01 | melepasmu, dipenuhi luka.
Sejak kecil Jeon Jungkook di didik oleh ayah harus menjadi pribadi yang memiliki hati besar, selalu mengutamakan kesulitan orang lain di bandingkan dirinya sendiri. Jungkook yakin bahwa kebaikan yang tanamkan itu akan selalu berbalik kepadanya suatu hari nanti.
“Kalau ada yang lebih butuh, kasih saja,” ucap pria itu suatu malam, saat Jungkook kecil menatap es krim terakhir di atas meja—yang pada akhirnya berpindah ke tangan kakaknya.
Jungkook tidak menangis. Tidak protes.
Ia hanya mengangguk kecil, lalu duduk diam sambil memperhatikan bagaimana sendok itu bergerak pelan, mengikis bagian yang seharusnya menjadi miliknya. Ibu sempat membuatkan es krim yang sama setelahnya.
Rasanya manis. Dingin. Persis. Tapi entah kenapa… tidak pernah benar-benar sama. Sejak saat itu, Jungkook berhenti mempertanyakan perasaan “ingin”. Ia belajar menekannya—pelan-pelan, sampai terbiasa.
Sampai suatu hari, ia bahkan tak lagi sadar apakah dirinya benar-benar tidak menginginkan apa pun atau hanya terlalu terbiasa mengalah.
Tanpa tahu seiring dirinya tumbuh, hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang tak bisa dihilangkan. Pada akhirnya Jungkook akan merasa tidak enak hati bila tidak lebih dulu mengalah dan mementingkan diri sendiri. Kebiasaan itu selalu terlihat beberapa kali mulai dari hal kecil. Tak heran kebaikan hatinya selalu dimanfaatkan orang lain.
Di sekolah, Jungkook selalu jadi orang yang dicari—bukan karena ia paling hebat, tapi karena ia paling mudah berkata “iya”.
“Ikutin aku sebentar, aku sedang butuh teman cerita.”
“Boleh pinjem catatanmu?”
“Tolong jaga tasku dulu, Jeon.”
Dan Jungkook tidak pernah benar-benar menolak. Ia akan duduk berjam-jam mendengarkan keluhan yang sama, mengangguk di tempat yang tepat, tersenyum ketika harusnya tersenyum. Sampai suatu titik, ia mulai lupa kapan terakhir kali ada yang bertanya:
“Kalau kau sendiri, Jungkook. Bagaimana perasaanmu?”
Baginya melihat mereka tersenyum sudah cukup membuatnya berpuas diri. Baik ketika tahu Lee Yian menyukai Park Hana, begitu pun sebaliknya. Jungkook malah merasa jadi penghalang sehingga memilih mengorbankan diri demi kebahagiaan sahabatnya itu. Ia tidak berkeinginan untuk memperjuangkan perasaannya sebab cukup berbesar hati melihat Hana mendapatkan apa yang membuatnya bahagia.
Hingga pertemuannya dengan Jung Hemi, itu pertama kali ia punya keinginan besar sampai bertekad tidak ingin menyerah sampai membutakan segalanya. Saat itu ia sendiri tidak mengerti dan merasa berbeda, sebuah ambisi besar selalu muncul setiap kali melihat gadis itu.
Jung Hemi membuat Jungkook menjadi dirinya sendiri dan merasa hidup, sebab memiliki sebuah keinginan. Tanpa harus dibayang-bayangi kewajibannya untuk mendahulukan kebahagiaan orang lain.
"Terkadang kau harus memikirkan dirimu sendiri sebelum orang lain. Bersikap egois untuk kesehatan mentalmu tidaklah selalu buruk, sebab kau tak bisa bertanggungjawab atas kebahagiaan orang lain disaat kau sendiri tidak bahagia. Bukankah itu terlihat seakan kau berpura-pura bahagia?"
Bersikap egois tidak selalu buruk. Saat itu Jungkook sadar bahwa kalimat Jung Hemi seolah menamparnya. Selama ini ia selalu merasa bertanggungjawab atas kebahagiaan orang lain alih-alih kebahagiaan dirinya sendiri. Terdorong untuk berani mengakui bahwa selama ini ia hanya berpura-pura. Segala ucapan gadis itu selalu dirasa benar dan setelah itu ia mulai berkeinginan untuk mengikuti kata hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
After Fallin'
ФанфикшнSequel of Fallin' All In: AFTER FALLIN' "After fallin', my time stops, my sun doesn't rises & sets, and my season stops changing." --- Tak butuh ujung belati atau moncong pistol tertuding baik didepan jantung maupun pelipis untuk membuat seseorang...
