12. Rumah berantakan

4.1K 482 11
                                        


.
.
.
.
.
Kejahilan Rion, Hadar dan Leo pada Ares terus berlanjut. Setelah buku partitur yang di bakar, sekarang Ares di buat pusing saat melihat rumah mereka seperti kapal pecah.

Ares tahu jika mereka sengaja memberantakan rumah, dan berujung membuat Ares membereskan semuanya.

Ares menatap Alta yang hanya diam dan langsung masuk ke kamarnya saat melihat rumah berantakan, padahal Ares tahu Alta itu tidak akan bisa melihat rumah berantakan.

"Huft...Gak papa Res." Ares meletakan tas nya di atas meja dapur, dan mulai membereskan dapur lebih dulu.

Ares membereskan semuanya tanpa banyak bicara, tanpa protes meskipun sebenarnya tubuhnya butuh istirahat. Ares beberapa hari ini bahkan tidak bisa beristirahat dengan benar, siang dia harus membereskan kekacauan di rumah karena ulah Rion dan Hadar, sedangkan sore Ares harus berkutat dengan tugas-tugasnya. Malam? Jangan ditanya, Ares tidak akan pernah bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk sejak sang bunda meninggal.

"Bang Ares sibuk?" Ares menoleh dan menggeleng saat menemukan Igel tengah menatap nya.

"Ada apa?" bagaimana pun sikap mereka pada Ares, Ares tetap tidak bisa mengabaikan anak-anak ayahnya itu.

"Bisa bantu gue ngerjain tugas seni?" Ares mengangguk, dia tidak pernah ada masalah dengan Igel, karena pemuda itu sendiri tidak pernah mengganggu Ares.

"Bisa, tunggu sebentar, saya selesaikan ini dulu." Igel mengangguk dan memilih duduk di meja makan, menatap punggung Ares yang tengah sibuk mencuci piring.

"Lo baru pulang?"Igel yang baru saja melihat tas Ares di atas meja memutuskan bertanya.

"Iya, Alta di kamarnya kalau kamu mau tanya." Igel hanya mengangguk.

"Gue tau bang, gue udah ketemu mas Alta tadi."
.
.
.
.
.
Ares memperhatikan Igel yang tengah menggores pensil di buku gambarnya, pemuda itu meminta bantuan tentang sketsa pada Ares.

Igel ingat jika Alden pernah mengatakan jika Ares membeli buku sketsa waktu itu, jadi kemungkinan Ares bisa menggambar sangat besar.

"Bang, coba lihat. Cukup gini?" Ares melihat gambaran Igel yang baru saja pemuda itu tunjukan padanya.

"Bagus, cuma coba lebih tegasin garis yang ini." Ares menunjuk salah satu sisi dan membuat Igel mengangguk.

"Gini?" Igel kembali menunjukan gambar nya pada Ares.

"Iya bagus, kamu mau masuk seni besok?" Igel menggeleng.

"Gue pingin masuk teknik bang." Ares mengangguk dan mengulas senyum.

"Pasti masuk, belajar yang rajin." Igel tersenyum tipis.

Kruyukkk

Ares langsung menoleh pada Igel saat mendengar suara perut pemuda itu.

"kamu belum makan?" Igel menggeleng sambil tertawa canggung.

"Mau saya buatin makanan?" Igel yang mendengar itu langsung mengangguk antusias.

"Gue mau nasi goreng, boleh?" Ares mengangguk dan mulai beranjak untuk memasak nasi goreng.

Igel memperhatikan dengan seksama punggung Ares, terlihat kokoh namun sebenarnya rapuh. Tapi hanya orang-orang yang peka yang bisa tahu itu, Ares terlalu pandai menyembunyikan semuanya.

"Kamu kenapa?" Igel tersentak saat Ares sudah ada di hadapannya dan menyodorkan sepiring nasi goreng.

"Gak papa bang, kok banyak?" Igel bingung saat melihat dua piring nasi goreng.

"Buat Alta, dia juga belum makan. Bisa tolong kamu panggil dia? Saya mau ke belakang ngerjain tugas." Igel kembali mengangguk.

"Iya bang."
.
.
.
.
.
Ares sibuk menekan tuts-tuts piano miliknya, saat ini anak-anak ayahnya tengah makan malam di bawah. Ares tidak pernah lagi ikut makan bersama mereka sejak pengusiran Leo padanya dari ruang makan, Ares hanya akan memasakan mereka makan malam dengan di bantu Igel.

"Bang Igel, mau bekal nasi goreng yang kayak tadi siang dong buat besok." Igel menatap adiknya lekat, bukan hanya Rius, tapi juga Rion dan Hadar.

"Enak ya?" Rius, Rion dan Hadar mengangguk.

"Mau lagi?" lagi-lagi ketiga nya mengangguk.

"Minta sana ke bang Ares." kali ini Rion dan Hadar langsung menganga, berbeda dengan Rius yang hanya mengangguk kecil.

"Oh jadi yang masak bang Ares?" Igel hanya berdehem sebagai jawaban.

"Sekarang Ares dimana?" Alta menatap adik-adiknya penasaran.

"Di kamar nya mas, paling lagi main piano."
.
.
.
.
.
Alden memutuskan mengintip kedalam kamar Ares, hanya untuk memastikan Ares sudah tidur atau belum. Alden menghela nafas dan masuk ke dalam kamar Ares saat mengetahui kakak beda ibu nya itu tengah tertidur di atas ranjang, Alden segera meletakan roti coklat yang dia bawa juga susu ke atas meja belajar Ares.

"Berat ya bang hidup disini? Maafin kita ya." Alden bergumam saat melihat wajah tenang Ares.

"Selamat istirahat ya bang, maaf Alden belum bisa peduli terang-terangan. Alden takut Leo marah." setelah mengatakan itu Alden bergegas keluar dari kamar Ares.

"Gue tau kalau yang sering masuk ke kamar bang Ares itu lo kak." Alden terkejut saat menemukan Igel tengah berdiri di samping pintu.

"Kamu ini ngagetin aja!" Igel tersenyum.

"Istirahat kak, dan jangan terlalu sembunyi. Kalau lo peduli tunjukin, sebelum lo kehilangan sosok abang kayak bang Ares." ucapan Igel tentu saja membuat Alden terdiam. Bahkan pemuda itu hanya menatap punggung Igel yang telah menghilang di balik pintu kamarnya sendiri.

"Aku peduli Gel, tapi aku juga mikirin perasaan Leo. Sama kayak kamu yang mikirin perasaan Rion sama Hadar."
.
.
.
.
.
"Bunda..."

"Bunda...."

"Bunda...!!"

Ares membuka matanya saat mimpi buruk tentang kecelakaan sang bunda kembali menghantuinya, pemuda mungil itu segera mengambil obatnya saat merasakan nafasnya semakin berat.

"Hah...Hah...Hah..." Ares mengelus pelan dadanya, berharap nafasnya bisa sedikit lega saat dia melakukan itu.

"Bunda..." lagi-lagi yang bisa Ares sebut adalah sang bunda.

Ares kembali memejamkan matanya saat ingatan demi ingatan tentang kecelakaan sang bunda kembali hadir, hari itu adalah hari yang buruk untuk Ares. Hari dimana dia kehilangan cahayanya, kehilangan penyemangat nya.

"Bun, Ares kangen." air mata kembali mengalir dari sudut mata Ares. Selalu seperti ini, jika dia mengingat tentang sang bunda.

"Pingin pulang, tapi Ares masih harus jagain anak-anak ayah bun." Ares mendekap sebuah foto yang baru saja di raih dari atas nakas.

"Bunda dulu pernah cerita kalau bunda sayang sama ayah, bahkan meskipun harus disakiti bunda masih tetap sayang sama ayah."

"Bun, Langit yang selama ini bunda ceritain ke Ares, udah punya banyak bintang. Dan Antares salah satu nya, tapi sayang nya Antares sebentar lagi akan jadi supernova, menghilang. Antares yakin bahkan saat Antares menghilang, Langit tidak akan pernah kehilangan karena Langit punya banyak bintang yang sangat berharga di banding Antares."

Ares melirik ke arah jam di layar ponselnya, masih pukul 1 malam dan dia tidak akan bisa tidur lagi.

Ares memutuskan keluar di balkon kamarnya, kondisi lampu rumah yang mati membuat Ares bisa leluasa melihat bintang. Ares suka melihat bintang karena sang bunda pun juga suka melakukannya, tapi langit Jakarta tidak bersahabat untuk menatap bintang dengan mata telanjang.

"Harusnya aku bawa teleskop yang di rumah."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Selamat siang...
Baca komen kalian bikin mood aku naik...
Dan karena vote nya udah lebih dari 20, jadi aku up lagi nih...
Aku punya sepuluh draft kayaknya...
Mau di up semua?
Untuk mengisi hari minggu kalian...

Selamat membaca dan semoga suka...

See ya...

-Moon-

Constellation (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang