.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
•••
"Jisoo akan memiliki jadwal terapi, kami sudah membicarakannya dengan nyonya Tae hi. Dan beliau menginginkan jisoo untuk terapi dengan Dr. Namjoon" pria berkacamata itu tersenyum, sementara Jennie maupun Fanny hanya mampu mengangguk sebagai jawaban.
Namjoon datang dengan beberapa berkas yang sudah di tanda tangani oleh wali jisoo, sebagai pemantau dan peterapi khusus. Namjoon jelas sangat tidak ingin menganggap ini hal sepele.
"Kalian tenang, kapanpun itu aku tidak akan melarang kalian untuk menjenguk jisoo. Nyonya Tae hi menitipkan jisoo, bahkan jika bisa Jennie bisa terus mendampingin jisoo selama terapi dijalankan." Namjoon tersenyum diakhir kalimatnya, kelegaan tampak menyeruak di relung hati Jennie maupun Fanny. Awalnya keduanya sangat takut tidak bisa bertemu jisoo selama terapi yang dijalankannya, bersyukur karena nyonya Tae hi sangat mengerti keadaan.
"Aku mempercayakan semuanya padamu namjoon oppa, semoga semuanya berjalan dengan lancar.."
Jennie menggenggam tangan Fanny menyalurkan betapa dia sangat berharap tentang kesembuhan jisoo.
•••
"Ayok katakan lagi, samchonn.."
"Emhh emh, baiklah.."
"A..aku, a..aku. Fanny ak___"
"A..u a.. u a, kenapa bicara samchon seperti orang gagap?" Lisa bangkit dari duduknya menyimpan cemilan nya di samping kursi, lalu menggeser Donghae dan memperagakan apa yang donghae lakukan.
"Fanny, aku ingin kamu kembali untuku. Aku akan memperbaiki semuanya dan membuat keluarga kita bahagia dengan jisoo" lisaa bangkit dari simpuhannya,
"Seperti itu samchon.." ujarnya mencemooh donghae, meski Donghae sudah muak dengan gadis poni dihadapannya. Tapi ia tidak bisa melawan apapun, hanya Lisa yang mau ia bujuk untuk membantunya dekat lagi dengan sang mantan istri.
Dengan sedikit grogi Donghae kembali berlutut, dua tangannya memegang sebuah buket bunga yang ia angkat tinggi-tinggi sesuai yang Lisa contohkan.
"Fanny, a..aku ingin rujuk"
"Terlalu pendek! Imo pasti menolak samchon kalo begitu."
Donghae menghela nafas, lalu kembali memperagakan gerakan yang Lisa ajarkan.
"Fanny, aku ingin menikah lagi__"
"Kau ingin meminta izin imo untuk menikah lagi samchon!?" Lisa memotong dengan lantang, diambang kesabaran Donghae berdiri dan memukul poni Lisa dengan buket bunga yang ia pegang.
"Bisa kah kau mendengarkan ku sampai selesai? Dasar bebek sialan.." Donghae menggurutu sementara Lisa sibuk mengelus jidatnya yang terkena tamparan buket bunga Donghae.
"Fanny, aku ingin kembali padamu membangun rumah tangga yang lebih baik. Aku akan memperbaiki semuanya dan menjadi ayah dan suami yang lebih baik juga." Donghae bangkit setelah lapalan nya terasa lancar dari sebelumnya, ia menatap Lisa dengan sombong.
"Bagaimana"
"Good, ayo pilih setelan jas untuk samchon."
