[ SUDAH TAMAT, TAPI DIMOHON UNTUK TETAP VOTE YA ]
Ini tentang Kai, Kailanza Ryder Shankara. Si mawar hitam. Cantik, namun mencekik. Ia berduri, ia menyakiti. Manusia baik yang badjingan. Kalimatnya manis, semanis racun yang membunuhku tanpa ampun.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
★★★★★
Kelas XI MIPA-3 heboh di siang hari karena adanya kuis dadakan. Ini sebenarnya lebih tepat di sebut permainan. Kami bermain ular tangga, Bu Guru telah menyediakan karpet bergambar 25 kotak lengkap dengan dua ular dan dua tangga di dalamnya. Telah dibentuk 6 kelompok, masing-masing kelompok menyumbangkan satu anggotanya sebagai bidak.
Minggu sebelumnya, kami telah di perintah membuat soal lengkap dengan jawabannya. Soal yang kami buat nanti akan di gunakan untuk kelas lain, jadi soal yang saat ini Bu Guru bacakan adalah buatan dari kelas lain.
"Belajar, Al! Belajar!" Titah seorang teman padaku. Dan aku hanya mengangguk saja.
Karpet ular tangga itu di bentangkan tepat di depan papan tulis di dekat meja guru, kami sontak bangkit dari kursi dan melingkari area meja Guru.
"Oke, kita mulai ya! Siap?"
"Siap!"
"Aturannya, nanti kelompok satu dulu yang lempar dadu, lalu kelompok dua, dan seterusnya. Waktu menjawab 30 detik. Kesempatan menjawab tidak terhingga, pokoknya kalau salah jawab terus selama masih ada waktu. Mengerti?"
"Mengerti, Bu!"
"Oke, kita mulai. Kelompok satu, silahkan lempar dadu."
"Dapat tiga ya? Oke. Jawab pertanyaan ini, kelompok satu dengarkan baik-baik, saya cuma baca dua kali saja."
"...."
Lalu ribut. Semua sibuk berpikir dan menjawab. Kecuali aku, sebab itu bukan bagian dari kelompokku.
Berdiri di paling depan ternyata tidak berguna, untuk apa menonton bidak-bidak permainan? Lebih baik aku duduk dan berpikir di meja, toh, kita tidak harus berkumpul dengan kelompok masing-masing.
Aku mengedarkan pandangan, dan pandanganku jatuh pada sosok Kai yang juga tengah menatapku. Dia duduk di kursi ke tiga dari depan—bukan di kursinya yang biasa. Kai melempar senyum, dia menepuk kursi sebelahnya yang kosong.
Aku tentu menggelengkan kepala. Lebih baik duduk di kursi Febri saja.
"Tetot! Kelompok ke satu gagal. Next, kelompok kedua lempar dadu."
"Eh?" Aku mencoba mengatur detak jantungku kala Kai ternyata memilih pindah tempat duduk. Dia kini ada tepat di sebelahku. Aroma hutannya yang mempesona sanggup membuatku hilang daya!