[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
Langit malam tak begitu gelap dari atas sana. Ketika mereka menatap ke bawah, cahayanya berpendar seperti taburan berlian. Mereka begitu memesona hingga mereka tak pernah bosan menikmatinya dalam keabadian, ditemani rasa manis ambrosia.
Dewi yang duduk di singgasananya menggoyangkan cawan di tangannya. Meski telah menelan cairan manis itu, ujung bibirnya tetap tertarik ke bawah. Bima Sakti hari ini tidak secantik biasanya, seolah terpengaruh oleh konsultasi yang baru saja digelar di Delphi.
Kilauan mata bulatnya tampak menajam, melirik ke arah wanita bergaun warna-warni yang tengah menghadapnya. Dia kemudian meletakkan cawannya dengan helaan napas panjang.
"Katakan berita apa yang kau bawa."
Iris menegakkan tubuhnya. Sebagai pembawa pesan para dewa, ia memang berbagi tugas dengan Hermes. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau ia lebih sering menjadi utusan pribadi Ratu Olympus, Hera.
"Orakel Apollo telah tersampaikan. Ramalannya kini menjadi perbincangan hangat di Yunani dan Olympus," lapornya sembari menyerahkan gulungan nubuat Apollo.
Hera menerima gulungan itu dan mulai membacanya dengan cermat. "Apa kali ini dia mengaitkannya dengan Ares lagi?" tanyanya lirih, berharap menemukan sesuatu yang ia cari.
Jika ada perselisihan yang berujung pada perang, maka putranya, Ares, akan terseret. Sebagai Dewa Perang, ia harus turun ke medan tempur dan mengawasi jalannya pertempuran. Hera tidak menyukai itu karena Ares akan semakin sulit untuk dikendalikan dan semakin menjauh darinya.
Setelah selesai membaca, Hera mendengus kesal. "Kenapa dia begitu gemar berpuisi? Apa tidak ada rincian yang lebih jelas, kapan dan bagaimana tepatnya?"
Iris menundukkan kepala. "Maaf, Dewi. Itu satu-satunya informasi yang kami terima dari Hermes."
Hera meremas gulungan itu lalu meletakkannya di atas meja. "Apollo selalu meramalkan masa depan yang terlalu jauh. Ia kerap melihat kejadian yang baru akan terjadi bertahun-tahun ke depan. Aku hanya khawatir, ramalan kali ini menyangkut sesuatu yang baru akan terjadi beberapa dekade lagi."
Jemarinya dengan lembut mengelus merak yang tertidur di pangkuannya. Namun, ketenangan yang dicarinya tetap sulit ditemukan. Kali ini, bukan hanya Ares yang harus ia perhatikan di bawah sana.
"Apa kau mendengar sesuatu yang menarik?" tanyanya kemudian.
Iris sedikit mendekat. "Sebenarnya, ada satu kabar yang kudengar kemarin," ujarnya membuat Hera menatapnya lebih saksama. "Katanya, Phoebus Apollo sempat membuat keributan di kediaman Aphrodite."
Hera terkekeh kecil sembari menyingkirkan meraknya ke samping. "Benarkah?"