18. Di kunci?

4.5K 515 18
                                        


.
.
.
.
.
Ares sama sekali tidak membuka suara selama perjalanan pulang, pemuda itu hanya diam sambil fokus pada jalanan di depannya.

Rion sendiri tidak berani mengajak Ares berbicara, takut jika ternyata pemuda mungil tengah marah. Ya memang salah nya sendiri kenapa selalu menolak saat di minta bermain alat musik atau pun menyanyi.

"Turun Yon, ganti seragamnya terus ke kamar saya." singkat. Hanya perintah seperti itu saja mampu membuat Rion mengangguk dan menurutinya, padahal biasanya Rion akan mengucapkan berbagai alasan. Bahkan pada Alta sekalipun, tapi pada Ares, Rion tidak bisa melakukan itu.

"Anak itu kenapa?"

"Apa dia memang benar-benar tidak bisa bermain alat musik?" Ares bergumam lirih saat masuk ke kamarnya.

"Alden juga kaget begitu tau aku ambil seni musik waktu itu, sebenarnya ada apa di keluarga ini?"

Tok

Tok

Tok

Cklek

"Bang Ares." Ares langsung berbalik dan menemukan Rion tengah bersandar di pintu kamarnya.

"Masuk Yon, sini duduk." Rion menurut saat Ares memintanya duduk di atas ranjang.

"Sekarang jelasin ke saya apa alasan kamu." Rion menunduk.

"Rion? Kalau kamu gak cerita, gimana saya bisa bantu kamu waktu Alta bertanya nanti?" Rion langsung mendongak dan menatap Ares yang tengah duduk di balik piano nya.

"Maaf bang." Ares mengernyit, kenapa Rion minta maaf? Sedangkan dia tidak salah apapun.

"Saya menunggu penjelasan kamu Yon, Alta mungkin pulang jam satu siang." Ares memperhatikan gerak gerik Rion yang terlihat gugup.

"Papa gak suka anaknya main musik." ucapan lirih Rion membuat Ares terkejut.

"Ayah gak suka kalian main musik?" Rion memberi anggukan.

"G-gue dulu suka nyanyi bang, Rius juga. Kak Alden, bang Leo, Igel Hadar sama mas Alta juga. Tapi papa gak pernah dukung kita, papa cuma mau anak nya jadi pengusaha atau dokter." Ares menghela nafas panjang. Sekarang dia tahu alasan kenapa Alden sampai terkejut saat itu.

"Kamu mau jadi apa besok?" Rion kembali menatap Ares.

"Dokter, gue dari dulu pingin jadi dokter bang." Ares mengulas senyum.

"Kalau gitu raih, tapi kamu bisa menyanyi atau bermain alat musik hanya untuk hobi yang bisa menghibur kamu." Rion tersenyum senang namun hanya sebentar sebelum kembali murung.

"Tapi papa? Mas Alta juga pasti marah." Ares tersenyum lembut saat mendengar kebimbangan Rion.

"Nanti biar saya yang jelasin ke Alta, tapi untuk ayah, mungkin Alta yang bisa bantu. Saya tidak bisa membantu untuk membujuk ayah." Rion kembali tersenyum tapi matanya mengeluarkan air mata.

"Kenapa kamu nangis?" Ares panik, dia bisa di hukum lebih lama jika ayahnya tahu Rion menangis.

"Gue bahagia bang, akhirnya ada yang bisa ngertiin gue. Maafin gue udah jahil sama lo, jujur aja gue iri sama lo. Papa beliin lo piano sama gitar bahkan gak ngelarang lo kuliah di jurusan seni musik, sedangkan papa melarang kami semua melakukan itu." Ares membalik duduknya dan tersenyum sendu.

"Tapi kalian beruntung Yon, gak ada yang perlu kalian iri kan dari saya." Ares membawa jarinya menekan tuts piano, membiarkan Rion menikmati alunan melodi yang dia mainkan.

"Kenapa gak dari dulu aja lo datang kesini bang?"
.
.
.
.
.
Ares melihat Alta baru saja datang saat dia keluar dari kamarnya, pemuda itu menghela nafas sebelum mendekati Alta.

"Alta, bisa kita bicara?" Alta sedikit terkejut saat mendapati Ares berdiri tidak jauh dari nya.

"Ada apa? Oh iya Rion kenapa tadi? Dia gak buat masalah kan?" Ares menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Itu yang mau saya bicarakan sama kamu, bisa?" Alta memberi anggukan.

"Di kamar ku gak masalah? Atau mau di kamar kamu aja?" Ares menggeleng.

"Di kamar kamu saja, Rion sedang tidur di kamar saya." Alta mengerjapkan mata beberapa kali, ada angin apa adiknya itu mau tidur di kamar Ares? Biasanya juga Igel atau Alden.

"Oke, masuk deh." Alta membuka pintu kamar nya dan mempersilahkan Ares masuk.

"Jadi ada apa Res?" Ares menatap Alta saat pemuda itu duduk di atas ranjang nya, sedangkan Ares memilih duduk di kursi meja belajar Alta.

"Wali kelas Rion mengeluhkan nilai seni musik Rion, di tambah Rion selalu menolak setiap di minta bernyanyi atau belajar alat musik." Alta terlihat tegang saat Ares mengatakan itu.

"Gak usah tegang, tadi Rion sudah cerita soal larangan ayah ke kalian." ucapan Ares membuat Alta kembali tenang.

"Ya kayak yang mungkin udah di ceritain Rion, papa gak suka anaknya main musik, makanya kita semua cukup kaget waktu papa beliin kamu piano sama gitar. Alat musik itu seperti benda terlarang disini sebelumnya." Ares mengangguk.

"Jangan marahi Rion Ta, dia dari tadi takut kamu marahin. Biarin dia main musik, menyanyi, dia menyukai itu. Bukan kah kalian juga?" Alta meremat tangannya dan mengangguk.

"Nanti aku coba buat ngomong sama papa, paling gak adik-adik ku bisa bebas bermusik meskipun hanya sebagai hobi." Ares mengulas senyum tipis.

"Saya tadi sudah masak buat makan siang kalian, nanti kalau yang lain datang suruh makan. Jangan lupa bangunkan Rion, dia belum makan." Alta mengernyit saat melihat Ares beranjak dari duduknya.

"Kamu mau kemana memang nya?"

"Mau keluar, ada yang harus saya kerjakan. Saya akan pulang seperti biasa."
.
.
.
.
.
Leo memperhatikan jam dinding di ruang keluarga, sudah hampir pukul sebelas. Leo sangat yakin sebentar lagi Ares akan pulang, dan karena itu Leo sudah mengunci semua pintu rumah, baik yang depan atau pun yang belakang.

Leo juga bersyukur karena pak Kusdi ijin untuk pulang kampung selama tiga hari sejak tadi sore, jadi Ares akan tetap berada di luar semalaman.

Tok

Tok

Tok

Leo berjalan mendekati pintu saat mendengar ketukan, pemuda itu mengintip dari jendela dan melihat Ares tengah menunduk.

"Lo gak boleh masuk malam ini, tidur di luar!" Ares terkejut saat mendengar suara Leo dan juga kelambu jendela yang tersibak.

"Kenapa?"

"Lo udah sering ngelanggar jam malam, jadi nikmati aja tidur di luar malam ini. Siapa suruh pulang jam segini." Ares menghela nafas saat mendengar langkah kaki menjauh dari pintu.

Ares mendudukan dirinya di kurai yang ada di teras rumah, sedikit bersyukur karena dia tidak harus duduk di lantai.

"Ares pingin pulang bun." Ares menengadah, menatap langit malam di atasnya.

"Bunda dulu pernah bilang kalau bunda pingin Ares jadi orang yang hebat, bersinar sama seperti bintang Antares. Tapi nyatanya Antares yang ini kalah sama bintang-bintang yang lain bun."

Ares merapatkan jaketnya, udara mendung sedikit membuat dia kedinginan. Di tambah dengan Ares sama sekali tidak meminum obatnya.

"Bun, maaf ya, Ares ingkar janji dulu sekarang. Ares gak minum obat dulu sampai Ares gajian, Ares gak bisa minta uang ke ayah, Ares juga gak mau pakai uang yang di kasih om Kama. Gak apa kan bun? Bunda gak akan marahin Ares kan?"

Ares memejamkan matanya dengan posisi duduk, pemuda itu terlelap sangat cepat karena lelah bekerja, belum lagi rasa sakit yang selalu tubuhnya rasakan.

"Kangen bunda."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang...
Udah kesel sama Leo belum?

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

-Moon-

Constellation (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang