30. Diusir

5K 566 30
                                        


.
.
.
.
.
Ares termenung di kamarnya, kejadian tadi sangat melekat di ingatannya. Bagaimana ibu dari sang ayah justru mengusirnya, hal itu kembali mengingatkan Ares jika rumah ini memang bukan tempatnya.

Ares mengingat kembali ucapan sang bunda dulu, jika sang ayah sangat menuruti ibu nya. Ares tidak pernah berharap dia terlahir di tengah kehancuran keluarganya, Ares juga ingin terlahir di tengah keluarga yang lengkap.

Ares sengaja mengunci pintu kamarnya agar adik-adiknya tidak ada yang masuk, pemuda mungil itu tidak ingin membuat hubungan keluarga mereka menjadi renggang.

Ares menatap sekeliling kamarnya, jika di lihat kamar ini memang luas namun kosong, sama seperti hatinya. Tatapan mata Ares jatuh pada koper miliknya, koper yang dia bawa dari jogja ke jakarta.

"Ares harus tau diri kan bun? Ares sudah di usir kok." Ares berjalan pelan mendekati koper nya, menariknya hingga sampai di depan lemari.

"Ares tinggal tunggu ayah pulang dan Ares bisa pergi. Karena kalau ayah pulang tugas Ares udah selesai." Ares memasukan pakaiannya kedalam koper, merapikannya agar semua barangnya muat. Ares hanya membawa barang yang dia beli sendiri, tapi jika diingat-ingat sejak dia datang ke rumah ini, Ares sama sekali belum pernah menggunakan uang ayahnya.

Tok

Tok

Tok

Ares beralih menatap pintu, sekarang Ares jadi takut untuk membuka pintu itu. Takut jika ternyata dia kembali dihadapkan dengan Aminah atau Pandu, yang akan menggores luka di hati kecilnya.

"Bang Ares." Ares segera beranjak saat mendengar suara Rius.

Cklek

"Kenapa harus di kunci bang? Kalau ada apa-apa gimana?" Ares mengulas senyum tipis.

"Saya takut." Rius termenung, dia jelas tau takut seperti apa yang di hadapi Ares saat ini. Rius lalu beralih kearah pintu dan kembali menguncinya.

"Aku bawain ini buat abang, ada roti dari kak Alden juga. Makan dulu ya." Rius mengeluarkan sebuah kotak bekal berisi makanan. Bukan masakan Ares, karena nyatanya masakan Ares habis tidak tersisa. Ini adalah masakan Igel dan Alden.

"Makan bang, terus minum obat." Ares hanya mengulas senyum dan mulai memakan makanannya.

"Kamu kenapa belum tidur Ri?" Rius melihat jam di kamar Ares.

"Sebentar lagi bang, aku mau mastiin abang makan terus minum obat."
.
.
.
.
.
Ares terbangun karena ketukan di pintu kamarnya, pemuda itu mengernyit saat mengetahui sekarang masih pukul dua pagi. Ares buru-buru membuka pintu kamarnya karena takut ada sesuatu yang terjadi pada saudara-saudaranya, namun begitu pintu terbuka Ares justru dilanda ketakut.

Cklek

"A-ayah." Ares melihat Langit berdiri di depan kamarnya.

"Masuk, ayah mau bicara!" Ares menurut dan membiarkan Langit masuk dan mengaktifkan kedap suara di kamar Ares.

"Apa yang harus kamu jelaskan pada ayah saat ini Ares?" Ares terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Langit.

"JAWAB AYAH ANTARES?!" Ares tersentak kaget saat Langit membentaknya.

"BERAPA BANYAK KAMU MELANGGAR PERINTAH AYAH?!" Ares bergerak mundur saat Langit semakin mendekatinya.

"M-maaf ayah."

"MAAF MAAF, APA MAAF KAMU BISA MEMBUAT NAMA LEO BERSIH?!"

"BAGAIMANA MUNGKIN KAMU MEMBIARKAN LEO SAMPAI DITANGKAP POLISI ANTARES?! KAMU MAU MEMPERMALUKAN AYAH? IYA?" Ares menggeleng panik.

"AYAH JUGA SUDAH MENGATAKAN UNTUK TIDAK SAKIT, TAPI KAMU JUSTRU MEREPOTKAN ANAK-ANAK AYAH DENGAN MASUK RUMAH SAKIT! APA KAMU TIDAK BISA BERGUNA SEDIKIT?!"

"INDAH ITU SANGAT SEMPURNA, TAPI KENAPA DIA BISA PUNYA ANAK GAK BERGUNA KAYAK KAMU?!"

Plak

Plak

Buagh

Ares tersungkur saat Langit memukulnya, kini bukan hanya hati Ares yang terluka karena ucapan Langit barusan, tapi fisiknya juga terluka karena pukulan Langit.

"Kemasi barang mu, kamu bisa pergi dari sini. Ibu saya juga tidak ingin kamu ada disini, ada baiknya saat itu kamu yang mati dan bukan Indah." setelah mengatakan itu Langit meninggalkan kamar Ares, meninggalkan putra nya yang lagi-lagi dia sakiti.

"Ayah benar, seharusnya Ares yang mati saat itu kan bun?"
.
.
.
.
.
Ares benar-benar pergi dari rumah Langit, Ares bahkan bisa melihat Aminah tersenyum sinis saat dia sampai di lantai bawah. Ares sengaja tidak menggeret kopernya agar tidak berisik dan membangunkan yang lain.

"Bagus, pergi aja dari sini. Kalau bisa jangan pernah kembali kesini, kamu itu tidak diinginkan dirumah ini." Ares hanya berhenti sekilas, pemuda itu menatap Aminah, Pandu, Langit juga Mega. Tidak ada yang bisa Ares percaya dan Ares andalkan saat ini.

"Saya tidak akan kembali, bahkan sekalipun diminta untuk kembali. Saya sudah katakan pada ayah saat itu, saya akan pergi jika tidak di terima. Bunda tidak pernah mengajarkan saya untuk membenci tapi apa yang saya dapatkan di sini hari ini membuat saya kecewa. Terima kasih karena telah menemui saya di hari pemakaman bunda, juga mengajak saya ke rumah ini ayah." Ares mengulas senyum, senyum yang membuat keempat orang dewasa itu terpaku.

"Saya pamit, tapi sebelum itu saya hanya ingin meluruskan sesuatu. Saya tidak pernah suka jika bunda saya di hina, bunda saya bukan pelacur seperti yang anda bilang. Bunda saya hanya seorang istri yang dikhianati suaminya. Permisi."

Ares benar-benar melangkah pergi dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang, mungkin dia harus mengganti nomor ponselnya nanti. Ares terlanjur menyayangi anak-anak ayah nya, namun hatinya juga sudah terlanjur terluka dengan perilaku sang ayah, baik ucapan maupun tindakan.

"Den Ares, aden mau kemana?" Ares menoleh dan tersenyum saat pak Kusdi mendekatinya.

"Pulang pak, terima kasih karena udah baik sama Ares ya." pak Kusdi menatap Ares lekat, dia sangat tau apa yang terjadi pada

"Den Ares, bapak antar ya?" Ares menggeleng.

"Gak usah pak, nanti pak Kusdi di marahin ayah. Saya pamit ya pak." pak Kusdi menahan tangan Ares.

"Aden, bisa bapak tau aden mau pulang kemana?" Ares kembali tersenyum.

"Ke rumah bunda pak, ke jogja." pak Kusdi terkejut mendengar ucapan Ares.

"Aden, keluarga bapak juga tinggal di jogja. Nanti kalau bapak pulang ke sana, boleh bapak mampir? Bapak juga mau ke makan bu Indah." Ares terdiam mendengar ucapan pak Kusdi, namun pemuda itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya.

"Ini ya pak, kalau gitu saya pamit. Nanti ayah makin marah kalau saya masih disini." pak Kusdi mengangguk.

"Pak, tolong jangan katakan apapun sama yang lain ya, jangan bilang kemana saya pergi." pak Kusdi kembali mengangguk.

"Iya den, hati-hati ya den, maaf pak Kusdi gak bisa bantu Aden." Ares kembali tersenyum saat mendengar ucapan pak Kusdi.

Pak Kusdi hanya bisa menatap punggung Ares yang semakin menjauh, sama seperti saat pak Kusdi melihat punggung Indah saat memutuskan pergi dari rumah itu.

"Dulu bapak lihat bu Indah yang pergi dengan luka namun masih bisa tersenyum, sekarang bapak liat Aden yang pergi dengan kondisi yang sama."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang...
Hayo.... nungguin ya??
Nih aku up nih...
Udah siap nangis?
Kayak nya belum ya...
Lanjut?

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

-Moon-

Constellation (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang