PART 16

1.5K 98 6
                                        

Hai.
Oh iya, mau bilang. Selama menulis di dunia per-wattpad-an, Authornya gapernah ngelakuin re-check, re-read, re-edit, dan re re lainnya. Authornya pemalas? Biarin:p jadi, kalo ada kesalahan tanda baca, typo, atau kejanggalan kalimat, harap maklum. Oke? Oke~

Enjoy!
Budayakan vote sebelum baca;p

**

"Janji ya kalian gak akan ceritain ini ke siapa-siapa?" kata Natasya masih dalam ekspresi yang sama. Yaitu, datar. Entah mengapa kok ekspresinya lurus begitu kaya yang udah disetrika.

"Janji!" teriak kami berempat serentak. Semangat '45 pun berkobar diantara kami berempat.

Gila! Masa iya murid baru si Zul itu mantan pacarnya Natasya? Jika iya, hebat sekali dia bisa meluluhkan hati seorang princess yang perasaannya sulit ditebak. Caranya gimana ya?

"Asal kalian tau, Zul itu adalah cinta pertamaku. Dia yang mengenalkan aku apa itu namanya pacaran, apa itu perasaan berbunga-bunga, apa itu rasa kangen, rindu, terbang," kata Natasya sambil menatap kosong ke depan. Aku sangat serius mendengarkan ini walaupun hatiku serasa dikucek-kucek. "Dan pada akhirnya dia juga yang mengenalkan aku pada rasa sakit hati, nyesek, terkhianati, dan lainnya"

"Terus?" kata Khansa sambil menopang dagu dan menatap Natasya tanpa berkedip.

"Ceritain dari awal dong!" kata Arinda yang tak kalah kepo. Aku dan Alief hanya diam saja menjadi pendengar.

"Begini, di SMA dulu. Zul adalah cowo paling hits seangkatan. Banyak banget cewe yang jatuh hati sama dia. Kecuali aku ya. Aku gapernah suka sama cowo yang so tebar pesona kayak dia. Tapi ada gosip bilang, kalo dia itu katanya suka ke aku. Ah, aku sih nganggepnya biasa aja. Ga terlalu percaya dan emang gamau peduli sama yang begituan. Eh ternyata," Natasya berhenti sebentar lalu meminum kopi yang ada di hadapannya. Menarik nafasnya sebentar tapi masih tetap berekspresi datar.

"Rifa, sodara dia yang juga temen baik aku. Bilang kalo Zul itu katanya suka banget sama aku. Zul sering curhat ke Rifa tentang aku. Nah dari sana, gatau kenapa aku juga jadi baper ke Zul. Ehh beberapa hari kemudian, Zul nembak aku di depan kelas. Romantisss banget. Kata-katanya bikin ngefly ke langit. Yaudah aku langsung terima aja," lanjut Natasya sesekali tersenyum tipis. Tapi sedetik kemudian, wajahnya datar lagi. Kulihat teman-teman yang lain terdiam sambil tetap memasang telinga. Aku pun begitu, walaupun hatiku sudah serasa di tombak seribu kali, aku tetap bertahan.

"Hari-hari aku lewati dengan penuh gembira. Penuh bunga-bunga. Penuh dengan senyuman karena Zul selalu bersikap baik dan romantis. Ya aku tau kalo itu cinta monyet. Tapi, perasaan-perasaan seperti itu baru pertama kali aku rasain dan gamau untuk ngelepasnya. Sampai suatu saat, dia berubah. Dia tidak lagi perhatian dan bersikap romantis. Dia terlihat cuek dan gapeduli. Itu semua sukses membuat aku bertanya-tanya dan juga sakit hati," lagi, Natasya menghirup udara sebentar, lalu menyeruput kopi yang ada di tangannya. Matanya mulai memerah dan terlihat berkaca-kaca.

"Sampai suatu hari, pulang sekolah, aku ngeliat dia pegangan tangan sama cewe lain dan naik motor bareng. Sementara aku yang masih menjadi pacarnya, ditinggal gitu aja. Cukup tau atas sikapnya yang playboy dan tukang selingkuh itu. Aku langsung pulang ke rumah dan nangis di kamar. Sampai akhirnya, dia mengirimi aku sebuah pesan. Dia minta putus hubungan dengan alasan mau fokus belajar. Hahaha," Natasya tersenyum dengan air mata yang turun dari mata sebelah kanannya. Ahhh, aku tidak kuat melihat ini. Aku tidak bisa melihat Natasya menangis.

"Dibohongin itu gaenak. Diselingkuhin itu gaenak. Dijanjipalsu-in itu gaenak. Luka itu sampai sekarang masih ada. Terbentuk jelas hingga aku sulit sekali untuk suka ke cowo. Aku selalu nganggep cowo itu sama aja. Bisanya cuman bikin terbang diawal." lanjutnya sambil mengusap pipi kanannya yang terkena air mata. Ya Tuhan, baru kali ini aku melihat dia begini. Baru kali ini dia terbuka tentang perasaan dan masa lalunya.

BROTHERS: The Same GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang