Budayakan vote sebelum baca..
**
-Author POV-
Di malam yang hening itu, Agung mengeluarkan air matanya. Dia tidak menyangka kalau hari ini, adalah hari dimana semua ketakutan itu terjadi. Walaupun ia tau kalau kejadian ini akan datang, tapi ia tidak siap untuk menyambutnya baik sekarang, besok, ataupun selamanya. Rasa sakit yang teramat dalam, sakit yang mengantarnya ke jurang penyesalan karena ia belum sepenuhnya melupakan gadis idolanya itu.
Alief menatap sahabatnya dengan penuh kepedihan. Alief merasakan apa yang sahabatnya rasakan. Dia hanya ingin menjadi orang pertama yang peduli kepada sahabatnya itu. Walaupun dia tidak tau solusi apa yang akan membuat sahabatnya menjadi tidak sedih lagi. Tidak mungkin kalau Agung akan sembuh dalam waktu dekat. Gadis itu sudah benar-benar membuat Agung buta dengan segala hal.
Agung sekuat tenaga menahan air matanya supaya tidak jatuh lagi. Sudah cukup air mata yang selama ini dia keluarkan untuk hal yang sia-sia. Dia tidak mau lagi membuang air matanya sekarang. Tapi apa daya, hatinya masih tidak bisa menghapus bayang-bayang gadis yang sudah tertancap paku berlapis beton. Nama gadis itu tetap menempel dihatinya walaupun dia sudah berusaha mencabutnya dengan sekuat tenaga.
Otak boleh berkata kalau kita bisa cepat melupakan orang yang kita cinta. Tapi hati? Tidak.
Kakak kandungnya, malam ini akan resmi menjadi pemilik hati gadisnya itu. Siapa yang sangka kejadian ini akan terjadi setelah dia baru saja merasakan kebahagiaan bersama teman-teman seperjuangannya dahulu? Apa kebahagiaan itu akan cepat berganti dengan kesedihan yang tidak tau kapan habisnya?
"Lief, kenapa harus ngedadak kayak gini, sih? Gue.. gue belum siap." kata Agung lirih disela-sela tangisannya. Tidak ada yang bisa Alief lakukan selain mengusap pelan pundak sahabatnya itu. "Kenapa Kak Fadly tega sih ngelakuin ini ke gue? Iya gue tau, kalau dia pasti kecewa karena gue punya perasaan yang sama ke Natasya. Tapi plis beri waktu buat gue lebih lama lagi. Gue ceria, bukan berarti gue udah ngelupain dia, kan? Kenapa, Lief, kenapa?"
Alief mendekap Agung di rangkulannya. Dia tidak mau jika Agung pingsan di tempat. Siapa bilang itu tidak akan terjadi? Alief tau betul tentang perasaan Agung. Dia bisa tumbang begitu saja, jika dihadapkan dengan situasi seperti ini.
"Udahlah, Gung. Tenang. Belum tentu Kak Fadly diterima kan?" kata Alief mencoba menghibur.
"UDAH PASTI BAKAL DITERIMA! SIAPA SIH DI DUNIA INI YANG GAAKAN NERIMA KAK FADLY?" Agung mulai menghapus air matanya perlahan dengan tangan yang bergetar. Sekali lagi, ini begitu mendadak buat Agung. Bahkan dia tidak diberi waktu untuk membuang perasaannya sepenuhnya.
"Yaudah, sekarang lo berdiri. Masa kapten yang udah berkali-kali membawa timnya juara pertama tingkat provinsi bisa lemah kayak gini cuman gara-gara cewek?" ledek Alief yang tujuannya untuk membangkitkan semangat Agung.
"Sialan lo!" seru Agung sambil berusaha bangkit lagi dari duduknya.
"Lagian ya berpikir positif aja dulu. Iya gue ngerti sama perasaan lo kok, tapi jangan langsung runtuh di tempat gitu dong!"
"Anjir! Ya Allah semoga orang yang di depan gue sekarang suatu saat merasakan apa yang gue rasakan sekarang. Aamiin." Agung mengadah ke atas dengan air mata yang tersisa di matanya.
"Bangsat lo!" Alief menjitak kepala Agung sekenanya. "Jadi sekarang lo mau kemana?" tanya Alief lagi.
"Bawa gue ke taman itu sekarang." jawab Agung singkat tapi berhasil membuat Alief melebarkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERS: The Same Girl
Teen Fiction-Story Completed- (prev tittle; Aku atau Kakakku?) Bagaimana rasanya ketika kita harus menerima kenyataan kalau cinta pertama kita, adalah cinta pertama kakak kandung kita juga? Miris sekali bukan? Kehidupan cinta masa abu-abu yang seharusnya meny...
