Eh ketemu lagi. Selamat liburan ya.
Lupakan beban sekolah sejenak okay? Okay.
Happy reading.
Budayakan vote sebelum baca:p
**
"GUA BILANG TIDAK, YA TIDAK!"
Teriakku tepat di depan wajahnya. Aku sudah tidak tahan lagi. Dia membuatku terpojok. Aku harus menghentikan ini atau keadaan akan memaksaku untuk menceritakan semuanya. Maafkan adikmu ini, Kak. Aku tidak bermaksud marah atau sejenisnya. Aku hanya ingin menghindar dari semua ini. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitau semuanya. Jangan bertanya kapan waktu yang tepat itu datang, karena aku sendiri pun tidak tau. Yang jelas, bukan saat ini, besok, ataupun lusa.
"Lo tau diri gua kan? Gua termasuk orang yang terbuka. Jadi sudah jelas tidak ada yang gua sembunyikan, rahasiakan, atau apalah. Lupakan apa yang udah Kak Ilham bilang. Oke? Gua hanya ingin mandi dan istirahat. Jangan menghalangi dan mengintrogasi gua dengan hal-hal yang gua pun gangerti. Selamat malam." Lanjutku dengan ekspresi dingin lalu bergegas meninggalkan Kak Fadly yang terdiam karena ucapanku. Maaf, bukan maksudku membentak, tapi aku tidak tau harus melakukan apa.
Aku menaiki tangga dan secepatnya masuk ke kamarku. Aku melemparkan sepatu yang aku jinjing ke sembarang tempat dan begitu juga tasku. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur dan mencoba menenangkan tubuhku yang bergetar hebat. Memang selalu begini. Bila aku memiliki masalah yang serius, pasti aku akan stress.
Ya Tuhan, kenapa Kak Ilham mesti bilang hal itu ke Kak Fadly, sih? Kalau udah gini kan jadi rumit. Entahlah, kalau dia belum pergi, detik ini juga aku akan datang ke rumahnya, terus ngedobrak pintu kamarnya, terus aku gorok! ISH!
Saat aku sedang berimajinasi, ponsel di saku kiri celanaku tiba-tiba bergetar. Itu menandakan bahwa ada yang menghubungiku sekarang. Biasanya kalau jam segini yang nelpon pasti Kak Ilham. Tapi sekarang tidak mungkin.
Buru-buru aku mengeluarkan ponselku dan melihat siapa yang menghubungiku. Oh Zul, ada angin apa dia menghubungiku saat ini? Dan ini, pertama kalinya dia menelponku. Biasanya kalau ada apa-apa dia hanya mengirimiku pesan. But whatever, aku angkat saja. Oh iya, tadi dia ngga sekolah, tanpa kabar pula. Hmm.
"Hallo, Luntoro Agung Sebastian disini, apa ada yang bisa dibantu?" ucapku seraya menempelkan ponsel ke dekat telinga.
"What the hell? Aslian lo mirip kasir restoran yang mau order!" jawabnya spontan.
"Gile lo! Yaudah ada apa?"
"Gua mau ngomong sesuatu, hmm bisa dibilang gua mau curhat aja. Dan gatau kenapa pengen ceritanya ke lo. Ada waktu?"
Hah? Curhat? Idih anak karate ternyata suka curhat juga.
"Curhat ya curhat aja kali." Jawabku cuek.
"Serius, Gung."
"Sebenarnya gua baru pulang, gua cape, gua pengen tidur, dan lain-lain. Tapi berhubung gua males di rumah, oke deh. Jam 8 di kafenya Khansa. Gua mau mandi dulu."
"Sip! Makasi."
"Yo."
Aku menutup telponnya. Sepertinya berada di luar rumah mungkin akan membuat perasaanku lebih baik. Bukan maksudku ingin menjauhi Kak Fadly. Tapi dalam situasi seperti ini aku tidak mau berkomunikasi dengannya. Untuk sementara waktu, maybe.
Aku bergegas menuju kamar mandi. Tubuhku sangat lengket oleh keringat. Rasanya ingin segera melepas seragam.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat tubuhku bersih dan segar kembali. Secara aku bukan tipe orang yang suka lama-lama berada di kamar mandi layaknya kebanyakan orang. Merenunglah, melamunlah, nyanyi-nyanyi gajelaslah, atau terkadang serasa konser pribadi gitu. Hm, aku tidak suka. Maaf bila ada yang tersinggung ya. (Termasuk Author-nya)
KAMU SEDANG MEMBACA
BROTHERS: The Same Girl
Novela Juvenil-Story Completed- (prev tittle; Aku atau Kakakku?) Bagaimana rasanya ketika kita harus menerima kenyataan kalau cinta pertama kita, adalah cinta pertama kakak kandung kita juga? Miris sekali bukan? Kehidupan cinta masa abu-abu yang seharusnya meny...
