.
.
.
.
.
Ares kembali memaksakan dirinya untuk memasak sarapan, padahal semalam dia kembali tidak bisa tidur karena mimpi buruknya. Juga karena ucapan sang ayah yang selalu terngiang-ngiang.
Hari ini Ares tidak memiliki kelas, dan dia juga di minta libur dua hari oleh Mino juga Tian. Mungkin nanti Ares akan ke rumah sakit saja, dia tidak boleh sakit, jadi dia harus memiliki obat nya. Ares terpaksa menggunakan uang yang di berikan Kama, ayah Daffa saat ini, nantinya akan dia ganti saat dia menerima gaji, meskipun tidak banyak.
"Semangat Ares, kamu gak boleh sakit. Cukup kemarin aja kamu ngerepotin."
Ares menatap masakannya di atas meja, sudah pukul lima. Mungkin sebentar lagi Igel atau Alta akan turun.
"Bang Ares?" Ares terkejut dan segera menoleh saat mendengar suara Rius. Benar saja, ada Rius yang tengah berdiri tidak jauh darinya.
"Kok udah bangun?" Rius memperhatikan Ares lekat.
"Lo udah sehat? Kenapa lo yang masak bang?" Ares mengulas senyum tipis.
"Saya sudah sehat, kan memang biasanya saya yang masak." Rius berdecak, namun Ares menangkap itu sebagai ketidaksukaan Rius padanya.
"Kamu bisa siap-siap, kamu sekolah hari ini kan?" Rius menggeleng.
"Gue ijin, udah bilang ke mas Alta juga." Ares mengerjap, tumben Alta membiarkan adiknya membolos.
"Kalau gitu kamu bisa tunggu disini buat sarapan, saya mau kebelakang." Rius mengernyit heran, mau apa kakak nya itu ke belakang.
"Mau apa ke belakang?" Ares menatap Rius heran.
"Mau ngelilingin taman, mungkin nanti bisa sekalian saya bersihin." Rius langsung menatap Ares tajam.
"Lo boleh keliling taman bang, tapi lo gak perlu ngebersihin itu. Lo di sini bukan pembantu kita, nanti juga ada yang bakal bersihin." Ares tersenyum kikuk saat Rius mengatakan itu.
"Bener apa yang di katakan Rius bang, lo itu kakak kita bukan pembantu kita." Ares dan Rius serempak menoleh, mereka menemukan Igel yang baru saja masuk kedalam dapur.
"Hari ini lo istirahat bang, jangan kemana-mana. Jangan kerja kalau bisa, uang papa gak akan habis kalau cuma abang beliin kebutuhan abang."
.
.
.
.
.
Ares bingung pada Rius hari ini, sejak tadi si bungsu itu selalu saja mengikutinya. Bahkan untuk berdiam di kamar saja, Rius ikut.
"Rius kenapa? Kamu perlu sesuatu?" Rius mengangguk, hal itu membuat Ares sudah bersiap bangkit.
"Kamu perlu apa?"
"Gue perlu mastiin lo baik-baik aja dan gak kambuh."
Deg
Ares menatap Rius terkejut, pemuda itu terdiam saat Rius mengatakan soal kambuh. Apakah Rius tau tentang penyakitnya? Tapi Ares bahkan tidak pernah mengatakan hal itu pada siapa pun.
"A-apa maksud kamu?" Ares bisa melihat Rius mengepalkan tangannya.
"Gak usah pura-pura gak paham bang, gue tau semuanya. Tentang lo, tentang penyakit lo." Ares semakin menatap Rius tidak percaya.
"T-tapi bagaimana?" lagi-lagi Rius berdecak.
"Ini." Rius menunjukan tabung obat milik Ares yang ada di tangannya, hal itu jelas membuat Ares kembali terkejut.
"D-darimana kamu?"
"Gue ambil dari laci nakas lo, sorry bang. Gue penasaran, sejak lo datang ke sini, gue sering ngeliat lo minum obat ini, jadi gue putusin buat ambil dan bawa ini ke rumah sakit." Ares tidak bisa berkata-kata, rahasia nya dengan sang bunda yang selama ini aman sekaramg mulai terbuka.
"Jangan kasih tau yang lain!" Rius mengernyit tidak suka.
"Kenapa? Mereka juga berhak tau, apa lagi papa!" Ares tetap menggeleng.
"Jangan, tolong. Jangan sampai mereka tau." Rius mengepalkan tangannya saat melihat ekspresi memohon Ares.
"Oke gue gak akan bilang, tapi abang harus kasih tau gue kalau abang mau periksa ke rumah sakit." Ares tersenyum.
"Hari ini saya mau ke rumah sakit, obat yang ada di kamu itu obat terakhir saya."
.
.
.
.
.
Rius benar-benar mengikuti Ares untuk ke rumah sakit, bahkan saat Ares terlihat lelah karena pemeriksaan yang dia lalui pun Rius tetap ada di samping pemuda mungil itu.
"Antares, boleh saya tahu sejak kapan kamu merasa sakit?" Ares dan Rius tengah duduk di hadapan seorang dokter spesialis onkologi saat ini.
"Tiga tahun lalu, saya sudah tahu saya sakit apa dok. Saya kemari hany ingin mendapatkan obat." dokter itu menghela nafas panjang.
"Kondisi kamu buruk Antares, kanker yang kamu derita sudah masuk stadium tiga, di tambah paru-paru kamu yang tidak bisa bekerja secara normal. Kamu pasti sering merasa sesak nafas kan?" Ares mengangguk, sedangkan Rius hanya mendengarkan dengan seksama.
"Ya paru-paru saya hanya bekerja empat puluh persen, jika saya lelah tentu saya akan merasa sesak." sang dokter mengangguk, pemuda dihadapannya ini sangat terbuka.
"Jika sedang kambuh? Sesak?" Ares kembali mengangguk.
"Kadang-kadang." sang dokter menulis sesuatu di laporan kesehatan Ares.
"Boleh saya tau siapa dokter yang menangani kamu?" Ares segera melirik Rius dan meminjam bolpoin dari sang dokter.
Ares mengambil selembar kertas dari saku celanya untuk menuliskan nama dokter dan rumah sakit mana tempat dia berobat sebelumnya.
"Ini, dokter. Jadi bisa saya dapat obat saya?" sang Dokter melipat kertas yang di berikan Ares, dokter itu tau jika Ares tidak ingin adiknya tahu hal itu.
"Antares, saya menyarankan kemoterapi untuk mencegah penyebaran sel kanker nya." Ares menggeleng.
"Tidak sekarang dokter, tapi nanti saya pikirkan." jawaban Ares membuat sang dokter menghela nafas panjang.
"Sesegera mungkin Antares, selama kesempatan sembuh kamu masih cukup besar." Ares hanya tersenyum, terutama saat tangannya menerima resep obat dari sang dokter.
"Iya dokter, kalau begitu kami permisi."
Begitu Ares dan Rius keluar dari ruangannya, sang dokter membuka keryas yang diberikan Ares padanya.
Dokter Tama Riansyah
Rumah sakit Harapan, jogja
Tolong jangan beritahu siapapun jika kondisi saya parah, bahkan adik saya, yang ada sebelah saya saat ini.
"Kamu pasti berjuang sendiri selama ini? Kenapa harus disembunyikan?"
.
.
.
.
.
Rius membantu Ares masuk ke kamarnya, pemuda mungil itu hampir saja meluncur bebas dari anak tangga jika Rius tidak segera menahan tubuhnya.
"Pusing bang?" Ares mengangguk kecil.
"Istirahat ya bang, bubur buatan mas Alta masih ada, sebentar gue angetin dulu." Ares ingin melarang namun Rius sudah terlanjur keluar.
"Jangan terlalu peduli, nanti aku ngerepotin kalian. Papa gak suka aku ngerepotin kalian, anak-anaknya."
Tanpa Ares sadar sebenarnya Rius masih berdiri diam di balik pintu kamar Ares, mendengar dengan jelas gumaman yang kembali di gumamkan Ares tentang Langit.
"Sabar ya bang, setelah mama sama papa pulang, yang lain bakal tau siapa lo disini. Kalau pun mama sama papa gak cerita nanti gue sama bang Igel yang kasih tau semuanya. Tapi lo harus semangat dulu, jangan nyerah, gue sayang sama lo."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Y
uhuuuu...
Aku kaget waktu liat vote sama komen kalian ngebut...
Kesel ya?
Sama sih, aku juga. Padahal kan aku yang buat karakter Leo ya...
Lanjut?
Sampai draft habis?
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
FanfictionAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
