23 || Delphi

348 45 1
                                        

❃❃❃

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❃❃❃

Phaedriades yang bersinar—sepasang tebing megah di lereng Gunung Parnassus—menjulang tinggi, memantulkan cahaya keemasan saat mentari menyentuh permukaannya. Di bawahnya, Delphi terbentang bagaikan permata tersembunyi di jantung Yunani, dikelilingi oleh hamparan pegunungan hijau yang seolah tak berujung. Jajaran hutan pinus memenuhi lereng-lereng, aroma resin menguar di udara, berpadu dengan semilir angin yang membawa kesejukan dari ketinggian. Dari sudut mana pun dipandang, kota suci ini tampak seperti bagian dari alam itu sendiri, tempat di mana langit dan bumi bertemu dalam harmoni sempurna. Semua mata memuji pemandangannya yang agung dari ketinggian, tidak terkecuali bagi Apollo yang menjadikannya sebagai pusat ramalan.

Orang Yunani menyebut Delphi sebagai pusat dunia setelah Zeus menerbangkan dua ekor elang ke arah yang berlawanan dari ujung bumi. Setelah melintasi cakrawala dalam perjalanan panjang, kedua burung itu akhirnya bertemu kembali tepat di atas Delphi. Di sanalah omphalos—batu suci yang menandai pusat bumi—didirikan di Kuil Apollo, menegaskan keistimewaan kota ini sebagai tempat bersemayamnya wahyu para dewa.

Sepanjang lereng yang mengarah ke kuil, deretan rumah harta karun berdiri anggun, menyimpan perbendaharaan yang dipersembahkan bagi Dewa Ramalan. Bangunan-bangunan itu menghiasi Jalan Suci, jalur berbatu yang berkelok naik menuju puncak gunung, tempat kuil megah Apollo berdiri. Para peziarah tampak berbaris panjang, menapaki tanah menanjak dengan langkah penuh harap. Mereka adalah pencari nasihat suci yang harus mendaki seribu anak tangga sebelum diperkenankan menghadap Pythia, sang perantara wahyu.

Di celah Phaedriades, Mata Air Castalia mengalir dengan jernihnya, membelah batuan kuno dan menuruni lereng sebagai arus suci. Para peziarah yang hendak memasuki kuil membasuh diri mereka di mata air itu, sebuah ritual penyucian sebelum mereka layak bertemu dengan sang orakel. Legenda menyebutkan, di tempat itulah Apollo menancapkan panahnya untuk membunuh Python, sang naga penjaga. Setelah kemenangan itu, sang dewa membasuh dirinya di air Castalia, menyucikan segala jejak dosanya sebelum kembali ke Olympus.

Sebelum memasuki Adyton—ruang terdalam tempat ramalan disampaikan—para peziarah mempersembahkan seekor kambing sebagai korban suci serta pelanos, kue persembahan bagi dewa. Mereka lalu diarahkan menuju Pythia yang duduk di atas tripod perunggu di dalam bilik gelap yang dipenuhi aroma mistis. Dudukannya berada tepat di atas celah retakan bumi, dari mana asap suci membubung dan menghubungkannya dengan wahyu Apollo.

Pythia mulai mengunyah daun salam, kelopak matanya tertutupi oleh sehelai kain tipis. Asap membelai tubuhnya, membawa kesadarannya melayang ke alam yang lebih tinggi. Di balik tirai gaib itu, Apollo hadir dan menunggu dengan mata tajam. Jemarinya mengetuk ringan lengan singgasana, sementara aroma bakaran laurel memenuhi seluruh ruangan.

"Aku tidak bisa fokus," keluh Apollo, memegangi pelipisnya yang berdenyut.

Sejak meninggalkan Thebes, pikirannya dipenuhi kegelisahan. Sebagai Dewa Ramalan, ia tak bisa mengabaikan tugasnya, meskipun pikirannya terusik oleh sesuatu yang sulit dijelaskan. Dia kemudian menghela napas, berusaha mengusir keresahan yang menggelayut. 

THE HEART OF PHOEBUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang