.
.
.
.
.
Hubungan Ares dan saudara-saudaranya membaik, bahkan dengan Leo. Meskipun Ares terlanjur membangun tembok tinggi yang susah mereka robohkan.
Leo yang sebelumnya gencar menolak kehadiran Ares berubah menjadi orang yang paling protective, bahkan melebihi Rius dan Igel. Bukannya tidak suka tapi terkadang perhatian Leo membuat Hadar iri, iri karena Ares bisa mndapatkan perhatian Leo yang bahkan jarang adik-adiknya yang lain dapatkan.
Selama ini Leo hanya perhatian pada Alden juga Alta, selebihnya Leo hanya sekedar peduli. Bahkan pada si bungsu Rius pun, Leo tidak seperhatian itu.
"Kak Alden." Alden yang sedang membuat sereal terkejut saat Hadar memeluk tubuhnya dari belakang, bukan hal aneh saat Hadar manja pada Alden. Karena Hadar sendiri memang hanya akan bermanja pada Alden juga Alta.
"Ada apa? Mau sereal juga?" Hadar menggeleng.
"Gue kemarin udah request sarapan ke bang Ares kak." Alden segera menoleh pada Hadar.
"Udah di buatin kan?" Hadar mengangguk, Ares memang sudah memasakan semur daging yang di minta Hadar.
"Ya udah sana sarapan." Hadar melepas pelukannya pada Alden.
"Kak, lo gak iri sama bang Ares?" Alden mengernyit.
"Iri kenapa?"
"Bang Leo, bang Leo sekarang jauh lebih perhatian ke bang Ares kalah gue lihat." Alden mengulas senyum.
"Bukannya bagus ya? Leo berubah jadi lebih baik." Hadar mengangguk kecil.
"Iya sih bang, tapi gue iri." Alden menatap Hadar aneh.
"Jangan aneh-aneh ya kamu Dar, kalau sampai bang Ares denger terus bang Ares bikin jarak lagi. Kamu yang tanggung jawab." Hadar mendelik tidak terima.
"Gak gitu dong kak! Kok kak Alden sekarang jadi kayak Igel sih, nyebelin!"
.
.
.
.
.
Rius menatap Ares khawatir, saat ini mereka tengah ada di toilet rumah sakit. Ares kembali mimisan bahkan terlihat sangat lemas saat menunggu panggilan, sebenarnya Ares tidak ingin pergi ke rumah sakit, tapi melihat Rius memelas dan memaksanya pergi maka Ares pergi.
"Bang, oke?" Ares mengangguk.
"Ayo balik ke depan Ri." Rius menggigit bibir bawahnya, beberapa kali dia melihat Ares berhenti berjalan.
"Bang, ayo lakukan pengobatan. Gue gak tega lihat lo kayak gini." Ares menggeleng pelan, pemuda itu memilih menyandarkan kepalanya pada bahu Rius sembari kembali menunggu nomor antriannya di panggil.
"Bang, kenapa lo gak mau papa tahu?" Ares yang semula memejamkan matanya langsung membuka matanya.
"Ayah gak sepeduli itu sama saya Ri, bahkan mungkin saat saya pergi ayah gak akan pernah kehilangan." Rius tidak pernah suka mendengar hal itu di ucapkan oleh Ares.
Rius dan Ares sama sekali tidak membuka suara setelah Ares mengatakan hal itu, Rius sendiri juga paham kenapa Ares seperti itu.
"Bang, ayo." Rius mengernyit saat Ares tidak juga mengangkat kepalanya dari pundak Rius, bahkan tidak menjawab panggilan Rius.
"Shit!" dengan cepat Rius memanggil perawat dan langsung di arahkan ke ugd. Ares pingsan, dan kali ini Rius yang menyaksikan nya.
Rius mencoba untuk tidak panik, tapi bagaimana pun dia hanya remaja lima belas tahun. Rius terpaksa menghubungi Igel saat ini, karena bagi Rius hanya Igel yang bisa dia percaya untuk menjaga rahasia saat ini.
Tut
Tut
Tut
Klik
"Halo, ada apa dek?"
"B-bang Igel." Rius meremat ponselnya kuat saat mendengar suara Igel.
"Ada apa?"
"Bang Igel, bisa dateng ke rumah sakit pelita sekarang? Tapi abang harus datang sendiri!" Rius memejamkan matanya, dia akan mengingkari janji nya pada Ares saat ini.
"Kamu kenapa? Kamu sakit? Kenapa bisa ada di rumah sakit?!"
"B-bukan gue, tapi bang Ares. Tolong ke sini bang, nanti gue jelasin disini. Tapi jangan kasih tau yang lain, nanti bang Ares marah."
"Gue kesana sekarang, lo tenang dulu. Kalau ada apa-apa bilang aja gue masih otw!"
Setelah mengatakan itu Igel segera mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya. Beruntung dirinya di rumah sendirian saat ini, Alta ada kuliah, sedangkan Leo dan Alden ada jam tambahan di sekolah. Hadar dan Rion lagi cari kado buat temen basket mereka.
Igel tidak bisa panik saat ini, dia harus menyetir dengan selamat agar bisa menenangkan Rius.
Butuh waktu hampir empat puluh menit untuk Igel sampai di rumah sakit, sesuai pesan Rius, Igel langsung menuju ugd.
"Rius!" Rius yang tengah duduk gelisah langsung berdiri dan menghambur memeluk Igel.
"Bang Igel."
"Kenapa bang Ares bisa ada di rumah sakit? Traumanya kambuh lagi?" Rius menggeleng, Igel juga hanya mengelus punggung Rius, menenangkan adik bungsunya itu.
"Bang Ares sama gue memang sengaja datang ke rumah sakit bang, gue mau bang Ares check up. Tapi waktu nunggu bang Ares pingsan, dan sampai sekarang belum ada kabar dari dokter." Igel mematung, memang seminggu terakhir ini Ares jauh lebih terlihat pucat dan menurut Igel, kakak keduanya itu kehilangan banyak berat badan.
"Bang Ares sakit?" Rius mengangguk.
"Bang Ares memang sakit bang, tapi bang Ares selalu ngelarang aku kasih tau ke semuanya." Igel mengeratkan pelukannya pada Rius, hingga kedua netranya melihat pintu ugd terbuka.
"Kalian adik-adik Ares?" Rius dan Igel mengangguk.
"Kenalkan saya dokter Tama Riansyah, saya dokter yang selama ini menangani Ares." Rius terkejut, jadi dokter yang menangani Ares juga bekerja di rumah sakit ini.
"Abang saya kenapa?" Rian melirik ke arah Rius yang mengalihkan pandangannya.
"Ares kelelahan, kalian mungkin sudah tahu jika tubuh dan paru-paru Ares tidak sekuat kebanyakan orang kan?" lagi-lagi Igel mengangguk.
"Untuk sekarang, saya menyarankan Ares di rawat inap. Karena saya juga ingin memeriksa Ares secara keseluruhan." Igel langsung mengangguk mantap, tidak apa jika harus rawat inap, yang penting Ares sehat.
"Salah satu dari kalian bisa mengurus administrasinya." Igel segera menatap Rius.
"Gue tinggal ngurus administrasinya sekalian ngabarin mas Alta sama yang lain, lo ikut langsung ke kamar bang Ares aja." Rius mengangguk. Setelah memastikan Igel tidak terlihat Rius segera menatap pada Rian.
"Dokter, saya mau dengar kondisi bang Ares yang sebenarnya." Rian tersenyum melihat Rius.
"Saat ini saya belum bisa mengatakan seperti apa kondisi Ares, hasil tesnya baru akan keluar nanti malam. Nanti malam saya akan beritahu kamu, sekarang ayo ikut ke kamar rawat Ares."
.
.
.
.
.
Alta datang ke rumah sakit bersama Rasen, Melvin juga Kevin. Karena tadi Alta mendapat kabar dari Igel saat Alta bersama ketiganya.
"Ta, tenang. Ares pasti baik-baik saja." Alta langsung berhenti dan menatap Rasen lekat.
"Kenapa kamu bisa tenang gitu?!" Rasen menghela nafas panjang, meskipun sebenarnya dia juga khawatir.
"Gue kenal Ares dari kecil Ta, lebih lama dari yang lo kira. Dari tk gue udah kenal sama Ares, gue tau gimana Ares sering keluar masuk rumah sakit cuma karena kecapekan. Paru-paru Ares itu gak bisa bekerja normal, jadi waktu anak itu menforsir tubuhnya, paru-parunya akan protes dan berakhir dia seperti sekarang." Alta langsung terdiam.
"Aku takut Sen, aku baru aja nerima dia sebagai adik ku."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat sore...
Bosen?
Gak papa lah ya...
Mau lanjut?
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
Fiksi PenggemarAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
