[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
AGORA sudah dipadati oleh rakyat Thebes yang berkumpul untuk musyawarah. Mereka mengantre panjang, menunggu giliran untuk mengisi daftar pertanyaan yang nantinya mungkin akan disampaikan kepada Orakel Delphi saat hari konsultasi tiba. Kesempatan ini selalu disambut dengan antusias, sebab Apollo hanya berkenan menurunkan ramalannya melalui Pythia sekali dalam sebulan—kecuali saat ia pergi ke Hyperborea selama musim dingin.
Ketika tanggal konsultasi tiba, seluruh orang Yunani berbondong-bondong menuju Delphi. Mereka datang dengan harapan mengetahui nasib mereka, entah itu terkait urusan kenegaraan atau kepentingan pribadi. Namun, tidak semua pertanyaan akan mendapat jawaban. Sering kali, ada yang harus pulang dengan gigit jari karena sang dewa tidak berkenan memberikan petunjuk atau malah menunda jawabannya hingga waktu yang dianggap tepat.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Leora mendekap terwelunya dengan erat. Dia mengamati sekitaran balai kota yang dipenuhi warga. Antrean mengular panjang hingga ke jalanan pasar dan tampak semakin memanjang saat ia melewati gapura masuk.
"Sejak kapan kau memelihara terwelu?" tanya Arsen begitu menangkap sosok berbulu yang tengah dipeluk adiknya.
"Sudah sejak beberapa waktu lalu."
"Apa pemburu itu yang memberikannya padamu?" selisik Arsen.
Leora menghela napas panjang. Kenapa semua orang selalu salah paham soal peliharaannya?
"Tidak. Aku menemukannya di halaman Asklepion."
"Mungkin dia sengaja melepaskannya di sana," gumam rendah Arsen sehingga Leora memutar bola matanya.
Matanya kemudian tertuju pada pintu gedung balai kota yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar riuhnya perdebatan. Meskipun perempuan memang tidak diperbolehkan mengikuti musyawarah secara langsung, tetapi mereka diizinkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan agora.
"Apa aku tidak boleh melihat ke dalam?" tanyanya.
"Tidak boleh. Itu aturannya."
"Padahal aku penasaran," gumamnya masih menoleh ke arah pintu.
Dari balik pintu, suara para pria terdengar seru, mengingatkan Leora pada suasana pertandingan gulat. Sayangnya, sekeras apa pun ia berusaha mengintip atau mencuri dengar, tak ada yang bisa didapatkan selain kegaduhan.
"Percayalah, di dalam sana sangat membosankan."
Wajah Leora mencomel. "Yang aku dengar justru kebalikannya."
"Salam, Pangeran. Maaf aku terlambat."
Leora menoleh cepat begitu mendengar suara akrab yang menyapa mereka. Kemarin, ia memang mengatakan bahwa laki-laki itu boleh melihat musyawarah di agora. Namun, ia tidak menyangka kalau mereka akan benar-benar bertemu di sini seperti sekarang.