:
:
:
:
:
°•°
:
°•°
"Chu are you horny?"
Pertanyaan jennie hanya mendapat gelengan resah dari gadis didepannya, lagipun jisoo tidak mengerti apa itu 'horny'. Yang jelas jisoo tahu adalah bahwa sekarang badannya begitu terasa seperti disengat, terasa gerah dan panas.
"Buka jennie buka!" Jisoo kembali berucap, jennie yang tersadar mengerut kan keningnya. Kameja piyama atas Gadis itu sudah terbuka, apalagi yang jisoo minta buka?
"Chu..." Jennie berlirih, ia jelas bingung apa yang harus dilakukan. Dia gak pernah sama sekali menangani seseorang yang tengah horny.
"Ck..shit!" Umpat jennie, gadis bermata kucing itu hanya menatap khawatir pada gadis didepannya yang tengah menggeliat merasakan hawa panas yang semakin menyebar pada tiap sudut tubuhnya.
"Jennie..." Lirihan jisoo pelan, suaranya memelan.
"Tolong jichu...."
Jennie memegang kepalanya sendiri, jujur ia hanya sedang berusaha menghilang kan pikiran kotornya dari pemandangan di depannya. Pundak yang indah, kulit putih mulus yang mengkilat oleh keringat, dadanya yang imut, kilatan keringat dileher yang terasa begitu sangat menggoda.
Siall..
Jennie bisa basah,
Tegukan ludah yang terasa begitu susah, jennie mengerjap2 matanya beberapa kali menahan hawa nafsunya sendiri. Tapi entahlah..
Otaknya tidak bisa berpikir jernih, ia ingin menyentuh tubuh indah gadis itu. Mencium setiap inchi dari kilatan indah kulitnya.
Jisoo merintih dibawahnya, tangannya yang berkeringat menarik tangan jennie. Tepat ia taruh pada payudaranya yang tertutup oleh bra sportnya.
"Jennie...gatal..enghhhh~"
Jennie mengerjap menatap tangannya yang telah menempel pada payudara sang gadis, otaknya berpencar rasa ingin meledak. Jisoo dengan sendirinya menekan tangan jennie agar lebih menyentuh payudara daranya, bibir love kecil itu terbuka mendesah. Hanya tekanan ringan dan gadis itu merespon begitu berlebihan.
"Jennieeee~ lagihhh...emmmhh, lagihhh~" rintihan jisoo mengalun pada telinga jennie yang membatu, tubuh jennie ikut berkeringat merasakan hawa panas yang membara. Terasa gerah dan menggairahkan, menatap bibir gadis itu membuatnya ingin menghisap secara bergantian, melumatnya dengan begitu bernafsu.
"Chu... Can i?"
°•°
"Tolong aku Lisa, bukakan rest sletingnya sebentar" Gadis berponi dengan masih berkameja itu segera beranjak dari ambang pintu, dengan sigap iya menyentuh bagian penarik reslesting yang akhirnya ia turunkan kebawah membuat punggung mulus chaeyong terpampang jelas dimatanya.
"Kau sudah selesai bikin susunya?" Chaeyong bertanya, Lisa mengangguk tersenyum. Ia lantas sedikit menyingkirkan helayan rambut yang terurai menutupi punggung chaeyong.
"Jangan mandi..." Ujar Lisa, chaeyong sedikit mengkerut kening. Namun tangan Lisa lebih dulu mengagetkan ketika tangannya lancang merayap pada pinggang chaeyong.
