.
.
.
.
.
.
.
.
.
●●●
" nyonya tae hi?" Pria dengan lengan terikat itu akhirnya terbangun dari tidurnya yang terpaksa, mata nya menajam kala hal yang harus ia lihat adalah kematian di hadapannya.
"Suthhhh! Anak mu sedang sekarat taeyang, jangan berisik" taeyang menolah panik, menatap pada tubuh kai yang tergeletak bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
"Tidak!, apa yang kau lakukan!?" Pria itu mengeras dengan emosinya yang menguap, sedangkan tae hi malah merasa geli di ujung asa nya yang telah hilang.
"Seperti yang kau lakukan? Anggap saja jika anakmu tengah mendalami peran seperti cucuku ketika kau menabraknya." Wajah taeyang berubah pucat pasi, jisoo adalah cucu dari tae hi. Kepalanya berputar mencerna sebuah fakta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Bagaimana bisa?
Gadis itu sebatang kara..
"Kau___"
"Aku bisa membuat mu dipenjara seumur hidup taeyang, tapi melihatmu yang tidak sama sekali menyesal. Kurasa bermain-main denganmu cukup mengasyikan." Tae hi mengambil sehelai cambuk, menariknya melawan angin dengan setengah tenaga nya.
Lalu jeritan dari pria bajingan itu terlantun begitu keras.
●●●
"Kapan chaeyong, lisa dan mommy akan datang?" Suara serak jisoo menginterupsi, Jennie menoleh tersenyum sementara ia tengah memotong kuku jari tangan jisoo yang sudah sangat panjang.
"Mungkin malam ini, mereka membeli beberapa makanan sayang.." Jennie menarik telunjuk jari jisoo dan memotong bagian kuku luarnya yang sudah panjang, tentu kuku sepanjang itu akan melukai jisoo jika ia menggaruk kulitnya.
"Emhh, kapan jichu boleh pulang?" Jisoo kembali bertanya, sedangkan Jennie selesai dengan pekerjaannya. Ia kembali menoleh pada gadis kecil dengan selang oksigen dihidunngnya.
Mengecup pelan bibir kering nan pucat itu.
"Secepatnya, pastikan jichu meminum obat dan selalu makan dengan teratur." Jennie menyimpan gunting kuku diatas meja, lalu menarik selimut jisoo lebih atas.
"Jichu sudah meminumnya tadi, Jennie yang bantu." Gadis itu menunjuk Jennie, mengingat ia hampir memuntahkan kembali tablet pahit yang disebut obat tadi.
"Lain kali, jichu tidak boleh memuntahkannya." Jennie mengelus surai lengket gadis manis itu, menatap jisoo yang tiba-tiba mengerucutkan bibirnya.
"Rasanya pahit Jennie, seperti sesuatu yang gosong." Gadis itu berpura-pura memuntahkan sesuatu dari mulutnya, sementara Jennie terkekeh menahan gemas.
"Tentu saja, obat memang pahit chu. Tapi setidaknya itu mengobati, itu akan terasa biasa saja jika jichu sudah biasa." Helaan nafas pasrah terdengar, Jennie hanya kembali mengelus jidat jisoo dengan pelan mengetahui efek obatnya mulai berjalan. Mata gadis manis itu mulai terlihat berat dan sayu..
"Apakah Jennie akan keluar?"
"Keluar kemana?"
"Kemanapun, ketoilet..atau keluar pintu itu." Jisoo menunjuk pintu ruangan, Jennie menoleh setelah ia melihat arah yang ditunjukan jisoo dan mendapati gadis itu dilanda kekhawatiran.
