.
.
.
.
.
Ares baru bisa masuk kedalam rumah saat pukul lima pagi, saat Leo membuka pintu depan. Ares hanya tidur selama satu jam dan terbangun setelah nya karena hujan, pemuda mungil itu bertahan dengan hawa dingin yang sebenarnya adalah musuh terbesarnya.
Ares memutuskan masuk ke dalam kamarnya setelah selesai memasak, hari ini ada kelas pagi dan dia juga harus bekerja siang, sepulang kuliah.
"Dingin." Ares begidik saat angin bertiup lewat pintu balkon yang terbuka. Ares bersyukur karena semalam tidak ada yang tidur di kamarnya.
Tes
"Ck." Ares langsung menutup hidung nya dan pergi ke kamar mandi saat mengetahui jika dirinya tengah mimisan.
"Jangan sekarang, aku gak punya obat." Ares mencengkeram pinggiran westafel saat merasakan kepalanya seperti di tusuk jarum.
"Ugh..." Ares memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya.
"Hah...hah...hah..."
Ares keluar dari kamar mandi dengan tertatih, pemuda itu memilih merebahkan tubuhnya di ranjang sebentar.
Tok
Tok
Tok
Cklek
"Bang Ares?" Ares membuka matanya dan menemukan Rion sudah berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Abang semalem pulang kerja jam berapa?" Ares mengernyit, dan sadar jika kemarin dia mengatakan pada Rion bahwa dia bekerja.
"Jam sebelas, kenapa?" Rion menggeleng.
"Nanti abang kerja lagi?" Ares mengangguk.
"Abang kerja dimana? Boleh nanti gue jemput?" Ares hanya mengangguk ringan.
"Di cafe Aurora, ya, sana kamu sekolah dulu." Rion tersenyum.
"Bang Ares nanti pulang jam sebelas lagi?" kali ini Ares menggeleng.
"Jam tiga." mendengar itu Rion semakin sumringah.
"Oke nanti gue jemput jam tiga, sekarang ayo sarapan dulu bang." Ares menolak ajakan Rion kali ini.
"Saya mau tidur lagi sebentar, saya ngantuk." Rion merengut.
"Ya udah, nanti biar gue bilang ke mas Alta buat sisihin punya abang."
.
.
.
.
.
Ares tetap memaksakan dirinya bekerja meskipun sebenarnya dia bisa tumbang kapan saja. Bertahun-tahun merasakan sakit membuat Ares selalu punya cara untuk menutupi wajah pucat nya.
Ares mungkin bisa menutupi kesakitannya dari orang lain, namun dia tidak bisa menutupi itu dari dirinya sendiri. Beberapa kali Ares ijin ke toilet karena dia kembali mimisan.
"Res, lo yakin baik-baik aja?" Area yang baru saja keluar dari kamar mandi mengangguk saat di tegur oleh Tian.
"Gak apa mas." Tian menatap Ares tidak percaya.
"Lo bohong, sekarang jujur sama gue, lo kenapa?" Ares menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab.
"Mules mas, mungkin saya salah makan tadi pagi." Tian menghela nafas panjang, kemudian melihat jam tangannya.
"Kalau gitu kamu siap-siap pulang aja, besok sama lusa libur. Saya kasih kamu waktu istirahat, ngerti Ares?" Ares hanya bisa mengangguk, menuruti perintah manager cafe Aurora.
"Sana sekarang ganti baju, terus pulang. Istirahat." Ares dan Tian menoleh, mereka menemukan Mino tengah berdiri bersandar pada dinding.
"Mas Mino." Mino tersenyum.
"Sana Res, ini udah jam tiga. Di luar juga ada anak yang nyariin kamu." Ares mengernyit tapi kemudian ingat jika Rion mengatakan ingin menjemput nya.
"Kalau gitu saya pulang dulu ya mas." Mino dan Tian mengangguk.
"Ingat istirahat Res!"
.
.
.
.
.
Ares menghela nafas panjang saat melihat Alta ikut di mobil Rion, sepertinya setelah ini dia harus menyiapkan banyak jawaban.
"Maaf bang, mas Alta tadi maksa ikut." Ares hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
"Langsung pulang Yon, dan kamu Res aku mau denger penjelasan kamu."
Ares memejamkan matanya saat mendengar ucapan Alta, Ares bingung, memang nya ada yang salah dengan dia yang bekerja part time.
"Bang Ares, lo gak papa?" Alta yang mendengar pertanyaan Rion langsung menoleh kebelakang, Alta bisa melihat wajah pucat Ares.
"Saya gak apa." tapi Alta yang tidak percaya langsung meminta Rion menepikan mobilnya.
"Minggir Yon, mas mau pindah ke belakang." Rion menurut, dari pada dia kena semprot Alta.
"Kamu sakit?" Alta jelas terlihat khawatir saat merasakan tangan Area dingin. Pemuda tinggi itu sudah pindah ke belakang dan menggenggam tangan Ares.
"Saya gak apa Ta, cuma sedikit pusing." tapi Alta terlanjur khawatir, bahkan pemuda itu meminta Rion untuk lebih cepat.
"Aku mau kamu istirahat nanti!"
.
.
.
.
.
Ares mengepalkan tangannya saat merasakan pandangannya berbayang, pemuda mungil itu menumpuhkan tangannya pada dinding dan berusaha masyk ke kamarnya.
Alta sedang berada di dapur untuk membuat bubur katanya, sedangkan Rion akan menjemput Igel yang baru saja selesai kerja kelompok.
Cklek
Bruk
Ares menyandarkan punggung nya pada pintu kamarnya, kepalanya terasa sangat sakit dan dada nya kembali terasa sesak. Ares berusaha mendekati nakas, dia ingat sengaja menyisakan dua butir obat untuk keadaan darurat seperti ini.
"Hah...Hah...Hah..."
"Eungh...S-sakit..." Ares mencari tabung obat di nakasnya tapi tidak ada.
Bruk
"B-bun-da...hah...hah..." Ares mencengkeram dadanya saat merasa bahwa paru-parunya kembali berulah. Pemuda itu kesulitan bernafas.
"Bun-da...Ma-af..."
.
.
.
.
.
Igel ikut panik saat Rion mengatakan jika Ares sakit, terbukti Igel langsung berlari naik ke lantai dua begitu masuk kedalam rumah. Rion mengikuti di belakang nya, hingga membuat Alta yang baru saja selesai membuat bubur menggelengkan kepalanya.
"MAS ALTA HUBUNGI DOKTER NOE!" Alta terkejut mendengar teriakan Igel dari lantai dua, di susul Rion yang baru-buru turun ke lantai bawah.
"Ada apa Yon?" Rion terlihat panik dan itu membuat Alta ikut khawatir.
"Bang Ares pingsan mas, badannya dingin banget." Alta terkejut mendengar penjelasan Rion. Pemuda tinggi itu segera naik ke lantai dua untuk melihat keadaan Ares.
"Igel?" Igel menoleh saat mendengar suara Alta.
"Mas Alta, bang Ares..." Alta mendekat dan ikut memeriksa keadaan Ares. Bisa Alta lihat jika nafas Ares sangat berat.
"Mas hubungi dokter Noe dulu, kamu tunggu sebentar." Igel mengangguk dan kembali menggenggam tangan Ares yang dingin.
"Abang ayo bangun, jangan buat gue takut." Igel.Menggosokan tangannya pada tangan Ares, berharap tangan kakak nya itu akan sedikit hangat.
"Abang, Rion sama Rius baru mulai nerima abang loh, ayo bangun." Igel hanya bisa bergumam lirih.
Sejak malam dimana Igel menemukan Ares gelisah dalam tidurnya, pemuda itu lebih sering memperhatikan Ares saat tidur. Seperti saat ini, Igel memijat tangan Ares, bahkan meletakan tangan Ares pada dadanya. Agar Ares bisa mengikuti pola nafasnya yang normal.
"Bang, gue tau lo kangen sama bunda lo. Tapi please jangan sekarang, lo baru aja masuk ke keluarga kita. Bilang ke bunda lo kalau gue sayang sama lo." Igel kembali bergeser, bersiap melepas tangan Ares yang dia genggam.
"Mas, dokter Noe masih lama ya?" Igel menatap Alta lekat.
"Sebentar lagi Gel, sabar. Kamu gosok terus tangan Ares biar hangat."
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
Ayo lanjut...
Enaknya Leo diapain ya?
Selamat membaca dan semoga suka...
See ya...
-Moon-
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
FanfictionAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
