[ SUDAH TAMAT, TAPI DIMOHON UNTUK TETAP VOTE YA ]
Ini tentang Kai, Kailanza Ryder Shankara. Si mawar hitam. Cantik, namun mencekik. Ia berduri, ia menyakiti. Manusia baik yang badjingan. Kalimatnya manis, semanis racun yang membunuhku tanpa ampun.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
★★★★★
Dua hari setelah kejadian itu, aku mengatakan pada Stella dan Ayu tentang sesuatu. Tentang apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan.
"Lo ... APA?!"
"NYERAH?!"
"SEORANG KAZALEA SWASTAMITA MENYERAH DENGAN PERJUANGANNYA?!"
Ya, maklumi saja. Kedua sahabatku memang sedikit tidak bisa dikontrol.
"Capek! Batin gue capek!" Aku mendramatisir suasana. "Gue enggak mutusin dia, gue enggak minta putus juga. Gue mau biarin dia ngelakuin apa yang dia mau. Mau dia kayang, jukir-balik, meroda, melayang, terserah! Gue capek, gue pusing, gue mau istirahat, berjuangnya besok lagi."
"Kalo dia nelpon lo, gimana?" Tanya Stella.
"Ya tetep gue angkat, tapi gue bakalan jadi pasif." Aku akan diam dan iya-iya saja pokoknya.
"Nah, dia nelpon lo."
Aku terkejut. Benarkah? Dia menelponku lebih dahulu? Padahal, sudah empat hari ini dia diam tidak memberikan aku sedikitpun perhatian.
"Kerasin suaranya! Pengen nguping." Pinta Ayu dan Stella mengangguki.
"Alea enggak kangen sama aku?" Itu yang langsung dia tanyakan.
Huft, enggak boleh, enggak boleh baper. Aku tidak boleh luluh secepat ini!
"Kangen, tapi kan kamu sibuk."
"Tapi biasanya tetep ngasih aku pesan, kenapa dua hari enggak ada kabar?" Oh, apa itu tandanya dia mencariku?
"Enggak ada kouta." Aku memberika alasan yang setidaknya masuk di akal. Tidak seperti trik rekaman pesta ulang tahun yang dia ulang-ulang sebanyak tiga kali.
"Seriusan?"
"Iya. Ini aja pake wifi sekolah."
"Aku kangen."
Ayu dan Stella muntah di tempat dan aku senyum senyum sendiri. Senyum ini tidak bisa kutahan!
"Enggak boleh baper, enggak boleh baper!" Aku mengangguk mantap dengan bisikkan Ayu yang sejujurnya cukup heboh. Aku harap Kai tidak mendengarnya di ujung sana.
"Ooh." Ya, aku menjawab sangat singkat dan ini pasti membuat Kai semakin bosan!
"Ooh aja?"
"Ya emang harus gimana?"
"Kamu enggak mau ketemu sama aku?"
"Aku mau ada ekstrakurikuler kan. Mana bisa."
"Yah, padahal aku mau ngajak kamu ke pasar malem." Ya sharusnya dia tetap mencoba mengajakku dong! Bukan malah pasrah! "Apa sama Rora ya?" Ini nyaris seperti bisikkan, seakan Kai sedang tidak sengaja mengatakan apa yang dia pikirkan.