PART 38 (Perfect Night)

1.3K 95 33
                                        

VOTE VOTE VOTE.


**


-Agung POV-


"Ohh jadi kemarin lo pulang kesini, mau ngapain?"


Aku dan Kak Ilham sedang berbincang-bincang di ruang tamu. Sebelumnya aku menyuruh Nabila untuk membeli sendiri kue ulang tahun mama. Siapa sangka, aku akan bertemu lagi dengan laki-laki brengsek dan ngeselin ini? Hebat sekali. Yang katanya mau menetap di Australia tapi beberapa bulan udah kesini lagi, hmm.

"Iya. Gue pengen aja kesini. Liburan sebelum kuliahlah. Gue juga kangen si Fadly. Eh dia udah di Singapura aja. Apa perlu gue susul?" Kata Kak Ilham sambil memakan kue kacang yang tersedia di meja.

"Lo kangen abang gue, atau kangen..." kataku berusaha memancing dirinya.

"Kangen siapa? Kangen lo? Idih najis ogah banget gue!" jawabnya sambil bergidik.

Bangsat! Kok malah aku yang kena!

"Anjir. Lagian siapa juga yang mau dikangenin lo," Aku menggerutu sebentar. Dia malah terkekeh sendiri. "Maksud gue, lo gak kangen si mantan?" lanjutku lagi.

"Kangen si mantan? Tunggu-tunggu. Mantan yang mana ya? Anjir banyak banget gue lupa."

"Euh tai. Gue baru inget lo si playboy cap kapak. Itu tuh si mantan terakhir." Aku tau, pasti Kak Ilham sudah menangkap maksudku. Mantan yang aku maksud itu Arinda. Aku yakin dia hanya pura-pura tidak mengerti.

"Arinda? Ah biasa aja."

"Ah masa sih. Kok gue yakin lo belum bisa lupain Arinda ya?"

"Tau dari mana lo bangsat!"

"Bukannya dulu lo bilang kalau Arinda itu satu-satunya cewek yang bikin lo lebih baik? Cewek pertama yang bikin lo keingetan terus kapanpun dan dimanapun? Cewek yang bisa ngerubah segala sifat ke-playboy-an lo yang udah mendarah daging? Cewek yang,"

"UDAH TAI JANGAN FLASHBACK TERUS!"

Tuhkan. Aku pasti benar. Kalau dipikir-pikir sih dia pasti belum sepenuhnya melupakan Arinda. Aku tau betul bagaimana perasaannya ke temanku itu. Secara akulah yang membantu dia sampai dia benar-benar mendapatkan Arinda. Aku bisa menilai kalau Arinda lah satu-satunya mantan yang terbilang berhasil membuat dirinya lebih baik. No Alcohol, No Club, No Smoke, dan no no no lainnya.

Lucu juga sih lihat Kak Ilham sekarang. Aku jadi mengingat masa-masa curhat sama dia, main sama dia, dan dijahili sama dia. Pengalaman buruk bersama orang yang disebut sahabat karib oleh Kak Fadly.

"Jadi, lo kuliah ngambil apa?" tanyaku ingin tau lebih lanjut kehidupannya di Australia.


"Gue ngambil manajemen bisnis. Secara orang tua gue bersikeras ingin gue yang jadi ahli waris perusahaannya kelak. Maka dari itu gue udah tau kemana hidup gue berlanjut. Padahal kalo dipikir-pikir gue juga ingin jadi penulis sih." Katanya yang membuatku terkejut sebentar.


Penulis? Dia mau nulis apa dibukunya hah?

"Yaudah lo jadi pebisnis dan penulis aja. Kan kece tuh. Emangnya lo mau bikin buku apaan?" tanyaku akhirnya.

"Ohhh. Gue mau bikin buku tentang bagaimana menjadi seorang playboy sejati."

"ANJING GUE SERIUS BANGSAT!"

Aku hampir membalikkan meja karena ucapannya itu. Plis anjir aku sudah fokus ke arah pembicaraan. Aku sudah berpikir apa dia akan menciptakan sebuah novel roman atau fiksi sains, atau mungkin dia mau membuat buku tentang pebisnis. Yakali bikin buku tentang bagaimana menjadi seorang playboy sejati. Dia mau didemo sama semua cewek di dunia? Kalau mau ya silahkan aja.

BROTHERS: The Same GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang