31 || Pencerahan

304 49 3
                                        

❃❃❃

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

❃❃❃

POHON zaitun yang rindang menjadi tempat mereka berteduh. Usai pertandingan di gelanggang, mereka memilih untuk bercengkrama di sana, seperti biasa. Angin sepoi-sepoi membawa wangi lavender yang menghampar di sekitar mereka, sementara Leora bersandar nyaman di bahu Aetius yang lebar.

"Kau menang lagi, Aetius," puji Leora, suaranya mengandung nada kekaguman. "Setelah mengalahkan Evander, ternyata kau juga mengalahkan kakakku."

Aetius terkekeh, matanya berkilat penuh percaya diri. "Sepertinya aku memang tidak pernah kalah."

Leora tertawa lepas, nadanya ringan dan ceria. "Benarkah? Tapi aku rasa kau sudah kalah sekali."

Aetius mengangkat alisnya penasaran. "Kalah dalam hal apa?"

"Karena aku sudah mengalahkan hatimu," goda Leora yang tak tahu mendapatkan keberanian dari mana.

Kali ini, tawa Aetius pecah hingga ia memegangi perutnya. "Kalau itu, aku bersedia mengakuinya."

"Bukan hanya kau yang kalah, tapi aku pun juga kalah," ujar Leora lirih. Perlahan, ia mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Aetius dengan sorot mata lembut.

"Sebenarnya, ada yang ingin aku ceritakan padamu."

Aetius menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa itu, Cintaku?"

"Katanya, aku sempat pingsan seharian saat kalian pergi ke Delphi," desahnya.

Raut wajah Aetius berubah, matanya memancarkan kekhawatiran. "Benarkah? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanyanya yang kemudian membelai lembut rambut Leora, seolah memastikan gadis itu baik-baik saja. "Sekarang kau tidak apa-apa, kan?"

Leora mengangguk kecil. "Semuanya baik. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak saat itu."

"Katakan padaku," desak Aetius lembut.

"Aku merasa hanya tertidur, tapi mengapa semua orang menganggapku pingsan?"

"Mungkin karena tidurmu terlalu nyenyak," ujar Aetius sambil masih memainkan helaian rambutnya.

Leora menghela napas panjang. "Mungkin kau benar. Tapi...," ucapnya yang menunduk sedikit sebelum kembali menatap kekasihnya, "kau masih saja memenuhi benakku, bahkan hingga ke alam bawah sadar," gumamnya lirih.

Aetius menyeringai nakal. "Kau menggodaku, Putri?"

Pipi Leora bersemu merah. "Tidak, ini sungguhan! Aku sempat melihatmu sekilas dalam mimpiku!" sahutnya cepat, matanya membulat penuh keyakinan. "Atau mungkin hanya halusinasi saat aku terbangun sebentar ... hanya sebentar sebelum aku terlelap lagi," ungkapnya mencoba mengingat-ingat.

Aetius terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Kalau begitu, kau sudah menyukaiku sejak lama, ya?"

Perkataan Aetius semakin membuat Leora malu. Benarkah ia sudah menyukainya sejak itu? Sepertinya, justru jauh sebelum ia bermimpi tentangnya.

THE HEART OF PHOEBUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang