[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
300 pengorbanan. Itulah yang Leora dengar dari para dayang. Thebes akan menggelar persembahan besar untuk memperoleh hati Phoebus Apollo demi kemakmuran. Bagi mereka, tidak ada yang lebih penting selain menerima berkat dan restu dari Dewa Olympus agar masa depan lebih cerah.
Hari ini, Leora duduk di beranda menemani ibunya merangkai laurel. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Jarinya masih lincah memilin daun dan ranting, tetapi bibirnya beberapa kali melengkung tanpa sadar, seakan menyimpan sesuatu yang manis dalam benaknya.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Leora?" tegur ibunya, membuatnya tersentak kembali ke dunia nyata.
"Tidak ada apa-apa, Ibunda," jawabnya cepat.
Sadar ia terlalu lama melamun, Leora buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Apakah kita juga akan membuat 300 karangan laurel?"
"Tentu saja." Dimitra tersenyum sekilas, tangannya tetap cekatan menata daun-daun hijau itu. "Para pria sedang berburu sapi dan menggali mata air, maka kita harus membantu dengan cara lain."
Leora mengangguk paham. Ia sudah terbiasa dengan pekerjaan ini. Ibunya yang mengajarkannya sejak kecil, membimbingnya untuk menekuni tugas-tugas rumah tangga dengan telaten. Namun, sorot mata Dimitra tiba-tiba menangkap sesuatu yang lain. Seberkas kilauan samar di pergelangan tangan putrinya itu memenangkan perhatiannya.
"Ibu melihat ada yang berbeda darimu hari ini," katanya memperhatikan gelang yang melingkar di pergelangan tangan Leora. "Rupanya karena perhiasan baru yang kau pakai."
Leora sedikit tersipu. "Ini hadiah."
"Dari siapa? Kakakmu?"
Ia menggeleng kecil, tak berani mengakui siapa pemberinya. Jika ibunya tahu bahwa putrinya telah menerima hadiah dari seorang pria yang bukan keluarganya, apalagi secara diam-diam, ia pasti akan terkejut.
Dimitra tersenyum kecil. "Kalau begitu, kenapa tidak memakai kalung yang diberikan oleh Pangeran Athena? Ibu yakin, kalung itu juga sama indahnya."
Leora menahan napas sejenak sebelum tersenyum tipis. "Kalung itu terlalu mewah untuk dikenakan sehari-hari." Jawabannya bukan dusta, tapi juga bukan kebenaran sepenuhnya.
"Kalau begitu, pakailah sesekali saat acara resmi."
Leora hanya mengangguk sebagai jawaban, berharap pembahasan ini tidak berlanjut lebih jauh. Jika ibunya terus bertanya, ia tak yakin bisa menyembunyikan fakta bahwa ia telah memberikan kalung itu kepada salah satu dayangnya.
Tiba-tiba, suara langkah cepat mendekat. "Putri!" panggil Akalle dari kejauhan. Saat melihat Ratu Dimitra, gadis itu segera menundukkan kepala dengan hormat. "Oh! Maaf, Yang Mulia."
"Ada apa, Akalle?" tanya Dimitra.
"Bolehkah aku meminjam Leora sebentar? Kami ingin melihat pertandingan di gimnasium."