[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
EMBUN dari hasil gutasi menguap dari ujung-ujung dedaunan, tersapu cahaya keemasan yang mulai meninggi di atas pegunungan. Sinar mentari pun menembus kabut tipis, menerangi kota dengan aroma tanah yang lembab dan membangunkan tanaman yang semula terlelap dalam kesejukan malam.
Sementara itu di agora, para pedagang mulai membuka kios dan mengatur barang dagangan dengan cekatan. Di ladang, para petani sudah membungkuk di antara barisan tanaman, mengenakan pakaian ringan untuk menghadapi suhu yang terus meningkat. Sabit-sabit saling beradu dengan rumput, mengerek hasil panen terakhir sebelum matahari mencapai titik tertingginya.
Musim panas telah memasuki puncaknya. Sejumlah pekerja menyiapkan irigasi guna menghalau dampak kekeringan yang semakin nyata. Gentong-gentong besar mulai terisi air dari Sungai Ismenus dan Mata Air Dirce, sumber kehidupan yang masih mengalir deras di tengah musim yang menguji ketahanan mereka.
Leora berdiri di ambang jendela, memandangi cakrawala sambil mengusap perlahan gelang yang melingkar di pergelangan tangannya. Langit cerah tanpa awan itu berhasil menerbangkan pikirannya.
"Ke mana dia?" tanyanya, nada suaranya lebih seperti gumaman yang ditujukan pada dirinya sendiri, tetapi Helota yang berdiri di sisinya tetap merespons.
"Pelayan di penginapan tidak melihatnya sejak kemarin. Bertepatan setelah Putri kembali dari kuil, Tuan Aetius berpesan pada mereka bahwa dia akan meninggalkan Cadmea selama beberapa hari."
Leora menghela napas panjang. "Lagi?"
"Sepertinya dia pergi dengan tergesa-gesa. Katanya dia tidak membawa apa pun bersamanya."
Leora berjalan ke meja riasnya, melepaskan perhiasan satu per satu. "Apa hal mendesak itu?" tanyanya yang hanya dibalas dengan gelengan tak tahu dari Helota.
Bagaimana ia bisa merasa yakin akan keseriusan Aetius jika laki-laki itu terus menghilang begitu saja? Dia telah menyampaikan niatnya, tetapi kemudian pergi tanpa kabar, seolah menggantungkan Leora dalam ketidakpastian. Setidaknya, dia seharusnya berpamitan sebelum pergi.
"Tolong ambilkan aku baju ganti," pinta Leora.
"Apa pakaian ini terlalu panas?"
"Aku ingin berburu sebentar sebelum siang terik," jawabnya menyunggingkan senyum kecil.
Selama beberapa waktu terakhir, Leora terlalu sibuk dengan urusan istana dan berbagai perayaan yang dihelat. Kini dengan sedikit waktu luang, dia ingin menikmati kembali kesenangannya—berburu di alam bebas. Dia perlu merenggangkan tubuh dan menyegarkan pikirannya sebelum musim panas berakhir.
Kuda Leora berderap di atas tanah berumput yang kering, menerbangkan debu halus ke udara. Ujung-ujung daun mulai menguning, pertanda bahwa hutan pun mulai merasakan sengatan musim. Meski begitu, pepohonan tinggi masih mampu menahan sebagian besar cahaya matahari dan menciptakan jalur yang teduh.