PART 34 (Flashback: Natasya Feelings [1])

1K 86 28
                                        

Nih yang udah gatel Natasya POV.

Your waiting is finally over guys xx

VOTE VOTE VOTE


**


-Natasya POV-


Ponselku berdering mengharuskanku menghentikan acara memotong cabai. Yap, aku sedang membantu bunda memasak resep barunya. Bunda dulunya memang pernah sekolah khusus memasak. Jadi jangan salah, selain cantik, bunda juga pintar memasak. Membuat papa lebih memilih makan masakan bunda dari pada masakan hotel berbintang.

Aku mengambil ponselku yang aku taruh di atas kulkas.

"Halo?" sapaku langsung tanpa melihat siapa yang menelpon.

"Pagi, Nat." Suara ceria hadir di sebrang sana. Ini suara Khansa. Aku melihat nama di layar, ternyata memang Khansa.

"Pagi!" jawabku tidak kalah ceria.

"Lo lagi apa?"

"Lagi bantuin bunda masak resep barunya. Bunda udah belanja banyaaak banget. Ada apa nelpon?"

"WIHH MADEP TUH! Gue lagi bete nih di rumah. Gue boleh ngga main ke rumah lo?"

"Yahh kalo mau main, datang aja langsung kesini. Rumah gue selalu terbuka buat lo mah."

"Beneran nih? Emangnya lo gaada acara gitu sama keluarga lo?"

"Hari ini sih kayaknya engga."

"Bener? Ajak Arinda juga ya?"

"Iya. Ajak Pak RT sama Pak RW sekalian juga gapapa."

"Beneran ya? Oke gue sama Arinda otw."

"Ditunggu."

Haduh. Ada apa mereka ini. Biasanya kalau main, langsung datang ke rumah. Tapi yasudahlah. Aku kembali lagi ke acara memotongku. Ini jam delapan pagi, acara memasak sudah 30 menit. Ini baru pengolahan bumbu. Masih banyak hal-hal yang belum dikerjakan. Ya bagus deh. Aku akan menyuruh teman-temanku untuk membantu. Mau tidak mau mereka harus memasak. Hahaha.

"Bunda, nanti bakal ada Khansa sama Arinda kesini. Mau main katanya." Ucapku seraya mengambil pisau.

"Oh ya? Baguslah. Sekalian mereka suruh cobain masakan bunda yang baru ini." jawabnya sambil fokus menggiling rempah-rempah.

"Papa pergi, bun?"

"Engga. Papa masih tidur di kamar. Dia pulang ke rumah hampir tengah malam. Ada piket katanya jadi dia kecapean."

"Oh gitu. Yaudah papa juga ntar cobain masakan bunda."

"Iya pasti."


Satu jam berlalu. Suara bel tiba-tiba terdengar. Aha! Itu pasti mereka. Dengan cepat aku meninggalkan dapur menuju pintu depan. Setengah berlari aku menggapainya, lalu aku buka. Tampak sudah Khansa dan Arinda berdiri dengan wajah berseri. Huh, kayaknya mereka berdua sedang bahagia. Entahlah, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas.

Aku mempersilahkan mereka masuk. Awalnya mereka duduk di sofa ruang tamu. Tapi mereka tiba-tiba ingin join denganku memasak di dapur. Katanya sih ingin belajar. Apalagi kan bundaku sangat antusias dan baik hati jika ada orang yang ingin belajar padanya. Bunda memang tidak pelit ilmu. Terlebih teman baikku yang ingin belajar.

Bunda menyambut mereka dengan hangat. Hal itu membuat mereka berdua lebih akrab mengobrol dengan bunda dari pada denganku. Sial! Berasa jadi anak ilang aja.

BROTHERS: The Same GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang