Senja kukenang pada keningmu.
Saat kau menatap Fajar.
Antara tangis dan cakrawala.
Hening ini bagai keningmu.
Waktu angin dan kenang tak bersuara.
Sesenyap lukisan bulan tentang bibirmu.
Perempuan adalah "wajah Tuhan" yang paling nyata di muka bumi.
Kekasih, kupanggil kamu di Padang Savana.
Kuteriaki agar namamu lebih luas dari kesepianku.
Aku tidak menangis, kekasih.
Aku cuma tak tahu.
Pada harapan mana lagi air mata akan kusimpan.
Bila dengan air mata pun tak sanggup aku menjumpaimu, dengan doa bagaimana lagi dapat ku ketuk pintu rumahmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tak Pernah Selesai
PuisiKumpulan puisi untuk kekasih pertama. Meski kau tak kunjung jadi rumah. Bila kelak kau akhirnya tak terjamah. Akan ku kenang kau sebagai luka yang paling berdarah.
