[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
SETELAH beberapa hari merebahkan tubuhnya di ranjang perawatan, akhirnya Leora bisa kembali menenggelamkan dirinya ke kasur sutra yang hangat. Ia membiarkan kepalanya tenggelam dalam bantal, matanya menatap langit-langit sembari berpikir tentang apa yang harus ia lakukan sekarang. Ada begitu banyak hal yang tertunda karena sakitnya kemarin.
"Aku senang kau pulih dengan cepat, Leora," suara Akalle membuyarkan lamunannya.
Leora menoleh, lalu tersenyum kecil sebelum beranjak dari tempat tidur dan duduk di depan meja rias. "Ini semua berkat Dewa."
"Kau pasti sudah bosan minum obat."
Leora terkekeh, mengangkat bahu. "Tidak terlalu. Aku sudah cukup terbiasa dengan rasanya."
Sambil menyisir rambutnya perlahan, Leora menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya telah kembali segar, tidak lagi pucat seperti beberapa hari lalu. Obat-obatan dan salep yang diberikan Aetius ternyata benar-benar manjur.
"Jadi beberapa utusan Athena masih di sini?" tanyanya, menyinggung tamu-tamu dari negeri sebelah.
Akalle kemudian membantunya mengepang rambut. "Aku dengar begitu, termasuk juga adik ipar Calista. Katanya, mereka akan kembali setelah konsultasi Orakel Delphi."
Leora mengernyit. Ia mengira mereka sudah kembali bersama Calista dan suaminya beberapa hari lalu. Rupanya, masih ada yang tinggal di Thebes hingga waktu konsultasi tiba. Barangkali mereka ingin menghemat perjalanan. Jarak dari Thebes ke Athena, lalu Athena ke Delphi, tidaklah dekat.
Bahu Leora sedikit turun. "Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit canggung kalau ada tamu yang lama-lama di istana."
Akalle mengangguk kecil, tangannya masih sibuk menyematkan jepit ke kepangan Leora. "Tapi tidak dengan Tuan Aetius, kan?"
Leora nyaris tersedak udara. Untung saja, ia berhasil menyamarkannya dengan meraih terwelu kecil yang melompat di dekat kakinya. Ia menggendongnya lalu menyuapkan selembar daun hijau.
"Bukankah dia imut sekali?" Leora mendekapnya gemas.
"Benar." Akalle ikut mengelus bulunya. "Aku jadi ingin memeliharanya. Apakah boleh kuajak jalan-jalan?"
"Kenapa tidak minta kepada ayahmu saja? Aku yakin dia tidak akan keberatan."
Akalle menghela napasnya. "Dia pasti akan menyuruhku untuk segera menikah daripada memelihara seekor terwelu."
Leora terkekeh pelan. Kenapa kehidupan mereka hanya berputar pada kata menikah dan rumah tangga? Apakah tidak ada pencapaian lain bagi seorang wanita selain menjadi istri seseorang?
"Kau berusaha menghindari pembicaraan, Leora," dengus Akalle.
"Tidak," kilahnya.
"Jadi bagaimana perkembanganmu dengan pemburu itu?"