.
.
.
.
.
.
.
•••
Donghae tidak bisa menganggap sepele rasa sakit kepalanya akibat jambakan mau dari sianak kucing garong, ia hampir tidak bisa bernafas dan menyadari tubuhnya sudah dalam posisi telungkup dengan Jennie yang menindih punggungnya.
Meskipun dalam hati Donghae berharap ada seseorang yang membantunya, namun saat ia melihat kearah pintu ruangan Fanny malah memberi jempol besarnya dengan tatapan tajam pada Donghae..
"Good!" Gumam Fanny.
Sementara Lisa hanya mengintip dari balik pintu, poni gadis itu tampak terlihat dari separuh ruang yang disisakan chaeyong. Donghae tau gadis bebek sialan itu takut menghadapinya, dan tentu saja sipaling santai dalam setiap kondisi adalah keponakan tersayang nya.
Park chaeyong, selama ia memegang sesuatu untuk dimakan mungkin dunia akan terus baik-baik saja dimatanya.
Setelah keterkejutan Donghae akibatan jambakan maut di wanita kucing, rasa sakit karena tangannya mulai ditahan diatas punggungnya dengan posisi telungkup membuat Donghae menggerang.
"Jennie sayang... Daddy jelasin dulu yahh"
"Waeee!?? Daddy memeluk jichuku?, milikkuuu!!!" Ujar Jennie, suara rutukannya persis seperti suara gerangan kucing yang sedang marah.
" Jennie, aniyaa...jichu tidak papa" suara pelan menginterupsi, Donghae merasa bersyukur diam-diam karena pada akhirnya jisoo menyela kemarahan Jennie.
"Katakan pada Jennie apa yang sudah dilakukan Daddy pada jichu?" Jennie menoleh kearah jisoo, melepaskan cengkeramannya pada tangan Donghae.
Sedangkan jisoo menimang memikirkan bagian mana yang harus di ceritakan pada kekasih kucing nya itu.
"Daddy menyuapi jichu, dan menyuruh jichu membuka mulut yang besar. Seperti Aaaa~" jisoo menjelaskan, ia tertawa diujung ceritanya seperti membayang sesuatu yang lucu baginya.
"Dan Daddy memeluk jichu, dan meminta maaf..dan jichu tidak marah." Jisoo menggeleng ditengah ceritanya
"Tidak marah sama sekali Jennie.." ujarnya, Jennie menghampiri gadis lucu itu. Mencium keningnya, sementara donghae bangkit meregangkan badannya yang hampir remuk akibat serangan tiba-tiba dari sikucing garong.
"Well, aku perlu penjelasan mengapa kamu disini Kim Donghae?" Suara tegas Fanny mengalihkan perhatian Donghae, wanita itu menaruh beberapa belanjaan diatas meja dan mendapati sebuah bunga mawar yang sudah layu diatas sofa.
"Mungkin samchon ingin rujuk, Lisa yang mengat___"
"Aishhh chaeyongahhh~" Lisa memotong chaeyong dengan sedikit panik, ia pasti akan di omelin habis-habisan oleh Fanny karena mengijinkan Donghae untuk datang kesini.
"Waee?" Chaeyong menoleh memasang wajah polosnya, sementara pandangan Fanny dan Jennie sudah terarah pada Lisa.
"Chaeyong benar, aku kesini untuk berdamai denganmu. Dengan Jennie, jisoo..dengan kalian." Donghae berkata dengan pelan, ia mendadak tidak tahu harus bagaimana sekarang.
"Dengarr, Lisa tidak salah. Aku yang membujuknya untuk membantuku, aku tau kesalahanku tidak termaafkan. Aku hanya tidak tahu malu karena ingin memperbaiki semuanya." Lanjut donghae, wajah Fanny berubah sendu saat ia mendengarkan perkataan sang mantan suami.
Tak bisa dipungkiri bahwa perasaan nya pada Donghae masih sama seperti sebelumnya, hanya ia tidak mau egois. Ia tidak ingin memilih sesuatu yang dibenci anaknya, Fanny yang menemani Jennie saat bahkan Jennie hidup begitu menderita. Ia bahkan menyaksikan bagaimana Jennie layaknya seperti mayat hidup, dan tidak ada Donghae saat itu. Pria itu sibuk dengan urusannya, kekayaan, jabatan..
