ngga?" tanyaku hati-hati. Idiot memang.

"Ohaha gapapa kok. Yap ada apa?" Dia terdengar antusias untuk berbicara denganku.

"Kamu lagi apa?" tidak ada lagi yang harus aku katakan selain itu.

"Aku lagi diem di mobil. Di rumah itu banyak banget keluarga jadi aku mau tidur disini aja."

"Ikut berduka cita ya."

"Iya makasih."


Dan,


Hening.


Aku lihat layar ponsel. Telponnya masih terhubung. Tapi kami tidak berbicara satu sama lain. Aku sangat canggung sekarang.

BROTHERS: The Same GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang