.
.
.
.
.
Ares berdiri mematung, tatapan matanya lekat mngarah pada gundukan tanah merah bertabur bunga. Masih basah, karena memang tanah makam itu baru saja mengubur sosok wanita yang menajadi penyemangat hidup untuk Ares.
"Ares." Ares bergeming, pemuda itu tidak menoleh apa lagi menyahut panggilan sosok wanita yang merupakan rekan kerja sang bunda.
"Ares, ayo pulang. Sudah hujan." Ares menggeleng, pemuda itu menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang sudah kembali ingin keluar.
"Ares masih mau disini tante." Jawaban Ares membuat wanita itu menghela nafas panjang.
"Kalau begitu tante pulang ya, kalau ada apa-apa hubungi tante." Ares hanya memberikan anggukan kecil.
Ares mendengar suara langkah kaki menjauh dari nya, di ikuti oleh tetesan air yang mulai jatuh dari langit. Ares melepas tangis nya, di bawah guyuran hujan dan di depan makan sang bunda.
Masih segar di ingatannya apa yang terjadi kemarin, sang bunda yang berpamitan untuk kembali ke kantor selepas makan siang bersama dengannya di cafe berakhir membuatnya harus kehilangan sang bunda.
Sebuah mobil berkecepatan tinggi kehilangan kendali dan menabrak tubuh mungil sang bunda, tepat di hadapannya. Tubuh sang bunda terlempar beberapa meter dan langsung membuat wanita yang melahirkannya itu kehilangan nyawa.
Ares mengepalkan tangannya, dia tidak pernah menyangka akan kehilangan sang bunda secepat ini. Kata-kata sang bunda yang terakhir didengarnya kemarin kembali berputar di kepalanya.
"Bunda."
.
.
.
.
.
"Ares!" Ares tersenyum saat melihat wanita cantik berhijab biru melambai semangat pada nya.
"Bunda." Ares memeluk tubuh mungil sang bunda begitu mendekat.
"Kenapa lama sekali?" Ares tertawa kecil.
"Ya bunda sih, kenapa harus makan siang disini? Kan bisa di rumah." wanita itu tertawa.
"Bunda harus kembali ke kantor setelah makan siang Res, jadi disini paling dekat sama kantor bunda." Ares mengangguk. Tidak lama setelah itu seorang pelayan mengantarkan makanan untuk mereka, ternyata sang bunda sudah memesankan makan siang untuk mereka.
"Makan dulu Res, bunda gak mau anak bunda ini kurus!" Ares kembali tertawa mendengar ucapan sang bunda.
Makan siang mereka berlangsung seperti biasa, di selingi oleh godaan Ares pada sang bunda atau omelan sang bunda pada Ares.
"Ares." Ares yang sedang meminum jus nya langsung menatap sang bunda.
"Tetap sehat buat bunda ya, jangan lupa minum obat. Jangan sampai ngelewatin makan kayak biasanya." Ares mengernyit saat mendengar ucapan sang bunda.
"Bunda kenapa ngomong kayak gitu?" Ares mengernyit bingung, perasaannya tiba-tiba tidak nyaman.
"Bunda mau dinas luar kota Res, jadi kamu harus jaga diri waktu bunda gak ada." Ares mengerucutkan bibir nya kesal.
"Biasanya bunda juga gak gitu, jangan bikin Ares takut deh bun." wanita itu justru tertawa mendengar gerutuan Ares.
"Ares sayang sama bunda kan?" Ares mengangguk.
"Tentu aja Ares sayang sama bunda, kenapa nanya gitu?"
"Jangan pernah benci sama orang yang nyakitin Ares ya, jangan pernah benci sama ayah." ekspresi Ares langsung berubah.
"Kenapa harus ayah? Ares bahkan gak kenal ayah." sang bunda tersenyum sendu, jangan kan Ares, ayah dari putra nya itu bahkan tidak pernah tahu kehadiran Ares sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
FanfictionAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
