[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
BADAI yang baru saja menerpa barulah awalannya saja. Hari telah berganti, tetapi bibir merah Leora tetap enggan melukiskan senyum. Sejak semalam, ia masih duduk di kamarnya, kusut dan sembab, membiarkan keheningan menyelubungi dirinya.
Dayang-dayang telah berulang kali membujuknya keluar untuk menghirup angin sejuk, menyaksikan dedaunan kekuningan yang jatuh diterpa musim. Namun, ia bahkan mengabaikan makanan hangat yang mereka suguhkan, membiarkan bubur itu mendingin tak tersentuh.
Gusar menggerogoti hatinya, mengoyak ketenangan yang tak kunjung datang sejak malam itu. Harapannya bertumpu pada tiap kabar yang dibawa Helota. Namun, setiap kali pintu terbuka, yang terdengar justru persiapan pesta, bukannya pembatalan perjodohan seperti yang Aetius janjikan.
"Seharusnya aku langsung pergi dari Thebes semalam. Kenapa aku tetap di sini tanpa kepastian?" gumamnya lirih, keningnya mengerut dalam. "Dia bilang mencintaiku, ingin menikahiku, tetapi kenapa dia tidak melakukan apa pun?"
Jari-jarinya mengelus bulu terwelu di pangkuannya, kelembutannya tidak memberi kehangatan yang ia dambakan. Rasa terabaikan menghimpitnya, terlebih setelah dirinya dipaksa tunduk pada keputusan sepihak ini. Apa lagi yang ia harapkan? Diperjuangkan?
Siapa yang berani menentang titah raja? Mereka bukan dewa yang mampu mengubah takdir dan ditakuti manusia. Bahkan Arsen, kakaknya sendiri—seorang pangeran Thebes—telah dilempar ke dalam kurungan hanya karena menentang keputusan ini.
Leora menggigit bibirnya, rasa getir memenuhi dadanya. Jika para dewa mendengar doanya, ia memohon agar salah satu dari mereka memberinya jalan keluar. Namun, hingga Nyx kembali menyelimuti langit dengan jubah gemintangnya, perjodohan itu tetap tidak dipatahkan.
Chiton berwarna cerah membalut tubuhnya, perhiasan emas menghiasi pergelangan dan lehernya, tetapi tak satu pun mampu menutupi kemuraman yang menguar dari wajahnya. Pesta perjodohan itu telah dimulai. Sorak-sorai memenuhi aula, menjalin keharmonisan palsu di antara para tamu kehormatan.
Sementara itu, Leora duduk dalam diam. Dia hanya mampu mengerlingkan mata ketika kebisingan mulai memekakkan telinga. Kabar yang sampai padanya semakin membebani pikirannya—rombongan Athena sedang dalam perjalanan ke Thebes untuk memboyongnya secara resmi.
Jadi, inilah alasan ayahnya mengundang mereka untuk melihat Daphnephoria kemarin? Bukan untuk sekadar melepas rindu dengan Calista, melainkan untuk mengikatnya dalam perjodohan yang telah direncanakan jauh-jauh hari?
Pantas saja Jonas, pemuda Athena itu, memandangnya dengan mata penuh tuntutan. Ternyata, ia memang telah dijanjikan padanya.
Perut Leora terasa ngilu ketika mendengar para pejabat kerajaan menyatakan persetujuan mereka atas keputusan Raja Eneas. Politik, kekuasaan, dan keuntungan—hanya itu yang mereka pikirkan, tanpa peduli kehidupan siapa yang sedang mereka korbankan.