PART 32 (Changed)

1K 84 13
                                        

Budayakan vote sebelum baca.


**


-Author POV-


"Gue dimana?"


Akhirnya Agung membuka matanya. Ini sudah satu jam dari dia pingsan tadi. Kepalanya masih teramat pusing jadi dia tidak bisa bangkit dari tidurnya. Agung hanya melihat ke sekeliling, dan tersadar kalau dia sedang berada di UKS. Agung melihat satu sosok perempuan berada di depannya. Perempuan itu tersenyum lalu mendekat.

"Nih minum dulu." Kata perempuan itu ramah. Agung berusaha bangkit untuk duduk bersandar. Ia tidak mau jika harus tertidur begitu saja walaupun pusing dikepalanya masih belum hilang. Agung pun menyadari, kalau yang ada di depannya adalah Rifa. Agung meminum air putih itu sekali tegukan sampai habis. Entahlah, mungkin dia kehausan.

"Makasih." Jawab Agung singkat kemudian menyandarkan dirinya ke tembok sambil menutup mata.

"Lo kenapa bisa pingsan sih? Gue cemas banget tau." kata Rifa sambil menaruh gelas itu di atas meja.

"Belum sarapan, eh dihukum di tengah lapang, terus pusing deh. Gue juga gainget kalo gue pingsan tadi." Agung tidak membuka matanya.

Rifa melihat wajah Agung dalam-dalam. Ini bukan seperti Agung biasanya. Tampak sekali kalau dia sedang depresi dan banyak masalah sekarang. Di dalam hati Rifa, ingin sekali dia membantu meluruskan lagi hidup Agung. Untuk saat ini, mungkin? "Hmm yaudah deh. Tadi yang lain ada disini kok. Cuman sekarang mereka lagi ke kantin."

"Mereka? Siapa?" tanya Agung penasaran.

"Siapa lagi kalau bukan Alief, Zul, Khansa, Arinda, dan... Natasya." Jawab Rifa hati-hati.

"Ohhh.. okay," Agung mulai membuka matanya. Tatapan kosong itu masih ada. Sedasyat itukah dampak dari kejadian semalam? Sebegitu depresinya kah dia? "Natasya, ga nanya penyebab gue jadi gini, kan?"

"Nanya kok."

"Terus dijawab apa?"

"Lo lagi ada masalah keluarga, dan juga lo belum sarapan. Udah gitu aja."

"Dan dia percaya?"

"Iya."

"Oh hmm bagus deh."

Agung mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Dari kemarin malam, Agung tidak memainkan ponselnya. Terakhir memakainya adalah saat dia mendapat telpon dari Alief pas di taksi. Agung mulai mengutak-atik ponselnya. Banyak sekali pesan dan pemberitahuan yang ia terima. Agung melihat ada ratusan pesan yang ia belum baca. Dia tidak mau membuka pesan-pesan itu. Karena dia yakin isinya pasti tentang hal kemarin malam. Itu akan membawa dia ke jurang kesedihan lagi. Ya walaupun dia sekarang memang masih berada dalam jurang.

Rifa juga tidak berbicara apa-apa lagi. Mereka berdua sibuk dengan ponsel masing-masing. Sampai akhirnya, Alief, dan yang lainnya pun datang. Hal itu membuat Agung terkejut karena Natasya pun ada di belakang.

"Lo udah bangun, hah?" kata Alief tersenyum, sambil memakan snack yang ada ditangannya.

"Akhirnya lo bangun juga. Kirain gue lo udah mati." Lanjut Zul.

"Dosa apa gue punya temen kayak lo pada." Agung menyipitkan matanya. Mereka lalu tertawa. Kalau Agung sama Alief sih sudah sering begini. Saling mengejek, dan sesudahnya menertawakan dirinya masing-masing. Tapi kalau Zul? Ini yang pertama kali buatnya. Dia memang punya banyak teman, tapi dia tidak punya teman baik. Beruntungnya Zul, dia mendapatkan teman baik seperti Alief dan Agung. Kehadiran mereka berdua membawa kesan sendiri karena dia baru merasakan apa itu persahabatan sebenarnya.

BROTHERS: The Same GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang