Arka melempar bola itu ke arah Rago.
Tidak keras. Tidak juga pelan. Lemparan yang lurus—seperti niatnya.
Rago menangkapnya dengan refleks cepat. Jari-jarinya mencengkeram bola itu erat, lalu ia melangkah ke tengah lapangan. Jaketnya sudah dilepas dan disampirkan di pagar, kaus hitamnya sedikit basah oleh keringat sisa emosi tadi.
Tidak ada sorakan.
Tidak ada hitungan waktu.
Tidak ada wasit yang meniup peluit.
Hanya lapangan tua, ring besi, dan dua orang yang berdiri berhadap-hadapan.
Permainan dimulai dari Rago.
Ia menggiring bola dengan agresif. Pantulan bolanya cepat, rendah, seolah ingin menekan sejak awal. Arka bergerak mengimbanginya, langkahnya tenang, mata tajam membaca arah.
Rago melakukan feint ke kiri.
Arka tidak terpancing.
Bola dipindah cepat ke tangan kanan, Rago memotong tajam ke depan. Arka bergeser, bahu mereka hampir bersentuhan. Tidak ada tabrakan kasar. Tidak ada dorongan tersembunyi.
Hanya adu kecepatan dan insting.
Rago melompat, mencoba tembakan jarak menengah.
Bola memantul di ring.
Tidak masuk.
Arka sudah bersiap. Ia menangkap rebound dengan satu tangan, lalu berbalik cepat. Langkahnya panjang, mantap. Rago mengejar dari belakang, napasnya berat tapi terkontrol.
Arka berhenti mendadak.
Rago nyaris melewatinya.
Dalam satu gerakan halus, Arka berputar dan melepaskan tembakan.
Masuk!
Tidak ada teriakan kemenangan. Arka hanya mengambil bola lagi dan melemparkannya kembali ke Rago.
“Giliran lo,” katanya singkat.
Rago tersenyum tipis. Bukan marah. Bukan sinis. Lebih seperti tertantang.
Kali ini ia bermain lebih tenang. Dribble lebih rapi. Ia membaca gerak Arka, bukan hanya menyerang membabi buta. Saat melihat celah, ia masuk, melompat, dan—
Swish.
Masuk bersih.
Rayyan bertepuk tangan kecil dari pinggir lapangan, matanya berbinar. "Semangat semuanya!"
Permainan berlanjut.
Skor tidak dihitung keras-keras. Tapi tiap poin terasa. Tiap langkah membawa berat yang sama. Tidak ada dendam yang mendorong. Tidak ada ragu yang menahan.
Hanya dua orang yang akhirnya saling mengakui satu hal—
Lapangan ini tidak menunduk pada siapa pun. Ia hanya menghormati mereka yang berani bermain sepenuh hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Fiksi RemajaArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
