[ SUDAH TAMAT, TAPI DIMOHON UNTUK TETAP VOTE YA ]
Ini tentang Kai, Kailanza Ryder Shankara. Si mawar hitam. Cantik, namun mencekik. Ia berduri, ia menyakiti. Manusia baik yang badjingan. Kalimatnya manis, semanis racun yang membunuhku tanpa ampun.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sore ini Kai tidak meneleponku. Aku tidak berani mengiriminya pesan dan bertingkah seakan aku selalu menuntut waktu darinya. Lagipula, Kai pernah bilang ia tidak terlalu suka berbalas pesan.
Kazalea bukan orang yang posesif, bukan gadis yang seperti itu. Aku tahu dunia Kai bukan hanya pasal aku.
"Selamat pagi, Nona Manis!" Kai menyapa dibalik gerbang rumah, dia berdiri di atas motornya dengan helm yang sudah dilepas. Rambut hitamnya tampak sudah cukup panjang.
"Kamu mau kaya Ranu kah? Gondrong."
Kai menyentuh rambutnya sendiri, "eum, aku bakal cukur nanti." Dia menjawab dengan pipi yang agak merona.
Aku menatap langit, kupikir, udara masih cukup dingin dan awan cukup tebal, lalu kenapa Kai tampak memerah seakan ia kepanasan?
"Mari berangkat!"
Aku tersenyum dan menaiki motornya. Ku tatap Kai yang membenarkan posisi spion, dari pantulan kaca aku bisa melihat bibirnya membentuk senyuman.
Mata Kai tampak bersinar akibat sinar matahari, ia menyipitkan mata, bulu matanya yang panjang tampak lentik. Matahari curang sekali, ia dapat menyentuh tiap sudut kulit Kai tanpa membuat lelaki itu berpikir buruk tentangnya. Meskipun mengecup Kai setiap saat, membelai pipinya lembut, Kai tidak akan berpikir bahwa matahari itu melakukan sesuatu yang berlebihan.
"Kenapa?"
Aku menggelengkan kepala, bagaimana Kai tahu aku sedang menatapnya sambil tersenyum? "Engga ada."
Aku hanya berpikir, bagaimana bisa aku bisa memuja Kai seperti ini? Dia selalu sempurna di mana-mana.
★★★★★
Aku meremas kertas dan langsung menyobeknya sangking kesalnya.
"Awas aje! Sekali lo ketemu, gue pastiin, gue jambak rambut lo!"
Pagi ini aku kembali menemukan sebuah surat.
Sungguh surat yang tidak berguna. Dia pasti ingin aku cemburu. Jadi, aku tidak akan cemburu, tidak akan pernah, karena itu artinya aku kalah!
Atau setidaknya ...
Sial! Aku kepancing!
Atau setidaknya hanya aku saja yang boleh tahu bahwa aku cemburu. Hanya aku yang boleh tahu bahwa aku sudah kalah, orang itu tidak boleh merasa menang!
Kai tidak akan menduakanku. Tapi mengapa ia sempat bersama perempuan lain disaat dia sama sekali tidak menghubungiku seharian kemarin?
★★★★★
"Kamu enggak perlu jemput aku, aku berangkat pagiii banget,"
"Lah, kenapa? Sepagi apa emangnya? Aku bisa lebih pagian jemput kamunya."