[Rated M | Romance Fantasi Mitologi]
Thebes adalah tanah kelahirannya. Tidak ada hal lain yang Leora inginkan sebagai Putri Thebes, selain mengabdikan dirinya kepada dewa dan menjaga kesuciannya hingga pernikahan. Sayangnya, manusia tidak bisa meneb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❃❃❃
PLEIADES telah terbit di langit timur. Tujuh bintang itu berkilau lembut di cakrawala gelap, seolah menari di atas hamparan malam. Cahaya mereka berpendar keperakan, seperti tujuh merpati cahaya yang mengembangkan sayap dalam keabadian.
Mereka melesat melewati tirai malam, berlari tanpa henti, tanpa letih—senantiasa melarikan diri dari sang pemburu yang mengintai di kegelapan. Orion, raksasa langit, mengejar mereka dengan langkah-langkah abadi, terukir di antara konstelasi lain yang menjadi saksi bisu dari kejar-mengejar tanpa akhir ini.
Leora duduk di dekat perapian, sulaman merahnya terhampar di pangkuan. Jemarinya yang lentik menelusuri permukaan kain, membentuk pola bunga lily lembah dan laurel dengan benang emas yang berkilau samar dalam cahaya api. Di sudut ruangan, nyala perapian menari perlahan, membiaskan cahaya keemasan yang merambat di dinding batu. Keheningan hanya diiringi bunyi halus benang yang ditarik dan ditusukkan kembali ke kain.
Leora sedikit membungkuk, mencoba memasukkan ujung benangnya ke dalam jarum. Napasnya tertahan sesaat, matanya menyipit fokus. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya benang itu lolos melalui lubang jarum yang sempit. Ia menghela napas pelan lalu kembali menyulam dengan cekatan, meskipun gerakannya sesekali terhenti ketika nyeri menyelinap di sikunya.
Rasa sakit itu masih belum sepenuhnya hilang sejak ia terjatuh dari kuda kala itu. Setiap kali ia mengangkat tangan atau menggerakkan bahunya terlalu cepat, ada sengatan nyeri yang membuatnya meringis kecil. Namun, ia memilih untuk mengabaikannya, membiarkan pikirannya terserap dalam irama sulaman yang menenangkan.
Di luar, angin malam berembus pelan, menggoyangkan tirai tipis yang menutupi balkon. Leora tidak menyadari bahwa di antara bayangan pekat yang menyelimuti halaman, sepasang mata mengamati dari kejauhan. Keheningan yang menyelimuti kamar tiba-tiba terusik oleh suara gesekan kecil dari arah balkon. Sekilas, ada sesuatu yang bergerak cepat—bayangan yang melintas sebelum seseorang melompat masuk dengan gesit.
Leora tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat jarumnya hampir jatuh dari tangan. Ia pun langsung menyibakkan tirai jendelanya. "Aetius?" Suara terkejutnya menggantung di udara. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Di lantai, Aetius terduduk dengan satu tangan menyangga tubuhnya, sementara tangan lainnya menepuk-nepuk pahanya yang nyeri akibat lompatan tadi. Ia meringis sedikit sebelum menatap Leora dengan senyuman. "Aku ingin menemuimu."
Leora masih menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Dengan memanjat balkon?" tanyanya, nyaris tidak habis pikir.
Aetius mengangkat bahunya kecil lalu bangkit dari posisinya. "Aku tidak punya pilihan lain," dalihnya santai. Ia menatap langsung ke dalam mata Leora, lalu tersenyum tipis. "Aku tidak bisa menahan rinduku hingga besok pagi."
Leora hampir saja merona, tetapi ia segera mengalihkan perhatiannya dengan mengeratkan epiblema—selendang tipis yang melapisi chiton-nya. "Baru sekarang kau rindu padaku?" katanya dengan nada tajam, meski ada kehangatan yang terselip di dalamnya. "Kemarin kau pergi tanpa pesan, mengabaikanku seolah aku tidak ada."